HIGHLIGHT

Kompasiana

26 November 2011 16:33:35 Dibaca :

Kompasiana Cerpen : Edy Priyatna

Seperti biasanya setelah kupulang kuliah, aku main-main ke TIM (Taman Ismail Marzuki) membantu temanku membersihkan alat-alat lukisannya. Memang aku selalu membantunya. Apalagi dalam waktu dekat ini dia akan mengikuti pameran. Jadi ia tidak begitu repot bila aku membantunya. Lagi pula daripada iseng di rumah kan lebih baik cari pengalaman di luar. Siapa tahu aku bisa jadi seniman terkenal! Lumayan, asal jangan jadi senewen saja!

Sore itu ketika sedang asyik-asyiknya mengaduk cat tiba-tiba aku tertarik dengan seorang gadis, kira-kira baru berumur duapuluhan, bertubuh langsing agak pendek sedang duduk disudut dekat pintu masuk tempat latihan menari, sambil membaca sebuah surat kabar harian ibukota. Sejak tadi ia kulihat selalu memperhatikanku. Nampaknya ia sedang menunggu seseorang.Wajahnya cukup cantik menurut penilaianku. Aku tersenyum memandangnya. Lalu iapun ikut tersenyum “Ah! Suatu kesempatan yang baik,” kataku dalam hati. Perlahan-lahan kuhampiri dia. Tapi tiba-tiba saja jantungku terasa berdenyut lebih cepat. Hatiku berdebar manakala langkahku semakin dekat. Aku tidak mengerti mengapa tiba-tiba jadi begini. Ah! Entahlah!

“Mengganggu nih! Boleh saya pinjam korannya?” kataku mulai bersandiwara.

“O, silahkan. Saya senang bila anda mau menemani saya,” sahutnya lembut sambil menyodorkan korannya. Aku menerimanya dan langsung duduk disebelahnya.

“Oiya kenalan dulu saya Rizal,” kataku menyodorkan tangan.

“Ana”, ia menyambutnya. Oh, begitu lembutnya! Ingin rasanya kupegang lebih lama lagi.

“Nama yang indah…”

“Terima kasih…”

“Sedang menunggu yang menari ya?” tanyaku sambil membuka halaman koran tadi.

“Koq, tahu sih?”

“Ya tahu dong, biasanya bila ada yang duduk disini pasti deh, kalau nggak menjemput ya nungguin temannya,” kataku menjelaskan. Ana tersenyum. Manis sekali. Aku jadi gregetan melihatnya.

“Lho, mas Rizal disini juga sedang nunggu juga?” tanyanya sambil tersenyum.

“Iya.”

“Nungguin siapa?”

“Nungguin Ana kan!” sahutku. Dia tersenyum lagi. Sementara hatiku deg-degan nggak keruan.

“Ah, bisa saja mas Rizal. O,iya mas sekolah disini ya?” tanyanya kemudian.

“Nggak, aku sekolah di Rawamangun,” sahutku

“Lalu, disini sedang latihan?”

“Ah, nggak juga, cuma bantuin teman saja koq.”

“Wah rajin nih!” katanya memujiku. Aku Cuma tersenyum saja mendengarkannya.

“Ana tinggal dimana?” tanyaku setelah agak lama membisu.

“O, Ana tinggal di Palmerah,” sahutnya agak lemah.

“Jauh juga ya, boleh nggak aku main-main ke rumahmu?”

“Boleh. Kalau mas Rizal tinggal dimana?” dia balik bertanya.

“Aku sih dekat dari sini”, kataku sambil menunjuk arah yang kumaksud, “Di jalan Cikini 88.”

“Pantesan mainnya kesini, dekat sih.” Aku tertawa. Anapun ikut tertawa. Tak lama kamipun berdua sama-sama membisu. Aku membuka-buka halaman surat kabar. Ana membetulkan tasnya.

“O,iya Ana! Aku boleh nggak sih datang ke rumahmu?” tanyaku memecah kesunyian, “Soalnya nanti kalau aku datang malah nggak diterima deh!”

“Akh, boleh koq! Pokoknya kalau mas Rizal mau datang ke rumah, pasti deh aku terima dengan senang hati, tapi jangan dihina ya, rumah Ana kecil…”

“Ya nggak dong”.

“O,iya sebelumnya Ana minta maaf ya mas Rizal! Mas nggak usah deketin Ana deh, bukannya ngusir lho.”

“Lho! Memangnya kenapa?” tanyaku agak heran, “Sudah punya pacar ya? Jangan takut deh, aku nggak bakal mengganggu deh!”

“Ah, bukan itu maksud Ana. Kalau pacar sih nggak punya.”

“Habis kenapa?” tanyaku serius. Sementara hatiku masih saja deg-degan. Tetapi Ana diam saja tidak menjawab. Bersamaan dengan itu anak-anak yang belajar menari sejak siang tadi sudah mulai bubar.

“Wah, sudah bubaran tuh!” katanya sambil menunjuk anak-anak yang baru keluar, “Yuk, Ana pulang dulu ya, mas!”

“Lho, nanti dulu dong! Kan Ana belum menjawab pertanyaan aku tadi!” kataku penasaran.

“Sebenarnya begini……..”, belum sempat Ana meneruskan kata-katanya, tiba-tiba datanglah seorang anak kecil perempuan yang mukanya mirip Ana, berlarian menujunya.

“Mamah, mamah…..Fiksi haus mah, minta minum dong mah?” katanya sambil memegang tangan Ana. Aku baru mengerti sekarang, apa yang Ana maksudkan tadi. Aku jadi lemas rasanya.

“Eh, Fiksi. Kenalkan diri dulu sama Oom Rizal,” katanya sambil menyodorkan tangan anaknya. Mau nggak mau aku ikut menyambutnya.

“Siapa namanya?” tanyaku basa-basi.

“Fiksiana, Oom…,” jawab Fiksi.

Setelah memberi minum Fiksi, Ana bangkit dari duduknya dan pamit pulang. Aku mengantarnya sampai pintu gerbang TIM. Di depan pintu gerbang tersebut Ana berkata : “Mas kamu jadi nggak ke rumahku?” Aku hanya mengangguk lemah. Ana menyodorkan kartu namanya. Lalu ia menyetop taxi, merekapun naik ke mobil.

“Daag……..daag, Oom Rizal, daag…..!!!” Kulihat Fiksi melambaikan tangannya sebelum taxi itu menghilang dari mukaku. Anapun tersenyum. Aku membalasnya lemah. Hatiku yang tadinya deg-degan itu kini menjadi lemas.

Setelah mereka menghilang langsung kubaca kartu nama yang diberikan Ana tadi. Oh, namanya Kompasiana ! Tak kusangka kau secantik itu sudah dikaruniai seorang anak. Oh, Kompasiana…..Oh, Kompasiana. Hanya kata-kata itulah yang selalu kuingat, terkenang dihatiku sampai sekarang ini. Kompasiana……..-

(Pondok Petir, 25 Nopember 2011)

___________________________________________________

DESA RANGKAT menawarkan kesederhanaan cinta untuk anda, datang, bergabung dan berinteraksilah bersama kami (Klik logo kami)

Edy Priyatna

/edyp

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Pekerja swasta dibidang teknik sipil, tinggal di daerah Depok, sangat suka menulis...apalagi kalau banyak waktunya, lahir di Jakarta (1960), suka sekali memberikan komentar, suka jalan-jalan....jalan kaki lho, naik gunung, berlayar....dan suka sekali belajar
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
FOKUS TOPIK KOMPASIANAA

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?