Mohon tunggu...
Edy Supriatna Syafei
Edy Supriatna Syafei Mohon Tunggu... Jurnalis - Penulis

Tukang Tulis

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Cerpen | Nangkap Tuyul Nggak Susah

13 September 2017   22:25 Diperbarui: 17 September 2017   00:15 1774
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi, tuyul tengah membawa diut hasil copetan. Foto | Okezone.

Sudah dua malam Empok Imah tidurnya selalu terganggu. Bukan karena bisnis di negara ini tengah lesu, bukan juga lagi cekcok "tegang" dengan Bang Amin, suami tercintanya. Namun ia tengah mengalami kesulitan menjawab pertanyaan Surya, anak semata wayangnya, tentang seputar mahluk yang bernama tuyul.

Empok Imah memang pernah dengar tentang mahluk halus ketika belajar di Pondok Pesantren. Ia mendapat penjelasan dari para guru ngajinya tentang mahluk halus, termasuk setan dan jin iprit yang mengganggu banyak orang sehingga malas beribadah.

Tetapi untuk menjelaskan tentang tuyul kepada anak kecil dan masih bau kencur harus dilakukan dengan cara-cara yang bijak.

Apa lagi yang harus dijelaskan itu menyangkut mahluk halus, nggak bisa dilihat menggunakan mata dan dipegang. Tentang hal ini Empok Imah sadar betul, mengingat lagi celoteh Surya yang baru beranjak pandai bicara di usia 5 tahunan itu harus dilakukan dengan tepat. Anak seusia sebegitu adalah usia emas, apa yang didengar dan dilihat sangat cepat direkam dalam ingatannya.

Beberapa hari sebelumnya si bocah Surya bertanya kepada Empok Imah tentang tuhan. Ibu beranak satu ini merasa kaget tiba-tiba anaknya yang masih ingusan itu mengajukan pertanyaan demikian.

"Bunda, tuhan itu ada dimana?" tanya Surya ketika tengah bermain di halaman rumah.

"Ya, ada. Nanti ya, bunda jelaskan!" janji Empok Imah sambil meninggalkan Surya masuk ke dalam rumah dan membiarkannya bermain sepeda seorang diri.

Melengosnya Mpok Imah dan kemudian masuk ke dalam rumah sesungguhnya untuk mencari akal dan memikirkan bagaimana baiknya agar penjelasannya dapat diterima dengan baik oleh anaknya itu.

Pikiran Empok Imah pun berjalan. Di belakang rumah, ruang dapur, ia berfikir bahwa tuhan harus disebut berada di atas. "Sebut aja ada di langit," katanya dalam hati.

Sebab, pikir Empok Imah dalam hati, jika disebut ada di atas nanti jika Surya berdoa tentu talapak tangannya harus menengadah ke atas.

Sayangnya, jawaban itu belum disampaikan kepada anaknya, Surya sudah berlari kencang ke dapur. Ia menjumpai bundanya. Bocah cilik itu tiba-tiba bertanya kepada tentang tuyul.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun