HIGHLIGHT

Senpi, Polisi, dan Media Massa yang Berpihak

09 Mei 2012 16:34:22 Dibaca :
Senpi, Polisi, dan Media Massa yang Berpihak
Aksi koboy

Belum terlupakan  dua kasus penggunaan senjata api yang kembali mencuat dan menjadi berita hangat diberbagai media massa. Kasus aksi penodongan senjata api oknum TNI di Palmerah Jakarta Barat dan Kasus penodongan senjata api oleh Iswahyudi di restoran Cork and Screw Plaza Indonesia. Kedua kasus tersebut telah mengundang banyak menggundang tanggapan negatif dari masyarakat sehubungan dengan kejadian kasus tersebut. Terutama Kasus aksi penodongan senjata api oknum TNI di Palmerah Jakarta Barat. Telah terbentuk sebuah opini publik yang telah dibangun media massa, bahwa oknum TNI telah menyalah-gunakan wewenang penggunaan senjata api di lingkungan masyarakat. Oknum TNI dihujat masyarakat sebagai oknum yang arogan menodongkan senjata api dalam kejadian mobil pribadinya yang tersenggol oleh seorang pengendara motor. Masyarakat semakin yakin menghujat oknum TNI tersebut, ketika media massa televisi menayangkan bukti pengambilan video amatir oleh masyarakat disaat kejadian. Citra buruk aparat TNI yang terbentuk selama ini dimasyarakat selama ini semakin kuat terbentuk dalam pikiran masyarakat. Pada kasus lain yang serupa adalah penodongan senjata oleh seorang ekonom yang bernama Iswahyudi kepada pelayan di restoran Cork and Screw Plaza Indonesia. Kasus  Iswahyudi mengambarkan dirinya sebagai pelanggan tetap restoran Cork and Screw Plaza Indonesia telah menyadari bahwa selama ini dirinya telah diperdaya dan di tipu oleh oknum karyawan restoran tersebut yang telah menyisipkan tagihan palsu kepadanya. ( lihat http://news.detik.com/read/2012/05/02/125328/1907051/10/insiden-di-plaza-indonesia-tagihan-iswahyudi-di-restoran-rp-42-juta?nd992203605).

