Edrida Pulungan
Edrida Pulungan pegawai negeri

Inspiration lover, penulis buku antologi Pelangi jiwa, Founder Lentera Pustaka Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Selingan Hati

5 Juni 2017   10:52 Diperbarui: 5 Juni 2017   11:42 58 3 0
Selingan Hati
Sumber: www.kompasiana.com/edridapulungan


Aku sepertiga malam yang engkau sulam dalam diam. Sejak purnama di akhir tahun yang kau tunggu. 

Muncullah rembulan dengan senyum cerah lembayung merah. Akhirnya yang kau nanti datang juga. 

Kau cukup pejamkan mata seperti menerima pertanda. Memainkan peranmu sebagai arjuna

Aku membawa ombak ke lautanmu. Hanya sebentar saja. Namun engkau mampu

memindai seberkas sinar itu. Hingga memancarlah telaga bening dimatamu. Euforia


Sejak itu malam menjadi gaduh, ceria, penuh tawa juga renungan-renungan panjang

tentang kehidupan, kegagalan, pertemuan, kerinduan, kemarahan, kebaikan, keajaiban, senyuman, ompian, dan masa depan

Kuhamparkan permadani rindu yang harus kusulam hingga bentangannya sampai  pada pangkuanmu

Lalu kau berikan pelangi harapan dan kegembiraan yang meluaap-luap seperti ombak laut cina selatan

yang menjadi rebutan negara-negara ASEAN. Ah engkau sedang bertopeng dan bersandiwara. Masa lalu

mengurungmu dalam dendam yang remuk redam teruntukku.  Oh bukan aku, bukan aku yang harusnya kau tuju

Namun dirimu yang letih berburu. Kau tak pernah mau  mengalah. Selalu ingin jadi pemenang, penakluk dari barat.

Menjadi adidaya mengirim teka teki tentang kesepakatan, MOU, gentlement agreement.


Menjadi pongah karena engkau pengendali permainan. Hingga  akhirnya tersesat engkau oleh permaimananmu sendiri.

Keyakinan, ambisi, egomu bagaikan sepiring sup ayam yang lupa engkau panaskan. Semua sudah terlanjur dingin

Mari kita rayakan kejayaan masa lalu sayang. Saat  ombak bertamu kepantai dan laut menyaksikannya.

Semesta mencatat sejarah yang kau lupakan. Selamat pagi kekasih yang telah pergi tanpa catatan pinggir.  

Nikmatilah angin yang semilir. Tiada badai pagi ini. Dari selingan hatimu.