Dwi Malistyo
Dwi Malistyo Pecinta Kehidupan

Trader, Expert Advisor coder, Blogger.

Selanjutnya

Tutup

Politik

Benarkah 'Jokowi Effect' Gagal pada 2 kali Pilkada?

8 Maret 2013   05:01 Diperbarui: 26 Februari 2016   09:49 1267 0 4

Sejujurnya saya bukan orang Politik, dan belum pernah ngeblog hal-hal yang berbau politik. Tapi pagi ini saya geregetan melihat posting gambar yang berseliweran di Twitland dan Forum-forum berita mengenai kegagalan "Jokowi Effect" pada Pilkada Jawa Barat dan Pilkada Sumatra Utara.

Gambarnya melukiskan ibu Megawati dan pak Jokowi saling curhat seperti ini.

Benarkah "Jokowi Effect" sudah tidak ampuh lagi ?. Dan apakah perjalanan Megawati dan Jokowi ke daerah-daerah adalah sebuah kesia-siaan bagi PDIP ?.

Saya melihatnya tidak demikian. Memang kehadiran pak Jokowi ke daerah-daerah yang tengah bertarung dalam Pilkada tidak serta-merta menjadikan cagub yang didukung PDIP akan menang mutlak. Rieke Dyah kalah di Pilkada Jawa Barat, dan Effendi Simbolon tidak berhasil dalam quick count di Pilkada Sumatra Utara.

Tapi tunggu, ada hitung-hitungan lain yang jelas menguntungkan PDIP dan pak Jokowi dari 'blusukan' di area nasional ini. Menjelang Pilkada Jawa Barat, LSI Network mengadakan survey pada 5 Februari 2013 (sepekan menjelang pencoblosan). Dan hasilnya Rieke-Teten hanya memperoleh posisi ketiga dengan angka 8,9 persen. Tetapi setelah pak Jokowi ikut 'blusukan' mendukung kampanye Rieke-Teten, hasil quick count menghasilkan kenaikan signifikan, yaitu 27,50 persen menurut LSI, atau di posisi kedua. Jauh sekali beda perolehannya !.

Apakah tidak terlihat efek dukungan Jokowi pada kampanye Rieke-Teten ? Yang dimana seharusnya pasangan ini menempati posisi hampir buncit, didongkrak menjadi runner-up. Demikian juga pada Pilkada Sumatra Utara, dimana menurut survey pasangan Effendi Simbolon-Djumiran Abdi selalu diposisikan pada akhir. Namun hasil quick count akhirnya, pasangan ini naik di posisi runner-up. Ada tambahan suara yang saya lihat dipengaruhi oleh kehadiran pak Jokowi pada detik-detik akhir kampanye Effendi Simbolon.

'Jokowi Effect' sama sekali tidak gagal. Malahan menurut saya berhasil dengan memuaskan. Sungguhpun calon gubernur yang didukung PDIP tidak berhasil menang di 2 area pertempuran Pilkada, namun Megawati pasti melihat Jokowi memiliki kharisma untuk mendongkrak perolehan suara. Dan ini akan dijadikan senjata ampuh pada Pemilu 2014 besok. Pasti Jokowi akan digandeng terus-menerus berkeliling pada lingkup nasional untuk menaikkan rating PDIP. Buat pak Jokowi sendiri hal ini bukannya merugikan, malahan mungkin bisa saling simbiosis-mutualisme. Kehadiran pak Jokowi di semua area tempur Pilkada, bisa dijadikan semacam 'test of the water' tentang popularitas dirinya di masyarakat nasional. Ini penting kalau pak Jokowi bersiap-siap dicapreskan di tahun 2019.

Bayangkan !, persiapan capres 2019 tapi dimulai sejak 2013. Karena itu saya tidak heran jika cagub PDIP di Pilkada Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, mengatakan pak Jokowi sudah menelpon mengatakan siap membantu di Pilkada Jawa Tengah. Kita lihat saja 'Jokowi Effect' di Jawa Tengah besok, apa pengaruhnya buat PDIP nanti.