Nikmatnya Ngesek

12 Juli 2010 00:17:00 Dibaca :

Suatu saat saya kedatangan SPG, cantik dan seksi. Maksudnya menagih uang pesanan barang yang ditawarkan, saya ajak keruangan saya, saya bayar, ngobrol sebentar urusan selesai. Tidak ada yang diperbuat selain itu diruang kerja saya. Sepeninggal SPG itu saya berkumpul kembali dengan teman kerja saya, saya buat cerita kalau saya baru saja ngesek dengan SPG itu, semua senang mendengarnya dan tertawa membayangkan nikmatnya ngesek. Tetapi yang jelas cerita saya tersebut membuat iri kawan2 saya, iri dengan perbutan nikmat ngesek bersama wanita itu. Kemudian saya tawari kawan saya jika berminat dengan wanita yang bisa diajak happy2, pencet nomor HP tersambung, saya louds suaranya, diujung sana suara wanita genit menerima tawaran berkaraoke. Teman saya menganggap saya banyak menghimpun wanita, padahal yang saya telpon tadi adalah pemandu lagu karaoke yang profesinya menemani menyanyi. Saya telpon lagi yang lain, wanita salon langganan potong rambut, langsung saja dia meminta saya datang karena saya sudah lama tidak potong rambut disalonnya. Kawan saya tambah kagum, dikira saya jagoan wanita, padahal wanita tersebut beramah2 dan bergenit2 agar saya sering mengunjungi salonnya. Intinya kalau kita memiliki uang cukup, kita dapat memilih berteman dengan wanita seperti apa dan agar pelanggannya setia biasa menggunakan manis mulut dan bergenit2. Suara mulut manis biasa mengundang bayangan kenikmatan ngesek, membayangkan saja nikmat, apalagi melakukannya.

Itulah dunia keseharian kita, wanita mencari nafkah dengan berbagai cara sampai menjajakan tubuhnya dan tentunya yang bisa masuk dalam dunia wanita berjasa seperti itu kalau kita mempunyai dana untuk disisihkan. Berhubungan dengan wanita sering dianggap akan berakhir dengan sex jika terlihat akrab. Seorang wanita yang bersedia berjalan berdua dengan lelaki pada dasarnya dia mempercayai pria tersebut. Sering saya bercanda colak colek wanita didepan kawan2 saya, dia tidak marah bahkan diajak pulang berduapun mau. Keakraban yang ditunjukkan didepan orang lain sering mengundang kecurigaan adanya hubungan yang menjurus. Memang sering terjadi, berawal dari keakraban menimbulkan perselingkuhan. Seorang wanita, jika tidak suka dengan seorang pria, tentu akan marah jika dicolek, apalagi didepan orang lain dan jika menuntut maka pasal pelecehan sudah memenuhi syarat. Tetapi sebaliknya, jika hati kecil wanita itu suka, dipeluk diciumpun tidak marah, karena memang dia berharap diperlakukan seperti itu.  Lelaki normal, memeluk atau mencium, walaupun bercanda pasti menimbulkan rangsangan, si otong pun akan bergerak menanyakan apa yang terjadi, sebuah respon dari otak yang mempengaruhi libido.

Setiap lelaki normal akan menyukai video porno, ada yang terus terang tetapi ada yang malu mengakuinya sebagaimana melakukan onani. Naluri sex tidak perlu belajar karena setiap manusia sudah dilengkapi dengan naluri itu untuk reproduksi. Kalau artikel kompasiana yang berbau sex disukai, itu adalah kewajaran dan manusiawi sekali. Kalau saat ini dihebohkan oleh adanya peredaran porno itu sesungguhnya manusia Indonesia masih sangat normal tetapi konotasinya menjadi perusak moral bangsa. Padahal jika kita telisik lebih dalam, tingginya tingkat kelahiran itu dapat dilihat dari tingginya minat baca artikel sex atau nonton video juga. Sebab, muara dari tingginya dorongan sex akibat nonton atau baca yang ngesek2 itu adalah reproduksi manusia itu. Dilarang2, justru menjadi iklan ngesek dan yang paling mengkhawatirkan bukan masalah degradasi moralnya, tapi peledakan penduduk itu sebab jika peledakan penduduk indonesia tidak terkendali dapat menimbulkan masalah berkepanjangan terutama masalah lapangan kerja dan akan menimbulkan kerawanan sosial.

Soal video porno, dicegah dan dibatasi bagaimanapun akan selalu dicari terus dan tidak dapat dihentikan. Dinasehati dengan pesan moral juga tidak efektif, dirazia juga begitu. Siwsa sekarang sudah pintar mengakali, UN saja bisa diakali pakai HP, bawa HP dua, yang satu dikumpul, yang satunya lagi dikantongi. Soal UN kan sudah menjadi prestise yang membuktikan sekolah negeri bermutu baik, yang jujur seperti pesantren banyak yang tidak lulus.  Anak sekolah sekarang juga sudah banyak yang menjadi oposisi, karena sering ada razia HP, tidak bisa nonton justru berbuat, rame2 lagi. Kecil2 sudah menjadi oposisi, mestinya yang diperhatikan bukan pada video pornonya tetapi pengenalan sex sehingga pelajar tidak praktek sendiri. Praktek mesum2an karena kurang pemahaman tentang reproduksi sehingga banyak terjadi anak terlantar karena tidak siap menjadi orang tua.

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?