Cerpen | Lelaki Muda yang Merawat Neneknya

20 Maret 2017   09:26 Diperbarui: 20 Maret 2017   09:31 713 23 14

Namaku Aldi, umurku dua puluh tiga jalan dua puluh empat, enam bulan lalu aku diwisuda dari kampus ku.belum punya pekerjaan setelah dua bulan lalu habis masa kontrak sebagai penyuluh, praktis saat ini hari-hariku disibukkan dengan lamaran pekerjaan dan memcoba mengembang biakan ikan hias, disamping hobby ikan-ikan itu juga untuk aku jual jika ada yang berminat, ayahku bilang aku harus mulai memikirkan bagaimana caranya untuk  merintis usaha walaupun kecil-kecilan, disamping itu aku harus jadi orang gajian, yang punya gaji tetap tiap bulan. Aku sepaham dengan ayahku.

Aku tinggal bersama nenek dan adikku, ibuku tinggal didaerah lain menemani ayah yang bertugas disana.meskipun begitu mereka pulang dua minggu sekali, Sejak kakek ku meninggal nenek menjadi agak berubah, jadi bertambah bawel dan suka uring-uringan, mungkin nenek kesepian. Ibuku bilang "akulah pengganti mereka, uruslah nenek dengan baik, kalau aku ikhlas mudah-mudahan semua dilancarkan".

Aku sangat sayang pada nenekku, walaupun setiap hari aku tak bisa menghindar dari ocehan-ocehannya, nenek sangat bawel, dan omongannya selalu diulang-ulang.Mungkin kebawelan ibuku turunan dari nenek juga kali ya...haha.

Setiap hari, kusiapkan air hangat untuk mandi nenek, kubuatkan segelas susu setelah subuh dan membelikan bubur ayam kesukaannya didepan komplek.Aku juga yang selalu mengantar nenek berkunjung kesaudara-saudaranya, menemani kedokter, mengajaknya jalan-jalan dan memijitnya, kata nenek pijitanku enak, sesuai pesan ibu, aku melakukan semua dengan ikhlas walaupun kadang-kadang aku harus membatalkan acara kongkow dengan teman-temanku karena nenek tak ada yang mrnemani atau nenek tidak mengizinkan.

Aku berusaha untuk menjadi anak yang baik, meskipun ibuku bilang aku ini suka bandel, susah dikasih tau, rada jorok, naik motor suka ngebut, kadang juga mau suka-suka sendiri, tapi ayah selalu membelaku anak laki-laki memang harus bandel, kalau tidak bandel bukan laki-laki. ahh mereka ada-ada saja.

Hari-hari seakan begitu cepat berlalu, kegalauanku mulai meningkat, aku mulai khawatir tentang masa depanku, bagaimanapun aku butuh pengakuan, ah lebay nya diriku. Namun kegalauanku tak ku perlihatkan karena aku tak mau nenek dan ibu ku sedih.

lamaran pekerjaan yang kukirimkan kemana-mana belum ada kejelasan sama sekali, aku bertambah pusing kalau melihat persyaratan bagi pelamar harus sudah berpengalaman, bagaimana mau punya pengalaman wong diterima saja belum. Dan ditambah lagi harus good looking, berpenampilan menarik, kata Ibuku sih aku ganteng tapi aku tidak percaya karena ku tahu ibu cuma menyemangatiku.

Entah sudah berapa kali aku ikut tes, aku tak menghitung lagi. Rasa,-rasanya semua cuma harapan palsu.Aku agak sedikit terhibur ikan-ikan ku mulai ada yang menawar, mulai ada yang beli, walaupun belum sesuai harapan aku cukup senang, mudah-mudahan suatu saat ikan-ikanku bisa menjadi berkah buatku. 

Ada temanku yang mengajak menjadi tenaga honorer disebuah instansi pemerintah milik pemda, "katanya sih keren, bisa pake seragam pns, trus pake sepatu mengkilat", kutanya gajinya berapa, nah ini yang bikin aku ngakak "katanya sih se kasian orang saja, yang penting kita rajin dan mau disuruh-suruh", waduh kalau cuma buat kebanggaan karena pakai seragam pns, terus selanjutnya apa?, aku menolak dengan halus  temanku masih berusaha mengajakku "katanya sih, sambil menunggu dibukanya lowongan pns".terus kata temanku lagi "kalau mau lulus pns harus punya koneksi, siapin dana dijamin tokcer".

"Ahh masa sih". Wah mana bisalah aku nyogok begitu, orang tuaku tak akan mau lagi pula mereka tidak punya duit sebanyak itu, mending duitnya dibelikan sawah atau bikin kos-kosan gitu. Jujur saja walaupun nilai akademik ku tak sampai cum laude tapi aku tak bodoh-bodoh amat.Aku pasti beranilah buar bersaing secara sehat, kalau mau main sogok menyogok ya nanti dulu, terima kasih saja lah.

*****

Hari ini aku benar-benar malas buat melakukan apapun, setelah mengurusi segala kebutuhan nenekku aku balik lagi ketempat tidur, tak ada semangat sama sekali. Tapi saat terlihat foto ayahku didinding kamar aku kembali teringat kata-katanya

"nak...hidup memang tidak muda, butuh perjuangan untuk itu. tak boleh patah semangat, jangan gampang menyerah, jadi laki-laki harus kuat, tak boleh cengeng apalagi nangis kecuali dalam keadaan tertentu dan bila perlu merantaulah sejauh mungkin ".

Mataku mulai berayun, tiba-tiba hape ku bunyi, dengan malas kulihat hape ku, tertera dengan jelas pesan ditujukan padaku, jam sepuluh pagi ada interview digedung kampus, sekarang jam delapan lima belas. Happ !!,secepat kilat aku kekamar mandi dan cukup mandi bebek saja aku tak mau telambat.

Hari ini kujalani tiga sesi tes, sudah sore aku pengen segera pulang, perutku sangat lapar maklum aku tak bisa jajan karena dompetku tertinggal, tapi panitia melarang pulang karena nama-nama peserta untuk tes lanjutan esok hari akan segera diumumkan, Aku santai saja .Saat namaku disebut oleh panitia, ada harapan baru dihatiku, aku semakin berharap

*****

Hari kedua, tes dijalani langsung empat sesi. Aku begitu lelah, panitia mempersilahkan kami pulang dan menunggu hasil lewat telepon.

Satu hari, dua hari, satu minggu, hari ke empat belas...telepon berbunyi...well come, aku lolos. Aku melonjak, kupeluk nenekku.

"Nak, bersyukurlah pada Tuhan dan berterima kasihlah pada Ayah Ibumu, mungkin apa yang kau dapat hari ini adalah salah satu doa Ibu Ayah mu yang dikabulkan Tuhan", aku begitu terharu mendengar ucapan nenek, nenek benar...dengan agak gemetar cepat-cepat aku mengabari Ibuku.

Setelah sekian lama menunggu akhirnya aku mendapatkan pekerjaan juga, mungkin benar apa kata ayahku "semua ada waktunya".

*****

Perjalanan sudah ku mulai, mungkin perjalanan ini akan sangat panjang, aku tak peduli bagaimana perjalananku nanti, Ayahku bilang " setir dan kemudi ada ditanganku, aku sendiri yang membawanya kemana pun aku mau, aku yang mengendalikan ", Tapi yang jelas akan kupastikan betul jalanku, karena aku takut salah arah, kalau sampai salah arah aku akan tersesat, apalagi sampai tak tahu jalan pulang dan aku tak mau itu terjadi padaku !.

*****