HIGHLIGHT

Inovasi Kepemimpinan Jokowi dan Kekuatan Tafsir Media

11 Juli 2012 09:36:08 Dibaca :

Hasil Quick Count yang dilakukan oleh LSI hari ini menunjukan bahwa Jokowi unggul sementara di atas calon-calon lainnya sebesar 42, 71 %, jauh di atas incumbent yang hanya memperoleh 34,5 %. Padahal dalam hitungan beberapa orang, Jokowi, walaupun cukup popular, tetapi tidak akan mampu mengungguli incumbent apalagi notabene ada sentimen ras dari warga terhadap sosok Ahok. Namun melihat hasil Quick Count tersebut, ternyata anggapan tersebut dapat dipatahkan.

Melihat pengalaman-pengalaman yang lalu, jika apa yang sudah dilakukan oleh LSI tersebut memang bukan pesanan, tetapi tanggung jawab mereka terhadap fakta di lapangan, maka bisa dipastikan Jokowi akan memenangkan pertarungan di putaran pertama tersebut. Lantas apa sebetulnya yang membuat Jokowi-Ahok ini unggul?


Berdasarkan hasil pencermatan saya, Jokowi merupakan salah satu kepala daerah yang memiliki kebijakan pro rakyat bahkan bisa dikatakan bahwa Jokowi dicintai rakyatnya. Hal ini berkat perjuangan dia dalam mengambil kebijakan-kebijakan yang memihak terhadap masyarakat. Bahkan dia berani bersebrangan dengan Gubernur Jawa Tengah seperti dalam kasus penolakan pembangunan mall di Solo. Pada saat pemimpin daerah dengan gencar memberikan izin untuk membangun pusat pertokoan, Jokowi satu-satunya kepala daerah yang menolak ciri kemewasan sebuah kota. Dalam konteks kepemimpinan, apa yang dilakukan oleh Jokowi dapat dikatakan sebagai inovasi, karena sangat jarang atau bahkan tidak ada pemimpin yang memiliki karakter kepemimpinan seperti Jokowi.


Tentu masih banyak contoh kasus tentang inovasi kepemimpinan Jokowi, misalnya Jokowi tidak pernah mengambil Gaji dari Jabatan yang diembannya, hal ini tidak dilakukan oleh pemimpin kepala daerah lain, Presiden saja curhat bahwa gajinya kurang, eh Jokowi malah tidak mengambil gaji. Di saat pemimpin lain seperti anggota dewan meminta mobil baru, Jokowi malah keukeuh untuk menggunakan mobil yang sudah digunakan 2 periode walikota Solo sebelumnya.


Menjelang pencalonannya sebagai Gubernur Gubernur Jakarta, Jokowi menjalankan salah satu prinsi dalam pribahasa “Datang terlihat Muka, Pulang Terlihat Punggung”, ia secara sengaja pamitan kepada warganya di Kota Solo dan tentu sebagai bentuk permohonan restu dari rakyat yang sangat mencitainya.


Terlepas dari itu semua, inovasi kepemimpinan Jokowi tidak akan menjadi konsumsi publik, dan Jokowi pun tidak akan pernah sepopuler sekarang jika tidak dibantu oleh media. Dan penafsiran medialah yang membentuk citra ‘kepahlawanan’ Jokowi sebagai pemimpin di hadapan publik Jakarta. Media tidak hanya mempublikasikan tetapi juga memoles Jokowi menjadi tokoh panutan rakyat.


Kekuatan Tafsir Media dan Persepsi Masyarakat.


Fungsi media tidak hanya sebatas memberikan hiburan dan informasi saja, ia juga memiliki fungsi sebagai penafsir. Dengan caranya yang khas, entah itu agenda setting atau framing media telah benar-benar membuat Jokowi menjadi orang besar, mengangkat tukang kayu menjadi tokoh semi-nasional. Dan itulah apa yang sudah dilakukan oleh media, baik itu mainstream media atau yang kita sebut sebagai new media.


Tafsiran media ternyata memang ampuh, tidak sedikit sudut pandang media tersebut digunakan oleh masyarakat. Jika kita lakukan poling secara terbuka dan jujur, kira-kira kompasianer, lebih simpatik terhadap Jokowi atau Foke dan atau Hidayat Nurwahid? Atau calon lainnya. Diantara semua calon, tafsir media mengarah bahwa Jokowi lah yang benar-benar memiliki inovasi dalam kepemimpinannya. Walaupun ada Faisal Basri, Hendarji dan Hidayat Nurwahid yang bersih, tetapi tafsir media tidak menyebutkan bahwa masyarakat membutuhkan pemimpin yang bersih saja, ia juga harus benar-benar memiliki inovasi dalam mendukung rakyat kecil. Apakah inovasi kepemimpinan Jokowi tersebut hasil penelitian masyarakat? Atau masyarakat Jakarta langsung menyaksikan inovasi yang dilakukan oleh Jokowi? Saya yakin tidak. Masyarakat Jakarta hanya menonton, mendengar dan membaca berita-berita tentang Jokowi dari media yang beredar saat ini. Ini menunjukan bahwa tafsir media mampu mengarahkan terhadap persepsi masyarakat dengan begitu kuat.


Persepsi sendiri ibarat kacamata yang memberikan gambaran tentang sesuatu, saat kita menggunakan kacamata warna merah misalnya, maka sesuatu tersebut akan menunjukan warna kemerahannya. Itulah kekuatan dari media, menafsirkan dan menggerakan sekaligus.


Padahal tentu saja, masyarakat tidak tahu sama sekali, bahwa sebetulnya ada media-media yang bisa dibayar untuk mempublikasikan sebuah informasi. Tentu bukan dalam bentuk iklan, tetapi dalam bentuk-bentuk tayangan seperti halnya berita biasa. Saat kepengintan komersil bertemu dengan kepentingan publikasi seseorang, maka disitulah terjadi transaksi nilai, antara nilai material dengan nilai popularitas.


Saya tidak berpretensi, apakah popularitas Jokowi selama ini karena telah membayar media-media nasional yang ada untuk membeli jam tayang. Tetapi maksud saya, jika ingin menguasai massa, maka kuasailah media-media tersebut! Tetapi seperti dikatakan oleh Hermawan Kertajaya, seorang pakar marketing, bahwa sebuah merek yang akan abadi berada di pasaran adalah sebuah merek yang memiliki karakter; Kejujuran, integritas, keberanian, keberpihakan dll.


Begitupun dengan Jokowi, Popularitasnya mudah-mudahan berangkat dari karakter-karakter asli yang dimilikinya, agar Rakyat Jakarta tidak kehilangan Harapan! Semoga calon yang berkarakterlah yang menang, pemimpin tidak hanya cukup dengan bersih saja.


Bandung, Karang Setra 16.32 11/07/2011


Salam Bandung Kompasiana!



Abah Raka

/dudirustandi

TERVERIFIKASI (HIJAU)

#personal blog: http://urgar.com
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?