Bunda, Tunggu Aku di Pintu Surga

28 Februari 2013 01:47:07 Dibaca :
Bunda, Tunggu Aku di Pintu Surga
-

Aku tak suka jika aku disuruh untuk berjilbab, aku benci bila diajak sholat berjamaah dengannya. Aku marah ketika dilarang keluar dengan teman-teman sekolahku. Aku marah ketika baju sekolahku tidak ia siapkan di ranjang tidurku, aku juga marah kalau dia menyuruhku untuk berpakaian tertutup ketika bersekolah, aku benci ketika dia selalu berkata “jadilah anak yang sholihah, nanti kita masuk surge bersama-sama”. Aku marah kalau dia membangunkanku hingga berkali-kali untuk sholat subuh ketika aku sedang bersenang-senang dengan bunga tidurku. Namun dia yang selalu menyanyikan lagu penghantar tidurku. Dia yang yang selalu bercanda dan tertawa denganku. Aku membencinya, ya, aku sangat membencinya, itu yang selama ini aku katakana kepada hatiku, entah mengapa, aku juga bingung jika ditanya alasanya. Dia adalah ibuku yang yang setiap hari mengurusi diriku, aku lebih akrab dengan sebutan bunda. Dia yang melahirkanku, namun sepertinya aku tak pernah benar-benar mengakuinya sebagai ibuku. Aku marah, aturan-aturan yang dia berikan membuatku membenci bundaku sendiri. Meskipun begitu aku tak pernah menunjukkan sikap benciku kepadanya, kebencianku selalu ku simpan sendiri. Meskipun aku membencinya, dengan sedikit terpaksa aku tetap menuruti dan menjalankan yang dia perintahkan. Aku terpaksa melakukan semuanya karena semua itu bukan keinginannku. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangiku, bundaku adalah sosok ibu sempurna untuk putri satu-satunya. Aku menjadi anak yang teramat manja, Ku lakukan segala hal sesuka hatiku. Ayahku terkadang juga memanjakanku sedemikian rupa, karena dia tahu, aku adalah anak semata wayangnya. terkadang Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang anak. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku. Di rumah ku, sepertinya akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan kedua orang tuaku, terlebih bundaku, yang selalu mengatur seluruh kehidupanku. Hari ini aku ulang tahun, ku rayakan ulang tahunku yang ke 16 ini dengan mewah, semua teman-temanku aku undang, ya, malam ini malam mewah yang istimewa. Semuanya datang dengan membawa aneka kado, namun hanya satu kado yang aku tunggu-tunggu. Sebulan sebelum pesta ulang tahunku ini dirayakan, ibuku pernah berjanji kepadaku, jika dalam satu bulan ini aku selalu melaksanakan sholat berjamaah serta rutin sholat tahajud dan sholat dluha dia kan memberiku hadiah gaun serta sepatu kaca bagaikan sinderela untukku di pesta ulang tahunku. Semua telah aku laksanakan, selama satu bulan aku sholat berjamah lima waktu kecuali saat datang bulan tiba. Namun pesta telah usai, namun gaun yang aku inginkan belum sampai ke tanganku. “Mungkin bunda lupa” bisikku dalam hati. Malam semakin larut, semua tamu telah pulang, dengan sedikit kecewa aku mulai bertanya. “bunda, masihkah bunda ingat dengan janji bunda…?”. “Janji apa…..?” “Tentang gaun sebagai kado ulang tahun.” Jawabku lirih, tak terasa air mataku jatuh di pipiku. “Masyaallah, maaf ya sayang bunda lupa.” Ucapnya tak kalah lirih dengan jawabanku. Seketika itu aku marah, mukaku merah padam, air mataku berjatuhan bergitu deras bagai air hujan. Aku berlari menuju kamarku lalu menguncinya, aku kecewa, sangat-sangat kecewa. “Nhesa, buka pintunya sayang….”. teriak bundaku dari balik pintu. “Nggak mau, bunda jahat, bunda sengaja tidak menepati janji bunda”. “Ya udah, bunda ngaku salah, bunda minta maaf, besok sepulang skolah bunda belikan gaunnya, kan pestanya sudah selesai, belinya besok aja ya.” “Nggak mau, aku maunya sekarang.” Tanpa menunggu lama bunda serta ayahku langsung keluar untuk membelikanku gaun yang telah bundaku janikan. Aku masih menunggu mereka di dalam kamarku. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone bundaku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah. Tak lama setelah itu ayahku pulang, namun dia sendirian. “Gaunya mana yah, Bunda mana …?” Ayahku tidak menjawab pertanyaanku, matanya sembab seperti habis menangis, sambil memelukku dia berkata. “Bundamu telah tiada.” Ucapnya lirih diikuti ribuan tetes air mata. Tak terasa butiran butiran hangat menetes di pipiku, aku merasa bersalah aku merasa kehilangan, baru kali ini aku merasakan seperti ini. Semuanya terasa berat, kaki dan tangnaku kaku, tak ada yang bisa aku lakukan selain terdiam termenung menangis dalam penyesalan. “Bundamu tertabrak mobil ketika akan menyeberang jalan di depan toko gaun yang kamu inginkan.” Ucap ayahku bercerita. Tangisku smakin deras, hatiku terasa sesak, aku sangat merasa kehilangan, aku anak yang bodoh, dan baru kali ini aku mengakuinya, aku menyesal. Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi semakin sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama ini. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin, airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang bundaku. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan dirinya yang dengan tulus selalu memperhatikanku. Dia yang selalu mengatur apa yang kumakan. Dia yang memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika sakit menyerangku. Dia yang tak pernah absen mengingatkanku untuk sholat berjamaah lima waktu. Dia yang tak pernah bosan menyuruhku  untuk berjilbab, di yang selalu member tahuku dengan siapa aku harus berteman,dia yang selalu menyiapkan seragam sekolahku, dia yang tak pernah lelah menyuruhku untuk berpakaian tertutup ketika bersekolah, dia yang tak pernah berhenti berkata “jadilah anak yang sholihah, nanti kita masuk surga bersama-sama”. Dan dia yang tak pernah bosan membangunkanku hingga berkali-kali untuk sholat subuh ketika aku sedang bersenang-senang dengan bunga tidurku. Dia yang selalu menyanyikan lagu penghantar tidurku. Dia yang yang selalu bercanda dan tertawa denganku. Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku  marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membangunkanku di saat aku masih mesra dengan bunga tidurku. tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan bunda yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi anak yang tidak baik pada bundanya yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Kepergiannya membawa banyak pengaruh bagi kehidupanku, kini aku telah berubah. Satu tahun kemudian, hari ini Mega mulai memerah, langit mulai meredup menyambut datangnya malam, suara-suara jangkrik pun mulai terdengar meramaikan alam, bulan dan bintang pun mulai terlihat jelas menghiasi sang malam. Kulihat jam dinding menunjukan pukul sebelas malam, aku pun merebahkan tubuhku ke atas ranjang yang telah melambai-lambaikan tanganya mengajakku beralih ke alam mimpi, aku mencoba memejamkan mataku tapi entah kenapa aku tak kunjung bisa, aku pun bangkit dari tempat tidurku kemudian melangkahkan kakiku menuju pintu keluar kamarku, namun langkahku terhenti saat aku melihat kalender kecil yang berada di meja belajarku. Yah! Kulihat lingkarang merah yang di dalamnya terdapat angka satu pada bulan april, hmm.......... benar, tak salah lagi, itu adalah hari ulangtahunku, hari yang tak kan pernah aku lupakan, tapi kenapa aku hampir melupakanya? Sejenak aku terus memandangi kalender itu hingga aku teringat kembali pada bundaku. Ya..... bunda meninggal tepat di hari ulang tahunku setahun yang lalu, aku tahu kenapa aku hampir melupakan hari ulang tahunku, karena aku juga ingin melupakan bundaku yang telah tiada tepat pada hari itu. Untuk melupakanya aku juga harus melupakan hari itu. “Bunda..........” ucapku lirih. “Kurasa ulang tahunku kali ini akan terasa sepi karena tiada bunda yang menemani”, sejak kepergianya hari-hari yang kurasakan pun tak begitu menyenangkan, hanya kepedihan yang tertinggal. Aku kembali melangkahkan kakiku menuruni tangga menuju kamar bundaku, “lama sudah aku tak masuk ke kamar ini” ucapku dalam hati sesaat setelah aku berada tepat di depan pintu kamar tersebut. Pelan pelan kubuka pintu yang sengaja tidak dikunci oleh ayahku, kulihat ayah yang sedang terbaring tidur sendiri tanpa ada yang menemani, “kasihan......” ucapku membatin. Ternyata bukan aku saja merasa kehilangan, ayah pun juga, pelan pelan ku tutup kembali pintu kamar bundaku, ku lanjutkan langkah kakiku menuju ruang tamu, ruangan yang memberikan sekian banyak kenangan, sejenak aku termenung mengingat masa-masa indah dulu saat masih ada bundaku, canda dan tawa selalu ada di setiap waktu, namun kini yang hanya hanyalah kenangan belaka. Malampun semakin larut seperti diriku yang semakin larut dalam kesedihan, aku kembali masuk ke kamarku untuk membuka laptop yang berada di meja belajarku, ku buka file file yang berisi foto bundaku, semakin tajam ku pandangi terus foto-foto yang ada di file itu semakin resah rasanya hariku, rasanya aku terlalu merindukannyarasanya diriku