HEADLINE HIGHLIGHT

Mbah Kakung, Laki-Laki Perkasa yang Masih Kuat Memulung

30 Mei 2012 21:19:02 Dibaca :
Mbah Kakung, Laki-Laki Perkasa yang Masih Kuat Memulung
Mbah Kakung yang tengah melintas di depan saya dengan gerobak tuanya

Siang kemarin lusa saya bertemu dengan sosok laki-laki perkasa. Kenapa saya bilang perkasa, karena diusianya yang tidak muda lagi yakni 78 tahun, bapak ini masih produktif bekerja. Disaat bapak-bapak lain yang seusia dengannya sudah mulai "duduk-duduk manis" sembari menikmati perkembangan cucu-cucunya, bapak yang satu ini masih giat bekerja.

Mbah Kakung, demikian saya memanggilnya. Seorang laki-laki tua yang tinggal seorang diri di Bontang, Kalimantan Timur nun jauh dari istri, anak, dan cucunya yang berada di Malang, Jawa Timur. Mbah Kakung juga tidak tahu, kenapa beliau sampai "nekad" merantau ke pulau Borneo ini. Yang jelas katanya semua dilakukan demi istri dan anak cucunya di Jawa.

Meninggalkan istri tercinta dan dua orang anak yang sebenarnya juga bukan anak kandung beserta cucu-cucunya di Malang menjadi pilihan hidup di tengah susahnya mencari "makan" di kampung halamannya sana. Karena tidak ada ketrampilan yang memadai ditunjang dengan usia tuanya, mbah kakung terpaksa memulung. Ya memulung adalah salah satu pekerjaan yang ia geluti di perantauan karena hanya memulunglah yang tidak membutuhkan ketrampilan khusus.

13383829962137982437
Bermodal gerobak tua ini, Mbah Kakung keliling kampung mencari barang bekas yang tak terpakai

"Umur kulo sampun pitung ndoso walu bu, kula lahiran tahun tigang ndoso sekawan, wonten KTP kulo tahune mekaten" (Umur saya sudah 78 tahun bu, saya kelahiran tahun 1934, ada di KTP saya begitu), ujarnya ketika saya tanya berapa umurnya. Dengan berbahasa Jawa halus, mbah kakung pun mulai bercerita. Tanpa perlu melihat KTP-nya pun saya sudah percaya dengan angka yang disebutkan oleh mbah kakung itu. Mbah kakung memang tampak tua sekali. Dibalik topi lusuhnya tampak rambutnya yang mulai memutih. Beberapa gigi depannya pun sudah mulai tanggal.

13383831311393514056
Mbah Kakung tengah beristirahat dibawah pohon yang rindang di belakang mesjid

"Yoga kulo kalih ning nggih namung pek-pekan, sak meniko kulo sampun gadah putu kalih. Sedoyo wonten Malang kaliyan semah kulo." (Anak saya dua orang tapi cuma anak angkat, sekarang saya sudah punya dua cucu. Semua ada di Malang bersama istri saya.) "Teng mriki nggih mung kiyambak, ngontrak teng mriku" (Disini ya cuman sendiri, kontrak disitu), kata mbah kakung sembari menunjuk ke suatu kampung di belakang komplek tempat tinggal saya ketika saya tanya beliau di kota ini tinggal dengan siapa.

"Wah mahal dong ngontraknya, mbah?" Saya pun tergelitik untuk menanyakan ini. Bukan tanpa alasan karena memang harga sewa rumah di kota saya ini lumayan mahal, apalagi untuk ukuran orang Jawa. Satu kamar saja sewanya bisa 500 ribu rupiah sebulan, apalagi kalo rumah utuh yang terdiri dari beberapa kamar bisa sampai 1,5-2 juta rupiah per bulan. Bagaimana mbah kakung mampu membayarnya melihat kerjanya mulung yang hasilnya tak begitu banyak setiap harinya.

