Doni Swadarma
Doni Swadarma

Menghabiskan masa kecil sampai SMA-nya di seputaran terminal Blok M, setelah menyelesaikan pendidikannya di Teknik Sipil UI, mendedikasikan diri di dunia pendidikan sambil mengamati banyak hal yang dituangkan dalam bentuk tulisan

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Untuk Semua

12 Oktober 2015   12:45 Diperbarui: 14 Oktober 2015   05:44 42 0 1

“Anaknya sekolah di mana jeng?” Seorang ibu muda bertanya pada kenalan lamanya, seorang wanita berhijab saat keduanya bertemu di sebuah mall di bilangan Jakarta Timur. “Di SD XXX Bu” jawab wanita berhijab tersebut, sambil mengusap rambut anak lakinya yang lucu berusia 7 tahunan. “Ooo SD XXX ya? tahu enggak jeng saya sering dengar dari teman-teman di kompleks, katanya SD XXX, termasuk SMP dan SMA-nya itu yang punya orang syiah lho. Terus, katanya bangunan serbaguna di sekolah tersebut sering digunakan untuk acara nikah mut’ah massal”. Wow, aku tertegun, sudah sering saya mendengar hal-hal seperti ini. Anakku dua orang di sekolahkan di sana, bahkan suamiku adalah salah satu kepala sekolahnya, bagaimana mungkin saya bisa percaya ? begitu wanita berhijab tersebut membatin.

“Maaf bu, saya ingin bertanya, apakah Ibu pernah datang langsung ke lingkungan sekolahnya?” tanya wanita berhijab tersebut sambil tersenyum ramah. “Belum sih bu”, jawab ibu muda itu.

Wanita berhijab itu lalu melanjutkan, “Atau ibu kenal dan pernah berinteraksi langsung dengan guru, karyawan dan ustadz-ustadz yang ada di sana? belum juga”, jawab ibu muda itu kembali.

“Atau ibu pernah sholat di masjid, ikut pengajiannya dan bertanya pada warga sekitar yang dalam kesehariannya memang membaur dengan lingkungan sekolah? Apalagi itu bu, saya cuma dengar dari teman-teman aja kok, katanya sih mereka juga tahunya dari berita media-media online, whattsapp, BBM dan sejenisnya gitu deh” jawab ibu muda itu lagi sekenanya.

“Begini saja bu, daripada ibu bertanya-tanya pada saya, dan kalau saya menjawab pun nantinya cuma dianggap membela belaka, lebih baik ibu datang langsung dan silahkan ibu melakukan penyelidikan diam-diam, tanpa sepengetahuan pihak sekolah. Dan satu lagi, jangan percaya pada omongan saya, guru, karyawan, ustadz dan warga lokal atau siapapun sebelum Ibu membuktikannya sendiri. Dengan mantap dan penuh percaya diri wanita berhijab tersebut menutup pembicaraan. Ibu muda tersebut hanya melongo tak bisa berkata-kata lagi……

Dialog tersebut bukanlah sekedar rekayasa, tetapi berdasarkan kejadian nyata dan sudah sering saya mengalaminya. Bagi siapapun pasti sepakat bahwa pendidikan adalah hal utama. Karena dengan pendidikanlah fikroh (pola pikir), tsaqofah (wawasan), akhlak bahkan aqidah anak akan terwarnai. Tak heran bila para orang tua sangat selektf dalam menentukan sekolah bagi anak-anaknya.

Banyak diantara oang tua murid yang memilih lembaga pendidikan yang memiliki banyak persamaan dengan mereka. Walaupun tak semuanya, namun dari semangat inilah maka para orang tua murid lebih nyaman dan “nyambung” bila menyekolahkan anak-anaknya ke tempat yang memiliki kesamaan dengan mereka, entah itu agama tertentu (sekolah Islam, Kristen, Budha), etnik tertentu (sekolah China, India, Jawa, Batak), pilihan politik tertentu (SDIT, Muhamadiyah, NU), status sosial ekonomi tertentu (sekolah Internasional, IB school, sekolah dhuafa, sekolah jalanan) dan lain-lain. Namun yang harus kita sadari adalah, pendidikan adalah kebutuhan, hak dan kewajiban tiap anak. Oleh karenanya pendidikan haruslah terbuka dan siap menerima anak dari latar belakang apapun. Pendidikan untuk semua.