ingin sekali bertemu dengannya. Kubuka Microsoft word dan mulai ku rangkai kata demi kata hingga menjadi sebuah puisi. Senyum tawa dan bahagia Telah sirna di tekan derita Kebahagiaan itu menghilang Senyum dan tawa itu pergi Kini yang ku temui Hanyalah duka derita Dan penderitaan yang telah menytu di hatiku Mengukir di setiap tetes air mataku Malam ini aku rindu akan tawa Aku rindu akan bahagia Aku rindu pucuk-pucuk cinta Yang senatiasa menyenandungkan lagu-lagu kedamaian bunda......... Di malam yang sunyi ini Inginku senandungkan lagu untukmu Namu.............. Kau telah pergi maninggalkanku Langkahmu semakin jauh Tak kuasa ku menggapaimu Tak kuasa ku mengejarmu Dalam gelapnya malam Di malam yang sunyi ini Tak kudengar suara-suara manismu Tak ku dengar cerita-ceritamu Tak kudegar tawa-tawamu Di malam yang sunyi ini Bahagia itu telah berlalu Duka yang kau tinggalkan Semakin berkepanjangan Di malam uang sunyi ini Aku rindu dirimu Aku rindu suaramu Aku rindu pelukanmu Ya....... aku rindu semua itu Namun............ Aku sadar diri Kini kau telah pergi bunda........... Tidakkah kau lihat Diriku yang merindukanmu Yang sangat mengharapkan Kehadiranmu seperti dulu bunda.............. Jalan kita telah berbeda Kau telah penuhi panggilaNYA Dan kini............ Diriku tinggal menanti Kapan panggilan itu datang padaku bunda............. Tunggu aku di pintu sorga Saat aku telah larut dalam kerinduan, tiba-tiba aku di kejutkan oleh suara wanita yang memanggilku. “Nesha............” Mataku langsung terbelalak, suara itu sepertinya sudah begitu akrab di telingaku, ku putari sekelilingku untuk mencari sumber suara itu, aneh! Tak ada siapa-siapa, yang ada hanyalah seekor burung yang sedang berteduh di ranting pohon menghindari hujan yang mulai turun di malam itu. Namun aku langsung tersentak ketika di hadapanku hadir sosok yang selama ini aku rindukan. “Bunda...............” aku mendesis kaget. Tubuhku gemetar bulu kudukku sontak berdiri, bagaimana tidak, bundaku yang telah lama tiada tiba-tiba saja berada di depanku. “Nesha, lagi nulis apa sayang......” tanyanya seraya menghampiriku, dengan lembut beliau membelai rambutku yang terurai. “Lagi nulis puisi untuk Bunda.” Ucapku sambil memandangi wajahnya yang terlihat pucat. “Kamu rindu bunda ya...?” tanyanya setelah membaca puisiku yang belum aku save. “Puisinya bagus ya.....”lanjutnya mengomentari. “Bunda,Bunda jangan pergi lagi, aku dan ayah merasa kesepian jika bunda tak ada.” Ucapku lirih , tak terasa butiran-butiran air mata telah membasahi pipiku. “Tenang sayang, bunda akan tetap ada di antara kalian, sudahlah hapus air matamu, seperti yang telah kamu tulis dalam puisimu, bunda akan menunggu di pintu surga.” Ucapnya seraya melepaskan tanganku dari genggamanya, berlahan-lahan bunda menjauh dariku dan menghilang meninggalkan kepulan asap putih serta bau harum bunga melati. “Bunda, Bunda, jangan tinggalkan Nesha Bunda, Bunda jangan pergi.” Aku berteriak sekuat tenaga, namun suaraku terhenti setelah aku mendengar suara seorang laki- laki yang tak asing lagi di telingaku, ya! Tak lain dan tak salah lagi adalah ayahku. “Nesha, kamu kenapa sayang, bangun nak, kamu mimpi apa?” ucap ayahku panik. Keringatku bercucuran, air mataku masih terus menetes membasahi pipiku, aku sedikit tenang setelah ayahku memelukku. “Apa aku tadi bermimpi........?” tanyaku dalam hati. “Bunda.........” ucapku lirih. “Ada apa nesha, ada apa dengan bunda.” Tanya ayahku sambil membelai rambutku. “Bunda yah, bunda tadi datang.” “Sudahlah jangan memikirkan bunda terus, bunda sudah tenang di alam sana, tadi kamu Cuma mimpi, bunda sudah tiada tak mungkin akan kembali” “Bunda..... tunggu aku di pintu surga.” “Sudah jam tiga, lebih baik kamu bangun dan ambil air wudlu, mintalah kepadaNYA semoga bunda tenang di alam sana, doakan bundamu yang tetap  mengawasi kita meski mata kita tak pernah melihatnya.” Saran ayahku.

Ternyata hanya mimpi, bunda mendatangiku hanya untuk membangunkanku untuk melakukan munajat denganNYA. Hadirnya hanya untuk membangunkanku saat kabut fajar masih mendekapku. Pagi ini hawa dingin masih memelukku, membawaku ke hadapaNYA untuk bermunajat dengnaNYA. Doaku mengalir  mesra dalam telaga kautsar, merubah suasana menjadikan rumahku bagaikan surga.

Bunda, tunggu aku di pintu surga.

Hady Muhammad

/dyha_muhammad

Khairun naass anfa`uhum linnaass......
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?