"Mboten bu, kulo ngontrak namung mirah, setunggal latus mawon, ning nggih mboten ngangge lampu." (Tidak bu, saya ngontrak cuman murah, seratus ribu saja, tapi ya nggak pakai lisrik).

"Lha koq saged mirah, mbah?" (Lha koq bisa murah, mbah?),saya pun penasaran.

"Inggih mergi sami-sami engkang gadah griyo tiyang Jawi" (Iya karena sama-sama yang punya orang Jawa.) Beruntunglah Mbah Kakung bertemu sesama orang Jawa di perantauan ini, sehingga ia mau menyewakan rumahnya dengan harga murah. Meskipun tanpa penerangan listrik, toh Mbah Kakung bisa menambahkan sendiri lampu penerangan di rumah kontrakannya itu dengan lampu minyak tanah.

Pertemuan saya dengan Mbah Kakung bisa jadi tanpa disengaja. Saya yang kala itu tengah mengambil kendaraan saya sehabis belanja di suatu mini market di komplek, tiba-tiba melihat seorang laki-laki tua melintas di depan saya dengan menarik gerobak tuanya ditengah panas matahari yang lumayan menyengat. Begitu melihatnya saya langsung terkesima, takjub, sekaligus sedih. Entah naluri apa yang mendorong saya untuk segera mengabadikan moment itu dalam kamera saku yang selalu saya bawa di tas saya. Tak berhenti sampai disitu, saya terus mengawasi ke arah mana laki-laki tua itu membawa gerobaknya dan ternyata ia menuju kearah jalan setapak menuju ke salah satu kampung di belakang komplek saya tinggal.

Saya pun segera bergegas pulang menuju rumah berharap bisa bertatap muka langsung dengan pak tua yang selanjutnya saya panggil Mbah Kakung itu. Sebab di belakang rumah saya ada pagar yang memang sengaja bisa dibuka untuk akses keluar masuk orang yang tinggal di kampung belakang komplek. Ada beberapa ibu warga kampung ini yang bekerja sebagai buruh nyuci dan nyetrika di keluarga yang tinggal di komplek saya. Dengan adanya akses jalan itu, mereka tidak perlu lewat memutar komplek jika hendak bekerja. Nah lewat akses jalan itulah saya berharap bisa "mencegat" Mbah Kakung untuk sekedar mengobrol sembari memberikan beberapa barang bekas yang mungkin masih bisa bernilai bagi Mbah Kakung.

Dan benar saja, begitu saya sampai di pagar belakang rumah saya, dari kejauhan saya lihat Mbah Kakung tengah beristirahat di bawah pohon di belakang masjid. Segera saya datangi Mbah Kakung sambil membawa beberapa gelas minuman air mineral dan beberapa barang bekas yang mungkin bisa dimanfaatkan oleh Mbah Kakung. Melihat saya datang membawa barang bekas, Mbah Kakung langsung bangkit dari duduknya. Sambil tersenyum menunjukkan beberapa giginya yang sudah tanggal, Mbah Kakung menyambut dengan riang pemberian saya yang tak seberapa harganya. Dan begitulah akhirnya saya berkesempatan ngobrol bareng dengan Mbah kakung yang saya anggap sebagai sosok laki-laki perkasa.

Sambil menikmati air mineral pemberian saya, Mbah Kakung mulai bercerita. Mulai dari umurnya yang menurut saya sudah sangat tua. Tentang istri dan anak-anak angkatnya yang tinggal di Malang. Tentang susahnya mencari makan di Jawa sehingga ia harus meratau hingga ke Kalimantan ini. Tentang badannya yang juga mulai sakit-sakitan. Sedih saya mendengarnya. Saya pun paham dengan kondisi tubuhnya yang mulai sakit-sakitan itu. Bagaimana tdak mudah sakit jika dalam keadaan hujan sekalipun ia tetap keliling kampung untung mencari barang bekas. Capek itu sudah pasti, apalagi Mbah kakung hanya berjalan kaki. Tapi apa boleh buat hanya itulah yang mampu dilakukannya.