Saya teringat dengan Finlandia, negara imut di wilayah Skandinavia. Walaupun negara kecil namun sistem pendidikannya luar biasa. Di sana, negara mewajibkan janin yang masih berusia 2 bulan dalam kandungan ibunya sebagai peserta didik. Artinya, pemerintah di sana menyediakan sekolah bagi ibu-ibu hamil tersebut sesuai dengan bulan kehamilannya. Mereka mengikuti senam ibu hamil, terapi ibu hamil dan program ibu hamil lainnya sehingga dapat menstimulus kecerdasan bayinya sejak awal.

 

Pemerintah juga menyediakan Kela maternity box yang berisi segala kebutuhan bayi, seperti aneka pakaian, snowsuit, handuk, sleeping bag, mainan anak, sikat gigi, popok, kain, buku cerita, dll.  Pokoknya semua kebutuhan bayi saat mereka lahir nanti sudah tersedia, yang tidak ada hanyalah botol susu dan dot. Mengapa? karena pemerintah menginginkan semua bayi di negara itu dapat menikmati air susu ibu secara eksklusif, bukannya susu formula. Hebatnya lagi, kebijakan ini berlaku untuk semua warga negara tanpa terkecuali, apapun latar belakangnya. Dan prinsip persamaan seperti ini terus berlanjut hingga jenjang pendidikan berikutnya. Tak heran bila Finlandia menjadi negara dengan kualitas pendidikan terbaik di dunia, sebab mereka benar-benar serius dalam memberikan pelayanan pendidikan yang berkualitas pada warganya.  Pendidikan yang bersumber pada nilai-nilai kebaikan universal seperti melayani, kemandirian, tanggung jawab, toleran, saling menghormati, sabar, jujur, amanah dan lain-lain yang sebenarnya telah terakomodir dalam ajaran Islam.

Bukan itu saja, sekedar informasi tambahan, berdasarkan penelitian sosial bertema ”How Islamic are Islamic Countries” yang dilakukan oleh  S Rehman dan Hossein Askari dari The George Washington University pada November 2013, ternyata dari 208 negara yang diteliti dalam hal penerapan ajaran islami secara keseluruhan, ternyata  Finlandia berada di urutan ketiga dibawah Selandia Baru dan Luxemburg. Sedangkan Indonesia berada di urutan 140, sama halnya dengan negara-negara OKI lainnya, yang rata-rata berada di urutan ke-139. Hal tersebut dikarenakan di negara yang penduduknya mayoritas beragama Islam justru menjadikan agama sebagai alat kekuasaan, tidak adil, korup, terbelakang, tak ada pemilihan, opresif, memiliki pemimpin yang tak adil, tak ada kesetaraan di depan hukum, tak ada kebebasan, kesenjangan sosial yang besar, tak mengedepankan dialog dan rekonsiliasi. Jelas tidak menunjukkan nilai-nilai Islami.

Jadi menurut hemat saya, silahkan saja membuat sekolah dengan kecenderungan diperuntukkan bagi kelompok tertentu berdasarkan persamaan tertentu pula, namun jangan sampai hal tersebut justru mengakibatkan masalah baru karena anak-anak malah tidak terbiasa dengan perbedaan, seakan dipaksakan memiliki persamaan sudut pandang, dan pada akhirnya berpotensi menumbuhsuburkan sikap ego golongan.

Apa jadinya bila anak-anak di pedalaman Papua  dilarang masuk sekolah Islam/Kristen  lantaran orang tuanya beda agama dengan pihak sekolah, padahal hanya ada satu sekolah di tempat tersebut?  Atau anak usia 5 tahun ditolak masuk TK oleh pihak sekolah lantaran orang tuanya meyakini Ahmadiyah atau Syiah sebagai keyakinannya? Itu pun bila memang terbukti, tetapi kalau hanya isyu dan fitnah? Atau orang tua salafi yang marah dan memindahkan anaknya dari sekolah lantaran tidak terima anaknya diajarkan sholat dengan qunut oleh guru agamanya di sekolah?  Atau orang tua yang marah lantaran anaknya pulang dengan membawa souvenir yang dibagikan di sekolah berupa stiker dan atribut  partai politik tertentu yang berbeda dengan pilihan orang tuanya?    

Bila itu yang terjadi, maka disadari atau tidak kita telah mengajarkan masyarakat untuk membenci perbedaan dan mengkotak-kotakkan diri mereka bahkan sejak masih kanak-kanak…….

 

12 Oktober 2015

Doni Swadarma