1336549683337725405
Iswahyudi keluarkan senjata di restoran
Secara sepihak Iswahyudi dilaporkan ke polisi dan mencuatlah kasus tersebut di media massa yang pada akhirnya posisi Iswahyudi menjadi tersangka yang menyalah-gunakan penggunaan senjata api di muka umum dalam sebuah persoalan sepele. Secara bijaksana tentunya melihat dan memberikan kesimpulan sebuah kasus dimasyarakat tidaklah mudah. Selasa sore 8 Mei 2012, penulis mendengar bincang-bincang di Radio Brava FM 103.8 Mhz yang mengangkat masalah kasus senjata api yang sedang marak saat ini. Dalam bincang-bincang tersebut di undang seorang anarasumber terkemuka, yaitu Hotma Sitompul, salah seorang praktisi bidang hukum yang telah berpengalaman memiliki ijin kepemilikan senjata api selama 35 tahun. Dalam bincang-bincang tersebut penulis akhirnya sepaham dengan pembicaraan Hotma Sitompul berkaitan dengan kasus senjata api yang digunakan oleh oknum TNI di Palmerah, bahwa kita seharusnye mencoba merasakan dan melihat dari sisi sang oknum TNI.
13365495031722044931
Hotma Sitompul, Praktisi Profesional di Bidang Hukum
"Bayangkan sebagai manusia biasa, ketika kaca mobilnya dipukul dengan helm hingga pecah dan pengendara motor yang menyerempet mobilnya....reaksinya sudah tentu sang TNI sebagai korban akan naik pitam dan mengeluarkan senjata apinya" ujar Hotma "Saya ketika berumur 25 tahun, sedang mengendarai mobil untuk mengantarkan ibunya, pernah di tabrak oleh Angkot Metromini dari belakang." lanjut Hotma. "...seketika reflek saya memeriksa langsung kondisi belakang mobilnya dan menegur sang supir angkot.....justru apa yang saya dapat, ternyata sang supir dengan arogan menabrakan kembali angkot tersebut ke mobil saya...... sambil mengusir saya untuk segera pergi....." cerita hotma dengan serunya...... "Spontan saya juga sebagai anak muda naik pitam dan mengambil senjata api yang ada di dalam mobil saya lalu menembakan 4 kali  peluru ke udara...lalu mereka langsung melarikan angkotnya dengan kencang...." cerita Hotma kembali..... Dalam ulasan bincang-bincang tersebut Hotma mengatakan..bagaimana jikalau korban tabrakan tersebut adalah seorang wanita? tentunya akan menjadi bahan pelecehan oleh supir angkot tadi. Hotma Sitompul pun tidak seluruhnya membenarkan apa yang dilakukan oleh sang oknum TNI yang menodongkan senjata di Palmerah, akan tetapi ia mengungkapakan bahwa kejadian penggunaan senjata api ini justru harus dituntaskan dengan cara-cara yang cermat.
13365490151331964605
Kadiv Humas Mabes Kombes Pol Boy Rafly Amar menerangkan, aturan izin senjata api tercantum dalam UU No 2 tahun 2002 tentang Kepolisian. Sementara untuk biaya pengurusan izin diatur dalam Peraturan Pemerintah nomor 50 tahun 2010 tentang jenis dan tarif atas penerimaan negara bukan pajak yang berlaku pada kepolisian negara Republik Indonesia.
Penulis sepaham dalam hal ini dengan apa yangdikatakan dan dirasakan dalam pemaparan Hotma Sitompul melalui pengalaman hidupnya. Saat ini kita tidak serta merta menyalahkan penggunaan senjata api sebagai alat  untuk melindungi diri. Hal yang lebih besar lagi adalah rasa aman di dalam masyarakat. Penulis berusaha memahami perasaaan di sisi orang yang terpaksa menodongkan senjata api karena merasa dirinya tidak dihargai lagi dan bahkan, malah dijadikan bulan-bulanan dalam masyarakat yang sudah semakin kacau ini. Penulis juga pernah merasakan menjadi pengendara roda dua sekaligus juga pengendara roda empat. Serta merta tidak selamanya sang pengendara mobil selalu yang disalahkan dalam kejadian kendaraan yang disenggol oleh kendaraan roda dua. Seberapa banyakkah sang pengendara motor yang patut di bela oleh masyarakat karena ulah ugal-ugalan mengendarai motor? Sejauh mana seorang pengendara motor yang ugal-ugalan dan menyenggol sebuah mobil dan malah justru malang melintang memaki sang pengendara mobil? Dalam kasus Iswandi, penulis mencoba merasakan dalam posisi Iswandi, seberapa sakitkah hati ini ketika ternyata kita telah ditipu dengan halusnya, setelah sekian lama kita mendermakan cukup banyak uang untuk sebuah tips? mencoba memahami bahwa bagaimanapun kita dimungjkinkan akan melakukan hal yang sama dengan oknum TNI di Palmerah dan Iswahyudi di Plaza Indonesia. Dalam kasus Iswahyudi, penulis tidak habis berpikir dengan pihak Polisi yang justru dengan gencarnya menarik Iswahyudi untuk segera di adili di meja hijau. Pertanyaannya bagaimana dengan kesalahan dua orang pelayan restoran Cork and Screw Plaza Indonesia yang ternyata terlibat dengan sengaja menipu Iswahyudi? Justru sebaiknya kedua pelayan tersebut turut pula di seret ke meja hijau dengan tuduhan penipuan dan tidak hanya sebatas di pecat saja dari pekerjaannya. Sedemikian kuatnya hasrat polisi mencoreng citra diri Iswahyudi di mata Masyarakat Indonesia? Bagaimana dengan sang oknum TNI di Palmerah? yang mungkin saja saat ini sedang dihukum oleh kesatuannya karena menyalahi aturan penggunaan senjata apinya? Bagaimana pula sang pengendara motor yang dianggap korban oleh media massa dan masyarakat, dan saat ini sedang mensyukuri komentar masyarakat yang mendukungnya? Penulis menggangap tidak sedemikian mudah pihak media massa mem-posisikan sang oknum TNI sebagai oknum yang benar-benar pantas di tunjuk-tunjuk sebagai oknum yang paling bersalah? Pada akhir perbicangan Hotma Sitompul dengan pihak Brava FM. Beliau mengatakan bahwa ia juga tidak membenarkan penggunaan senjata api secara sembarangan, akan tetapi pula janganlah memojokan sang pemilik senjata api yang lalai dalam proses penggunaannya. Pada akhirnya kesimpulan dari masalah kasus ini kembali kepada kejernihan kita semua dalam menilai dan menganalisa kasus ini secara proposional. Mudah-mudahan dimasa mendatang tidak terjadi lagi hal serupa yang merugikan berbagai pihak dan semoga keadaan lingkungan semakin membaik. Amin

Edy Chandra

/echan

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Saya adalah seorang yang sederhana dalam berpikir
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?