Djohan Suryana
Djohan Suryana Pensiunanl

Hobby : membaca, menulis, nonton bioskop dan DVD, mengisi TTS dan Sudoku. Anggota Paguyuban FEUI Angkatan 1959

Selanjutnya

Tutup

Jakarta

Kisah Seorang Sopir Blue Bird

4 Agustus 2017   03:44 Diperbarui: 4 Agustus 2017   04:06 200 3 0

Akhir-akhir ini tampaknya taksi Putra, langganan saya sejak belasan tahun yang lalu, semakin redup dan merana. Setiap kali menghubungi call centre selalu tidak ada jawaban. Akhirnya, saya menghubungi call centre Blue Bird yang langsung dijawab oleh operatornya dan dalam waktu 10 menit taksi Blue Bird sudah tiba di depan rumah. Karena itu, dengan berat hati, sekarang aktivitas keluar saya menggunakan taksi Blue Bird. Saya masih belum terbiasa menggunakan aplikasi Uber atau Grab Car atau MyBlueBird. Alat komunikasi kuno saya masih pakai Nokia yang masih berfungsi dengan sangat baik.

Demikianlah, pada tanggal 3 Agustus 2017, saya menggunakan taksi Blue Bird dari Tanjung Barat ke Menara Kuningan, Jalan Rasuna Said. Sopirnya bernama Mardian dengan kode pintu HK, kode pool Cimanggis, Jakarta Timur. Usianya sekitar 30-40 tahunan. Ternyata ia pernah membawa isteri saya ke kantornya di Kebon Jeruk. Sangat jarang terjadi, diantara sekian ribu taksi Blue Bird, ada taksi yang sama yang dua kali digunakan dalam waktu sekitar dua minggu.

Sepanjang perjalanan, Mardian, sambil tetap waspada dalam mengemudikan taksinya, mengisahkan pengalamannya. Ia berasal dari Garut, Jawa Barat. Baru delapan bulan ia bergabung dengan Blue Bird setelah selama delapan bulan pula keluar dari taksi yang menggunakan aplikasi alias taksi online. Ketika ia ikut dalam program taksi tersebut ternyata ia tidak mampu memenuhi kewajiban untuk mencicil mobil Avanza yang digunakannya, karena hasil yang diperolehnya tidak mencukupi sebagai akibat persaingan yang semakin ketat. 

Bulan kesatu sampai dengan bulan keenam ia mampu mencicil, tetapi bulan ketujuh gagal dan bulan kedelapan pun gagal. Uang muka sebesar Rp 19 juta pun melayang. Dan ia kemudian memilih untuk bergabung dengan Blue Bird dengan pertimbangan nama baik serta bonafiditas Blue Bird sejak tahun 1960-an merupakan jaminan ketangguhan perusahaan ini untuk bertahan ditengah gelombang persaingan dengan taksi online.

Selama delapan bulan terakhir ini ia merasa nyaman bergabung dengan Blue Bird. Ia tidak pernah "mangkal" di hotel atau shopping centreatau pangkalan lainnya. Ia selalu berkeliling, karena menganggap bahwa rezeki taksi tidak berada di hotel atau shopping centre, melainkan ada di jalanan. Jalanan macet adalah risiko. 

Demikian pula penumpang jarak dekat adalah risiko yang tidak boleh ditolaknya. Ia selalu berpikir optimistis, siapa tahu dari jarak dekat ia kemudian memperoleh penumpang jarak jauh. Ia juga selalu mengupayakan untuk sholat lima waktu di tengah kesibukannya mencari rezeki tersebut. Sebab ia sangat menyadari bahwa segala sesuatunya, baik rezeki maupun kehidupannya amat bergantung kepada Yang Diatas, Allah SWT.

Pengalaman yang menarik adalah ketika ia membawa seorang warga Tiongkok dari sebuah hotel di LTC (Lindeteves Trading Centre),Glodok, ke Plaza Indonesia. Semula, calon penumpang yang memesan taksi Blue Bird melalui resepsionis hotel ini, menolak untuk naik taksinya karena ia melihat pintu taksinya adalah "Pusaka". Setelah dijelaskan oleh Satpam hotel tersebut bahwa "Pusaka" adalah bagian dari Blue Bird serta di kaca depan mobil tercantum sticker Blue Bird, barulah ia percaya dan mau naik taksinya. Jadi tampaknya orang asing lebih percaya kepada Blue Bird daripada taksi lainnya. Mardian pun semakin yakin bahwa pilihannya untyuk bergabung dengan Blue Bird tidaklah keliru ..... 

Ia pun pernah menolak seorang penumpang yang ingin merokok di dalam taksinya, padahal anak dan isterinya sudah masuk kedalam taksi. Alasannya adalah penumpang lainnya nanti akan tidak nyaman kalau naik taksi yang bau asap rokok. Penumpang itu pun batal naik taksinya. Dan Mardian tidak menyesal karena penumpang tersebut membatalkan naik taksinya. Taksinya tetap terjaga kebersihannya. Ia telah berusaha untuk menjaga nama baik Blue Bird, perusahaan tempat ia bernaung dan menangguk rezeki.