PILIHAN

Memandang Lukisan Nisan Kristiyanto, Menyusuri Alam Nan Sunyi

19 Mei 2017 14:28:28 Diperbarui: 19 Mei 2017 16:43:02 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Memandang Lukisan Nisan Kristiyanto, Menyusuri Alam Nan Sunyi
Pelukis Nisan Kristiyanto bersama Ir Rachmat Witoelar dan istri|Dokumentasi pribadi

Lukisan Pemandangan Alam Nisan Kristiyanto memang (tidak) biasa. Lukisan kesunyian yang mengandung pesan dari sebuah alam yang mulai rusak, mulai koyak oleh keserakahan manusia. Nisan Memberi warna baru bagi genre lukisan pemandangan yang kadang dipandang sebelah mata jika bicara  harga lukisan. Lukisan Joko Pekik misalnya harganya bisa menembus harga 1 Milliar, Lukisan Nyoman Masriadi bisa berharga lebih dari 2 Milyar tapi untuk memasarkan lukisan pemandangan sungguh susah. Padahal bagi awam seni mudah mengatakan dan mengapresiasi lukisan pemandangan. Tinggal mengatakan bagus dan tidak. Hanya lukisan pemandangan Nisan sekali lagi tidak biasa. Ada repetisi, ada irama, ada romantic, dan ada kesan dekoratif seperti: lukisan Irama dan Ruang Biru. 

Seperti yang dikatakan Efik Mulyadi (mewakili Kompas dan Bentara Budaya) dalam ulasannya di Buku Katalog Berjudul Partitur dan Pemandangan Alam Yang (Tidak) Biasa.  Lukisan alam Nisan memberi pesan muram, kepedihan oleh alam yang hancur. Banyak lukisan pelukis yang lahir di Blora tahun 5 November 1953 mengetengahkan tentang kemuraman, keprihatinan akan hancurnya alam dengan menghilangnya banyak pohon-pohon di pulau Kalimantan, Jawa, Sumatra, Papua. Walau merekam kemuraman dan tragedi lingkungan lukisan Kristiyanto tetap nyaman dan indah dipandang. 

Beda dengan lukisan pemandangan lain yang hanya menampilkan keindahan sekilas dalam pandang mata. Lukisan pda hakikatnya adalah Jiwa ketok(S Sudjojono) lukisan itu adalah ekspresi  dan gambaran jiwa pelukis seutuhnya. Kelihatan betapa banyaknya pengalaman Nisan Kristiyanto menyusur hutan-hutan, merenungi kehancurannya, melakukan usaha untuk menyelamatkan lingkungan dari kehancuran oleh orang yang hanya berpikir untuk memperkaya diri tapi tidak sayang pada anak cucu dan masa depan bangsa.

Pembukaan oleh Rachmat Witoelar|Dokumentasi pribadi
Pembukaan oleh Rachmat Witoelar|Dokumentasi pribadi

Pameran dibuka oleh pembacaan puisi oleh Noorca  Mahendra Massardi Budayawan, penulis novel/ penyair dengan diiringi oleh lengkingan biola. Lagu lagu liris bernuansa kebangsaan terus terdengar saat Noorca membacakan puisinya. Lalu ditampilkan video dari penampilan Leo Kristi yang sedianya mengisi acara pembukaan pameran namun karena masih terbaring sakit di sebuah rumah sakit di Bandung. Penampilannya ditayangkan sebagai wujud solidaritas terhadap musikus yang sering menyanyikan lagu-lagu tentang keadaan sosial. Untuk menghargai sahabatnya Nisan menampilkan video ketika Leo Kristi (penyanyi balada) legendaris dari Indonesia. Hari Kamis, 18 Mei 2017 Sekitar 19.30 acara acara dimulai.Pameran akan berlangsung sampai  28 Mei 2017. Nisan memberi sambutan antara lain pameran ini adalah pameran pertama setelah 16 tahun absen menampilkan karya dalam event acara besar.

Gong sambutan sebagai penanda dibukanya pameran di Bentara Budaya Jakarta  oleh Bapak  Ir. Rachmat Witoelar Kartaadipoetra, seorang arsitek, pemerhati lingkungan hidup  dan didampingi oleh istri setianya Erna Witoelar (Mantan mentri lingkungan hidup Kabinet Indonesia Bersatu). Selanjutnya pengunjung menikmati sejumlah lukisan yang memukau mata. Tidak kurang seniman – seniman dari dalam kota dan luar kota datang. Ada pengamat, seniman, wartawan saling berinteraksi. Ipong Purnama Sidi illustrator, pelukis dan teman-teman Nisan semasa kuliah di STSRI ASRI Jogjakarta.

memandang lukisan Nyanyian Air Mata|Dokumentasi pribadi
memandang lukisan Nyanyian Air Mata|Dokumentasi pribadi

Lukisan Nisan ingin menekankan bahwa betapa susahnya menemukan “kesunyian” di kota. Apalagi di Jakarta yang amat gaduh, macet, oleh banyaknya rumah, manusia, dan isu-isu yang berseliweran di media sosial. Nisan rindu dengan suasana alam, hutan, pesawahan, sungai dan alam yang mampu menghadirkan sunyi dalam suasana meditatif. 

Sayangnya banyak hutan di Nusantara ini telah rusak oleh ulah manusia sendiri. Pembalakan hutan, kerakusan pengusaha mengganti hutan alami dengan hutan industri kelapa sawit. Hilangnya rumah nyaman untuk beberapa binatang langka seperti orang utan, anoa, harimau Jawa, Badak, Kesunyian lukisan Nisan adalah sebuah pesan untuk kembali merawat alam, merawat paru-paru dunia yang mulai terkikis oleh industri dan perumahan .Kiprah seniman dan budayawan adalah mengingatkan betapa bahayanya kerusakan lingkungan hidup. Sekarang kita masih

Penulis bersama Agus Dermawan T pengamat,kurator terkenal|Dokumentasi pribadi
Penulis bersama Agus Dermawan T pengamat,kurator terkenal|Dokumentasi pribadi

Bisa menikmati alam yang indah, apakah yang kita lihat sekarang itu bisa dinikmati oleh anak cucu? Ataukah hanya lukisan, foto, dongeng yang akan dinikmati generasi mendatang?Pesan-pesan dari pameran karya seni lukis itu adalah misi yang harus diperhatikan pengunjung pameran dan manusia yang hidup sekarang untuk memperhatikannya.

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana