Fiksiana highlight

Cerpen | Nangkap Tuyul Nggak Susah

13 September 2017   22:25 Diperbarui: 14 September 2017   05:33 826 10 6
Cerpen | Nangkap Tuyul Nggak Susah
Ilustrasi, tuyul tengah membawa diut hasil copetan. Foto | Okezone.

Sudah dua malam Empok Imah tidurnya selalu terganggu. Bukan karena bisnis di negara ini tengah lesu, bukan juga lagi cekcok "tegang" dengan Bang Amin, suami tercintanya. Namun ia tengah mengalami kesulitan menjawab pertanyaan Surya, anak semata wayangnya, tentang seputar mahluk yang bernama tuyul.

Empok Imah memang pernah dengar tentang mahluk halus ketika belajar di Pondok Pesantren. Ia mendapat penjelasan dari para guru ngajinya tentang mahluk halus, termasuk setan dan jin iprit yang mengganggu banyak orang sehingga malas beribadah.

Tetapi untuk menjelaskan tentang tuyul kepada anak kecil dan masih bau kencur harus dilakukan dengan cara-cara yang bijak.

Apa lagi yang harus dijelaskan itu menyangkut mahluk halus, nggak bisa dilihat menggunakan mata dan dipegang. Tentang hal ini Empok Imah sadar betul, mengingat lagi celoteh Surya yang baru beranjak pandai bicara di usia 5 tahunan itu harus dilakukan dengan tepat. Anak seusia sebegitu adalah usia emas, apa yang didengar dan dilihat sangat cepat direkam dalam ingatannya.

Beberapa hari sebelumnya si bocah Surya bertanya kepada Empok Imah tentang tuhan. Ibu beranak satu ini merasa kaget tiba-tiba anaknya yang masih ingusan itu mengajukan pertanyaan demikian.

"Bunda, tuhan itu ada dimana?" tanya Surya ketika tengah bermain di halaman rumah.

"Ya, ada. Nanti ya, bunda jelaskan!" janji Empok Imah sambil meninggalkan Surya masuk ke dalam rumah dan membiarkannya bermain sepeda seorang diri.

Melengosnya Mpok Imah dan kemudian masuk ke dalam rumah sesungguhnya untuk mencari akal dan memikirkan bagaimana baiknya agar penjelasannya dapat diterima dengan baik oleh anaknya itu.

Pikiran Empok Imah pun berjalan. Di belakang rumah, ruang dapur, ia berfikir bahwa tuhan harus disebut berada di atas. "Sebut aja ada di langit," katanya dalam hati.

Sebab, pikir Empok Imah dalam hati, jika disebut ada di atas nanti jika Surya berdoa tentu talapak tangannya harus menengadah ke atas.

Sayangnya, jawaban itu belum disampaikan kepada anaknya, Surya sudah berlari kencang ke dapur. Ia menjumpai bundanya. Bocah cilik itu tiba-tiba bertanya kepada tentang tuyul.

"Bunda, kalau tuyul itu dimana?" tanya Surya.

Empok Imah kaget. Ia diam berdiri. Melonggo. Belum mampu menjawab tentang keberadaan tuhan, sekarang ditanya lagi tentang tuyul.

"Huuu," keluh Mpok Imah sambil mengelus kepala Surya yang mungil.

***

Hari Sabtu bagi Empok Imah adalah momentum terbaik baginya untuk mendekatkan diri kepada anaknya, Surya. Ia tak mengajar di sekolah, sementara Bang Amin suaminya yang menjadi karyawan swasta juga libur.

Karena itu pasangan suami-isteri ini bersepakat untuk menjelaskan tentang kehadiran tuyul dan tuhan, mahluk yang dimata bocah usia dini itu dianggap asing, tak bisa dilihat namun nyata ada di permukaan bumi ini.

"Abang aja yang jelasin," kata Imah kepada suaminya sambil merajuk.

"Kamu sajalah. Ibu kan biasanya paling dekat dengan anak," kata Amin sambil mengelak.

Empok Imah setuju, tetapi suaminya diminta untuk ikut mendengarkan dan memperkuat argumentasinya jika kemudian anaknya, Surya, gencar melancarkan pertanyaan berikutnya.

Sabtu pagi yang cerah. Amin pun meluangkan waktu untuk lebih banyak dekat dengan isterinya. Ia pun mengorbankan hobi, tidak menonton acara tinju yang biasa ditayangkan televisi pada saat itu.

Surya pun lebih banyak bermain di dalam rumah. Ia gemar menggambar. Momentum itu kemudian dimanfaatkan Empok Imah untuk menjelaskan pertanyaan anak semata wayangnya itu seputar mahluk yang tak dapat dilihat mata telanjang.