Berbeda dengan pemulung lainnya yang sering melintas di komplek, rata-rata mereka sudah membawa motor untuk menarik gerobaknya. Sementara Mbah kakung, sejak kedatangannya beberapa tahun yang lalu tetap saja berjalan kaki. Kalaupun bisa naik kendaraan roda dua, Mbah Kakung tak bakalan mampu membelinya karena sebagian besar penghasilannya dari memulung selalu dikirimkan ke istrinya yang tinggal di Malang sana. Sebagian kecil lainnya ia gunakan untuk membayar sewa rumah, makan sehari-hari dan menabung sedikit untuk ongkos pulang kampung setiap 1 atau 2 tahun sekali.

"Lha koq semahipun mboten dijak mriki sisan tho mbah, mangke nek kesel lak wonten ingkang mijeti?" (Lha koq istrinya tidak diajak kesini sekalian tho mbah, nanti kalo capek khan ada yang mijetin?)

"Lha kados pundi bu, teng mriki nopo-nopo larang. Mendingan wonten Jawi kemawon." (Lha bagaimana bu, disini apa-apa mahal. Mendingan di Jawa saja). Memang tidak bisa dipungkiri, harga-harga barang di kota saya ini tergolong mahal. Jangankan untuk barang, nasi rames sebungkus aja harganya sudah 10 ribu rupiah. Sementara di Jawa, harga segitu bisa untuk 2 atau tiga orang sekaligus. Makanya Mbah Kakung lebih memilih mengirimkan uangnya ke Jawa daripada memboyong istri dan anak-anaknya ke Kalimantan.

Meskipun begitu Mbah kakung senantiasa bersyukur karena sering bertemu dengan banyak orang baik setiap harinya. Tak jarang jika ia melintas di depan warung atau toko, pemilik warung menyuruhnya mengambil beberapa kardus bekas dagangan yang tak terpakai. Sesekali jika ia melintas di depan masjid sering pula ada jemaah yang memanggilnya sekedar untuk memberikan uang sedekah. Tapi jika tidak ada kardus bekas yang diberikan orang, Mbah Kakung tak segan-segan untuk mengorek-orek tempat sampah di depan rumah orang-orang komplek untuk mendapatkan barang bekas yang mungkin masih bisa dijual, misalnya botol-botol plastik atau perabot-perabot yang tak terpakai lagi. Untuk itulah pagi-pagi sekali sebelum pukul 7, Mbah kakung sudah mulai berkeliling di sekitar komplek agar tidak keduluan dengan truk sampah yang mulai beroperasi sekitar pukul 7 pagi.

Hasil memulung setiap hari itu selanjutnya ia kumpulkan dulu di rumahnya dan setelah terkumpul biasanya sudah ada orang yang akan mengambil dan membawanya ke pengepul. Tentu saja harga jualnya berbeda dengan kalau Mbah kakung setor langsung ke pengepulnya. Tapi buat Mbah kakung itu tak menjadikan soal daripada ia harus capek-capek setor langsung ke pengepul yang letaknya lumayan jauh dari tempat tinggalnya, dengan jalan kaki pula.

Ya begitulah kehidupan Mbah Kakung setiap harinya di perantauan ini. Saya sangat salut dan kagum dengan Mbah kakung yang dengan usianya yang tak muda lagi masih sanggup untuk menhidupi istri, anak-anak, dan cucu-cucunya. Satu pelajaran yang sangat berharga saya peroleh siang itu bahwasanya hidup itu tak boleh menyerah dan putus asa. Jika kita bersungguh-sungguh niscaya jalan akan terbuka lebar, meskipun dengan memulung sekalipun. Bagi Mbah Kakung, yang penting memulung jauh lebih mulia daripada mengemis.

Edi Kusumawati

/edikusumawati

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Ibu dari dua orang putra yang bangga dengan profesinya sebagai ibu rumah tangga. Tulisan yang lain dapat disimak di http://edikusumawati.blogspot.com/
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?