Analisis Prediksi Perekonomian Indonesia

18 Januari 2012 13:29:19 Dibaca :
Analisis Prediksi Perekonomian Indonesia

Awal tahun, waktu yang tepat untuk para analis menunjukkan kemampuan nya untuk meramalkan posisi perekonomian satu tahun kedepan. Dengan banyaknya faktor yang bisa mempengaruhi perekonomian secara langsung maupun tidak, analisa perekonomian menjadi tidak mudah dan kita akan mendapati berbagai versi analisa dari para ekonom. Patut dicermati terkait analisa perekonomian di awal tahun, karena akan menyangkut ekspektasi dari para stakeholder dalam perekonomian itu sendiri. Masing-masing stakeholder dengan kepentingan berbeda akan melakukan tindakan yang efektif di awal tahun, tentunya untuk mendapatkan keuntungan dan manfaat dari perekonomian.

Tak bisa dipungkiri bahwa masuknya kembali Indonesia ke dalam investment grade versi fitch rating menimbulkan dampak besar. Setelah terseok-seok selama lebih dari 10 tahun menghuni ‘papan bawah’ pandangan dari investor, diharapkan akan menjadi perangsang perekonomian untuk kedepannya. Mungkin tak lama lagi, lembaga pemeringkat lainnya seperti Moody’s atau Standard & Poors akan mengikuti jejak Fitch dalam menaikkan rating Indonesia agar lebih terpercaya. Itu baik, karena terdapat isu bahwa para Manager Investasi Internasional wajib menanamkan investasi di negara yang ‘berlevel’ investment grade.

Aliran dana masuk akan memberikan angin segar kepada Indonesia, peningkatan Investasi diharapkan akan memberi modal luas bagi lingkungan usaha sehingga menyerap para pekerja Indonesia. Selain itu, sisi makro Indonesia di tahun 2011 juga dirasa cukup baik. Ditandai dengan ketahanan ekonomi nasional ditengah gejolak ekonomi eropa dan politik di timur tengah. Selain itu, penurunan BI rate dan rendahnya inflasi diharapkan akan mendorong kredit usaha di tahun 2012.

Analis lain juga banyak memiliki pendapat yang kontra, mereka kurang optimis dalam menilai dan mengekspektasikan ekonomi Indonesia kedepan. Lagi-lagi berkaitan dengan Investment grade, kenaikan level Indonesia tidak akan berpengaruh besar pada perekonomian. Krisis utang eropa, menyebabkan para investor menilai bahwa ekonomi dunia yang sangat elastis terhadap permasalahan ini. Berlarut-larutnya penyelesaian akan membuat investor beralih pada investasi yang lebih aman. Untuk Indonesia, krisis tersebut sangat berhubungan dengan ekspor. Uni eropa merupakan mitra yang sangat besar untuk pasaran produk ekspor dari indoensia. Pelambatan ekspor akan terjadi lebih dalam di tahun 2012 karena terjadi berbagai pengetatan anggaran dari negara-negara Uni Erpoa.

Nilai rupiah di tahun 2012 akan diperkirakan mengalami penguatan, seperti yang terjadi pada tahun sebelumnya, sebenarnya dari awal tahun hingga kuartal 3, rupiah masih sangat kuat bahkan pernah menyentuh level 8500/ dollar. Namun, di akhir tahun ini, rupiah melemah. Masih percayanya para investor terhadap dollar diyakini memberikan dampak besar dari pelemahan rupiah. Beberapa analis berpendapat, di 2012 nilai rupiah akan menguat kembali.

Keberanian BI menurunkan suku bunga nya hingga 75 basis poin di tahun 2011, diharapkan akan meningkatkan kredit untuk usaha dan merangsang perekonomian. Tahun 2012, diperkirakan BI akan tetap menurunkan hingga 5,75%. Sebuah angka yang tidak pernah terjadi sepanjang sejarah Indonesia. Namun, keengganan perbankan untuk menurunkan SBDK masih menjadi masalah. Diawal tahun ini, perbankan besar nasional memang berbondong-bondong menurunkan SBDK, tapi hal tersebut masih dipandang sinis sebagian pengamat. Spread masih saja tinggi, perbankan diharapkan lebih efisien dalam operasionalnya. Terdapat pendapat lain yang mengatakan keengganan perbankan untuk menurunkan SBDK mereka menghambat overheating dalam perekonomian, karena tidak akan terjadi lonjakan pertumbuhan kredit.

Perbankan pun didorong untuk terus efisien. Ingat, kenaikan aliran dana asing akan memangkas keuntungan perbankan, namun itu bisa menjadi pemicu agar bank terus berbenah sehingga meingkatkan efisiensi perbankan dan mampu menurunkan SBDK sesuai harapan. Kebijakan baik di tahun ini, terkait dengan pengungkapan yang harus dilakukan oleh perbankan, yang mana mereka harus mengungkapkan SBDK masing-masing. Ini baik karena masyarakat juga bisa berperan untuk menekan perbankan dalam menurunkan suku bunga kreditnya.

Inflasi di 2012 akan melebihi inflasi di 2011. Prediksi bahwa akan terjadi kenaikan tarif dasar listrik dan kenaikan harga beras akibat banir Thailand akan menjadi pemicu kenaikan inflasi. Ini menjadi kontra terhadap prediksi penurunan BI rate menjadi 5,75 di 2012.

Hal yang menarik lainnya adalah program besar pemerintah dengan adanya MP3EI. Memang banyak sekali yang kontra terhadap program ini karena dianggap sebagai alat pencitraan pemerintah dan pemborosan. Bayangkan saja, 4000 triliun akan dikeluarkan. Pandangan positif pun tak kalah banyaknya, pertumbuhan ekonomi, penyerapan tenaga kerja, dan terbangunnya infrastruktur untuk pembangunan akan meningkat. Yah, semua akan tergantung pada pelaksanaan di lapangan. Apakah ini bisa menjadi giant leap pembangunan Indonesia. Namun, apakah akan menjadi sarang terciptanya korupsi? Tugas kita lah untuk mengawalnya.

Pro kontra mengenai proyeksi dan kebijakan yang akan diambil pemerintah kedepannya menarik untuk dicermati. Kita harus bisa mengawal isu-isu seputar ekonomi dan menjadi ‘anjing’ yang menyalak ketika terjadi penyelewengan. Untuk itu lah dibutuhkan pengetahuan dan bekal cukup mengenai perekonomian. Masyarakat harus lebih peka dan rajin membaca sehingga tidak dibodohi dan di ombang-ambing isu oleh para pengambil kebijakan dan pelaksana kebijakan. Pandangan optimis mengenai perekonomian jangan lah membuat kita menjadi terlena. Kewaspadaan harus tetap terjadi ditengah ketidakstabilan perekonomian global. Pandangan pesimis dari para ahli pun harus kita jadikan rujukan, namun tetap harus membaca situasi dan kondisi, sehingga tidak kehilangan peluang untuk berkembang dan berekspansi.

Mr Irfandi

/edoirfandi

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Pedagang
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?