"Nak, Surya dengar dari mana tentang tuyul?" tanya Empok Imah.

"Kata Bang Sandi," jawab Surya singkat.

Sandi adalah tetangga sebelah yang usianya lebih tua, sekitar 10 tahun.

"Kata Bang Sandi, jangan bawa duit banyak kalo jalan-jalan. Di sana, jalanan, ada tuyul," sambung cerita Surya.

"Kalo soal tuhan. Surya dengar dari siapa?" tanya Empok Imah bersemangat.

"Tuhan, kata Bang Sandi, ada di atas. Dekat langit," jawab Surya lagi sambil memainkan pinsil warna dengan santai.

Imah kini sadar bahwa puteranya itu sudah mendapat informasi seputar tentang mahluk halus. Termasuk tentang tuhan, yang oleh dirinya sering disebut-sebut dan didengar anaknya, yaitu Allah.

Ia pun memuji kecerdasan Surya yang demikian cepat merekam segala ucapan dari orang sekitar, termasuk dari Sandi, tetangganya itu.

***

Lantas, tentang tuyul bagaimana menjelaskannya?

"Nak, tuyul itu mahluk ciptaan tuhan. Ciptaan Allah juga. Sama seperti manusia, seperti Surya. Hanya saja, tuyul bentuknya kecil, kaya' bayi dengan kepala dan mulut besar," kata Empok Imah dengan suara lembut dan tutur kata dilambat-lambatkan agar terekam dalam ingatan anaknya.

"Tuyul itu sama seperti setan, tidak nampak," lanjut Empok Imah.

Surya menatap wajah ibu dan bapaknya. Bang Amin hanya melempar senyum kepada anaknya itu. Lantas, menyaksikan ayahnya nampak gembira, Surya pun mulai terlihat manja. Ia melepaskan pinsil warna dan coretan-coretan tak keruaan di atas lembaran kertas.

"Kata Bang Sandi, tuyul itu sering nyopet duit orang. Surya takut deh," kata Surya sambil mendekat Bang Amin. Ia pun kemudian dipeluk dan kepalanya diusap-usap sambil didoakan agar kelak menjadi orang "gede".

"Kenapa tuyul susah ditangkap, yah?" tanya Surya sambil bersandar ke badan ayahya.

"Tuyul itu nggak kelihatan. Tapi ada dimana-mana. Di kantor, pasar, juga di masjid ngambil duit di kotak amal," kata Surya lagi.

***

Empok Imah dan Bang Amin saling pandang. Pasangan suami-isteri ini tak menyangka puteranya melontarkan cerita seperti itu. Padahal Surya jarang bermain di luar rumah. Apa lagi berkomunikasi dengan para tetangga usia dewasa. Namun ia memang sering dibawa ke masjid terdekat bersama Bang Amin untuk shalat magrib.

Untuk memuaskan hati puteranya itu, lantas sang ayah, Bang Amin mengambil peran menggantikan isterinya menjelaskan tentang tuyul.

"Nak, betul tuyul tak nampak. Nggak kelihatan dengan mata. Tapi, yang namanya mahluk jahat pasti bisa dimusnahkan," kata Amin.

Surya pun memandangi wajah ayahnya. Serius. Amin melanjutkan penjelasannya. Nangkap tuyul itu harus dipancing, sama seperti dengan ikan yang ada di laut luas.

Belum selesai Amin memberi penjelasan, anaknya memotong pembicaraan.

"Pancingnya dengan apa? Nggak kelihatan kok dipancing?" Surya tiba-tiba mengajukan pertanyaan dengan cerdas.

"Dengan belut," jawab Bang Amin spontan. Jawaban Amin itu memancing pertanyaan isterinya.

"Kok abang jawabannya ngawur, belut itu jijik dan licin," kata Empok Imah.

"Tapi, dagingnya enak!" jawab Bang Amin menimpali isterinya.

Tuyul ada dimana pun, biar lagi di gedung bertingkat, di masjid sekalipun, kalau melihat belut pasti senang. Masukan ke dalam ember 10 ekor belut malem hari, pasti tuyul beralih perhatiannya dari perintah tuannya dan lebih tertarik main dengan belut. Kalau tuyulnya sedang main, tinggal tangkap.

"Yang nangkap, ya harus orang pinter," kata Bang Amin.

Penjelasan Bang Amin ini makin membingungkan Empok Imah dan anaknya, Surya. Namun bukan bagi Bang Amin. Sebab, ternyata, gampang toh menangkap tuyul. Asal pintar orangnya.