Sebuah Balas Dendam!!

02 Mei 2012 03:47:04 Dibaca :

13 Juni 1986

Jaka mengendarai mobil Hi Jet merahnya melintas di Jalan Sudirman, tiba-tiba disuatu pertigaan sebuah mobil sedan muncul dari sebelah kiri Jaka untuk menuju jalan raya tanpa berhenti terlebih dahulu, akibatnya ekor mobil Jaka menyenggol bemper depan sedan tersebut.  dengan niat ingin melihat kondisi mobil ia menepikan mobilnya dan berharap tidak mengalami kerusakan, kelecetan ataupun kepenyotan.

"Eh, nyopir pake mata ya!!!" tiba-tiba pengemudi sedan tersebut keluar dan membentakya

"Lho, sayakan lurus Pak, harusnya Bapak berhenti dulu, mendahulukan yang jalan lurus" jawab Jaka enteng

Mendengar jawaban tersebut pengemudi yang berperawakkan tinggi besar serta rambut cepak itu datang menghampiri Jaka sambil mengacungkan pistol ke arah jidat Jaka, dia berteriak lantang : "Kamu tahu berhadapan dengan siapa!!!!!!!!" katanya dengan pistol yang siap untuk ditembakkan ke kepala Jaka.

Tentu saja Jaka gemetar dan ketakutan hingga tiada lain yang bisa diperbuatnya hanyalah dengan mengucapkan kata maaf, dan jurus ini tidak sepenuhnya jitu karena orang tersebut meminta Jaka mengganti bemper mobilnya yang lecet, padahal mobil Jaka juga jadi lecet.  Namun demikian Jaka bersyukur, sebab ia bisa mendapatkan alamat Sang Pengemudi dari kartu nama yang ia tinggalkan pada Jaka. Ternyata pengemudi tersebut seorang Anggota Polri yang berpangkat Sersan Dua.  "Waduh....hampir aku dihabisinya", pekik Jaka dalam hati.

Kejadian tersebut sangat membekas di benak Jaka, ia sempat syok dan mengalami trauma yang berkepanjangan. penyebabnya tak lain adalah pistol yang diacungkan ke arah jidatnya tersebut.  Ia selalu gemetar setiap mengingat kejadian itu dan membuatnya selalu menghindar setiap bertemu dengan orang-orang bersenjata di pinggang.  Namun orang tuanya tak henti-henti menyemangati Jaka agar tidak membenani fikiran dengan kejadian tersebut. "Lebih baik kamu konsentrasi menyelesaikan kuliahmu, lalu setelah selesai kuliah kau ikut Wamil, nanti kau cari orang itu" kata ibunya menyemangati tak henti-hentinya. Dorongan ibunya itulah yang membuat Jaka terpacu untuk segera menyelesaikan kuliahnya.

31 September 1989

Jaka dilantik sebagai Sarjan Strata satu. Dengan semangat yang tinggi ia mendaftarkan diri ikut test Wamil. Entah karena suatu keberuntungan atau karena memang Allah telah menentukan jalan hidupnya, berbekal pengalaman pernah menjadi ketua Resimen Mahasiswa waktu semester 1 dan 2 ketika ia belum mengalami trauma, Jaka penuh percaya diri mengikuti tahap demi tahapan test yang diberikan, dan Alhamdulillah ia dinyatakan lulus dengan nilai tertinggi.  Semenjak itu trauma yang dialami berangsur hilang dari ingatan Jaka. Ia begitu fokus dengan Akmilnya, hingga  setelah 6 bulan pendidikan dasar keprajuritan di Magelang dan sisanya 3 tahun di korpsnya, Jaka dinyatakan Lulus dengan predikat terbaik dan menyandang Pangkat "Letnan Dua".

01 Maret 1993

Jaka ditempatka di Mabes Polri sebagai Staff di SDM. Penempatan ini tentu saja merupakan barokah bagi Jaka. Karena dia akan sering bepergian ke luar daerah. Dan tanpa menunggu lama-lama ia mendapat kesempatan menemani Komandannya ke daerah asal Jaka untuk menghadiri Serah Terima Jabatan Kapolda. Tanpa banyak cingcong Jaka langsung berkata siap pada Sang Komandan. Singkat kata datanglah ia ke kota tersebut, dan tanpa dinyana, tanpa diminta bertemulah ia dengan "Sang Pengemudi Sedan" yang pernah mengacungkan pistol ke arah Jaka.

"Pak Mahmud ya?" tanya Jaka seketika

"Iya, maaf koq Bapak seperti mengenal saya?" tanya Pak Mahmud Sang Pengemudi Sedan dengan heran bercampur bangga, karena dia yang saat ini berpangkat Sersan Satu disapa oleh seseorang yang berpangkat "Letda", "sungguh tersanjung" fikirnya

"Oh, Bapak sudah lupa sama saya....ini lho Pak, saya yang dulu pengemudi Hi Jet yang pernah bersenggolan dengan mobil Bapak" ungkap Jaka sambil tersenyum

"Ohhh.......maaf Pak...saya waktu itu lagi panik karena anak saya masuk rumah sakit" jawab Pak Mahmud gelagapan

"Oh, nggak apa-apa koq Pak, saya malah bersyukur dengan kejadian tersebut, kalau nggak ada kejadian itu, mungkin saya nggak sampai seperti sekarang ini" jawab Jaka sambil tetap menyalami tangan Pak Mahmud dengan eratnya.

Begitulah selayaknya kita dalam membalas dendam, ambil sisi positifnya, karena disakiti dapat memacu kita menjadi yang lebih baik. Semoga pengalaman yang merupakan kisah nyata dari sahabat saya ini dapat menjadi pembelajaran bagi kita semua, amin.  (teruntukmu sahabat yang kini sudah berpangkat Kombes).

Dues K Arbain (Sufi Anak Zaman)

/dues_68

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Slogan Sufi Anak Zaman :
Jika Allah mencintai manusia, maka akan terwujud dalam tiga kwalitas :
1. Simpatik Bagaikan Matahari

2. Pemurah Bagaikan Laut
3. Rendah Hati Bagaikan Bumi

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?