Awan Kumulus
Awan Kumulus Pegawai Swasta

efab22@yahoo.com 089657471513

Selanjutnya

Tutup

Bola headline

Adakah Aturan yang Membenarkan Suporter Duduk di Atap Mobil?

12 Agustus 2017   20:41 Diperbarui: 13 Agustus 2017   08:52 305 5 2
Adakah Aturan yang Membenarkan Suporter Duduk di Atap Mobil?
Ilustrasi suporter sepak bola naik di atap bus| Sumber: http://jurnalpatrolinews.com

Sepulang dari Nangkring Kompasiana dengan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), saya mampir ke outlet KFC yang lokasinya tak jauh dari tempat tinggal saya, berencana untuk menikmati makan malam dengan menggunakan voucher KFC yang saya dapatkan dari menang kuis dari kerjasama Kompasiana dan KFC. Tak lama, suara tabuhan drum samar terdengar. Betul, ternyata itu adalah drum yang dipukul berulang-ulang. Suara tersebut semakin dekat dan semakin jelas terdengar.

Lebih mirip disebut konvoi karena jumlahnya tidaklah sedikit. Dari arah yang berlawanan, tampak dua unit metromini dengan atap kendaraan yang dipenuhi laki-laki. Sebagian dari mereka menabung drum, sebagian bernyanyi, sebagian menari-nari berdiri di atas atap metromini tersebut. Di sisi kiri kanannya terdapat tulisan yang menunjukkan bahwa metromini tersebut berisi supporter bola dari kelompok tertentu. Ohhhhh....

Tak lama berselang, suara yang sama kembali terdengar. Kali ini lebih ramai. Ada sekitar 3 metromini, 2 truk terbuka, dan ada beberapa angkot, tidak lupa motor-motor berseliweran dengan bendera tim mereka yang lebarnya bisa dibilang lumayan. Lumayan untuk mengganggu pandangan pengendara di belakangnya.

Meski di dalam kendaraan tersebut sebenarnya tidaklah penuh, supporter-supporter ini lebih memilih untuk duduk di atap kendaraan. Mungkin lebih seru? Mungkin lebih banyak anginnya? Atau apa? Saya tidak tahu apa yang mereka cari. Jika dengan tindakan ini mereka berharap timnya lebih dihormati, mereka gagal! Karena saya benar-benar illfeel ngeliatnya, engga tau orang lain. Jika mereka ingin mengumumkan bahwa timnya sedang, akan atau telah usai bertarung, saya engga peduli! Saya males lihat supporternya! Bodo!

Memberi sedikit perhatian, ternyata mereka yang ada di atap kendaraan lebih banyak anak remaja. saya kira semuanya laki-laki yang di atas, ternyata ada juga anak perempuan! Yassalam! Selfie pula mereka di atas kendaraan itu. Makkk. Mati lah aku nengoknya, betul! Kalau adekku itu, engga akan dia tahu lagi gimana hangatnya rumah sampai seminggu. Mamakku galak! 

Remaja-remaja ini ada dalam kondisi diri yang labil. Yang dengan suka hati mau melakukan apa saja demi eksistensi semata. Kalau kata orang Batak, banyak sipanggaronnya. Kata sipanggaron ini sendiri sulit diartikan dalam bahasa Indonesia, karena tidak ada kata yang tepat untuk mengartikannya. Hal yang tidak perlu dilakukanpun dilakukan untuk mendapatkan perhatian orang lain. Itu kira-kira maknanya dalam bahasa Indonesia, tapi tentu saja makna kata sipanggaron ini lebih menohok.

Tahu tidak, Polisi sebenarnya memberlakukan larangan, lho terhadap bukan hanya kepada supporter bola yang duduk di kap mobil, namun berlaku untuk semua pengguna jalan raya. Ini diungkapkan langsung oleh petugas Traffic Management Center (TMC) Polda Metro Jaya, Aiptu Muhammad "Kami imbau kepada suporter agar jangan naik ke atap mobil pribadi atau pun kendaraan umum, karena berbahaya" ujarnya kepada detikcom, Senin (9/1/2011). (Sumber: ini)

Berita di atas terbit tahun 2011, dan sekarang sudah tahun 2017. Sudah 6 tahun berlalu dan hal yang sama masih terjadi? Peraturannya berlaku tidak? Berlaku ya, untuk yang menaati. Tidak berlaku untuk yang beranggapan bahwa aturan ada untuk dilanggar.

Apa yang menyebabkan hal yang sama masih saja terjadi? Apakah polisi tidak menindak tegas? Atau memang hal yang seperti ini sudah dimaklumi keberadaannya?

Ya iya sih, supporter. Ya iya sih, mendukung tim kesayangan. Tapi jika untuk itu malah membahayakan diri sendiri, siapa yang akan disalahkan? Siapa yang akan bertanggung jawab jika terjadi hal yang tidak diinginkan? Sekali lagi, mereka bukan hanya duduk diam lho, di atas, tapi mereka nari-nari. Dan jumlah mereka yang berada di ataspun bukanlah sedikit. Ini orang tuanya pada tau tidak ya?

Jika saat menari kakinya keseleo, jatuh, lalu kelindas oleh kendaraan mobil di belakangnya, bagaimana? Atau sesama mereka bercandaan di atap kendaraan, dorong-dorongan sembari tertawa-tawa tanpa memperhatikan posisi lalu kemudian terjatuh, bagaimana? Ada banyak kemungkinan hal yang bisa saja terjadi di atas sana yang membahayakan diri mereka.

Apakah mereka punya koordinator? Jika punya, siapkah sang koordinator untuk disalahkan jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan? Beruntung saat melewati jalan di depan outlet tersebut, tidak terjadi kericuhan yang berujung pada terganggunya lalu lintas.

For your information ya, teman-teman supporter, saya dulu tumbuhnya di desa. di kampuuuunnngg sekali. Namanya desa Panombeian, tempat dimana harga pupuk selalu mencekik petani. Dulu, anak-anak di desa saya mau berangkat dan pulang sekolah, harus bela-belain naik kap kendaraan itu karena KENDARAAN KE DESA SANGAT TERBATAS. 

Demi bisa ke sekolah, kami sepakat, anak-anak perempuan duduk di dalam, anak-anak lelaki ke atas, yang penting semuanya bisa sekolah. Dan ini yang bikin saya trauma sampai sekarang. Kenapa? Salah satu teman saya tidak sengaja terjatuh dari atas atap mobil karena terpeleset dan kepalanya pecah. Meninggal saat itu juga. Kami yang melihatnya terjatuh hanya bisa jejeritan tanpa bisa berbuat apa-apa. 

Teman-teman perlu tau ini agar selalu ingat bagaimana bahayanya berada di atas sana. Kalian itu dimodali kendaraan banyak, nyaman, enak, malah lomba-lomba duduk di kap. Kampungan! Orang kampung melakukan hal itu untuk sekolah, mencari pendidikan, bukan untuk gaya-gayaan meski sebenarnya tidak bisa dibenarkan.

Ah, jika ternyata tidak ada larangan tertulis untuk hal seperti di atas, jika kelak saya punya anak lelaki yang menyukai dunia sepak bola dan ingin menonton secara langsung pertandingan, biar nanti mamaknya saja yang antar!


Bekasi, 12 Agustus 2017.

Awan Kumulus