Dina Oktaviana
Dina Oktaviana

music addict, esspecialy pop-jazz. love journalism. @dinaaoktaviana

Selanjutnya

Tutup

Siapa Itu Haji Lulung dan Bang Ucu?

5 Agustus 2013   12:31 Diperbarui: 24 Juni 2015   09:36 62878 12 19

Belakangan ini masyarakat dibuat "melongo" dengan perdebatan antara Wakil Gubenur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama Alias Ahok dengan anggota DPRD DKI Jakarta Abraham Lunggana Alias Haji Lulung. Hal ini tentu saja terkait masalah relokasi para PKL (Pedagang Kaki Lima) yang berdagang di Tanah Abang.

Hal ini bermula ketika Ahok meminta para PKL Tanah Abang untuk berelokasi tempant berdagang mereka. Yang sebelumnya mereka berdagang di pinngir jalan atau trotoar pasar Tanah Abang untuk menempati Blok G pasar tanah abang. Namun para PKL ini seperti tidak "menggubris" perkataan Ahok selaku wakil gubernur. Kemudian dari sinilah disinyalir "ketidaktakutan" para PKL lantaran dibekingi oleh orang besar.

Menurut salah satu PKL yang tinggal tak jauh dari rumah saya mengatakan, kalau mereka enggan direlokasi karena blok G itu kerap banjir. Selain tentu saja karena mereka merasa aman tetap bersikeras tidak ingin direlokasi karena mereka sudah membayar uang sewa lahan tersebut, dan percaya bahwa oknum yang menerima uang mereka akan menyelesaikan permasalahan ini, sebut saja mereka yang dimaksud adalah oknum besar yang bermain dibelakang kasus ini.

Meskipun Ahok tidak menyebutkan nama, bahkan inisial dari oknum yang diduga membekingi para PKL ini, namun para awak media berhasil melacak siapa orang yang dimaksud oleh Ahok. Padahal ketika itu Ahok hanya mengungkapkan bahwa oknum yg dimaksud adalah salah satu anggota DPRD DKI.

Terlepas dari masalah yang berangsur angsur mengait keranah politik, saya tidak akan mengangkat masalah politik yang "tercium" dibalik permasalahn ini. Saya justru tertarik untuk menyoroti siapa itu Haji Lulung? yang kemudian menjadi Head Line disejumlah surat kabar cetak maupun online dan juga di televisi.

Saya tidak mengenal Haji Lulung secara personal, tapi saya tidak asing dengan namanya. Tentu saja karna rumah saya masih satu daerah dengan salah satu istri dari Haji Lulung. Saya pribadi sangat terkejut ketika melihat nama Haji Lulung berda di head line news salah satu surat kabar ternama.

Dilingkungan rumah saya Haji Lulung dikenal sebagai sosok yang dermawan, seringkali dia menyantuni para janda dan juga anak yatim. Bahkan kalau tidak salah dia juga sering memberikan bantuan untuk sarana dan prasarana di lingkungan rumah. Dan ketika itu wajahnya kerap kali berada di pamflet di lingkungan rumah saya, tentu saja untuk hal ini dikarenakan ketika itu dia mencalonkan dirinya sebagai anggota DPRD DKI dari fraksi PPP.

Salah satu hal yang saya ingat ketika mendengar nama Haji Lulung adalah bawa dia memili isteri lebih dari satu, tapi saya tidak tahu berapa jumlah pastinya. Dan saya juga tidak mau terlampau ambil pusing dengan julamlah dari istri-istrinya. Sekali lagi, saya lebih tertarik dengan sepak terjangnya.

Saya sempat membaca salah satu artikel yang ditulis di sebuah media online yang menyebutkan kalau Haji Lulung sebelumnya hanyalah seorang pengumpul kardus dan barang-barang bekas di Tanah Abang.

Dan yang membuat saya berfikir keras adalah, keberhasilan seorang mantan pengepul barang-barang bekas seperti Haji Lulung yang sekarang menduduki jabatan strategis di pemerintahan dan juga disebut sebut berhasil menjadi "Big Bos" di  Pasar Tanah Abang lantaran semua uang retribusi, mulai dari retribusi parkir dan juga penyewaan tempat dagang PKL disebut-sebut masuk kedalam kekuasaannya.

Kalau ingin merunut bagaimana seorang Haji Lulung bisa menjadi "Good Father" seperti sekarang ini mungkinkin kita harus melihat ke beberapa tahun silam tapat nya sekitaran tahun 1996 dimana pada saat itu terjadi peralihan kekuasaan.

Saat itu terjadi perang terbuka antara kelompok Timor pimpinan Hercules Rozario Marshal, sebagai penguasa Tanah Abang, dengan jawara Betawi Muhammad Yusuf Muhi alias Bang Ucu. Haji Lulung pun merapat ke kelompok Timor dan memberikan dukungannya kepada Hercules. Tapi sayangnya Hercules gagal mempertahankan kuasanya di Tanah Abang.

Tersingkirnya Hercules membuat Haji Lulung ketar-ketir. Dia menjadi ‘buronan’ kelompok Betawi, karena dinilai sebagai pengkhianat lantaran lebih mendukung Hercules. Tapi dia beruntung lantaran diselamatkan oleh Bang Ucu. Dia pun tetap berusaha untuk menjadi salah satu pemain utama, meski Hercules sudah tersingkir.

Pada tahun 2000, dia mengambil alih kekuasaan Bang Ucu dan menguasai usaha perparkiran dan pengamanan di Tanah Abang. Dia mendirikan PT Putrajaya Perkasa yang bergerak di dua sektor usaha tersebut. Bisnisnya pun kian menggurita dan mempekerjakan ribuan orang. Namun begitu, dia tetap rutin mengirim setoran kepada Bang Ucu tiap bulannya.

Mungkin sebagian besar orang tidak mengetahui siapa itu Bang Ucu?, dan mengapa perrannya juga cukup "strategis" dalam permasalahan ini?.

Bang Ucu adalah orang yang dituakan ketika itu, hal ini tentu saja terkait karena dia "memegang kekuasaan" Tanah Abang pada masa itu. Bang Ucu sebenarnya adalah penduduk asli di daerah Kebon Pala. Nah Kebon Pala sendiri letaknya tidak terlalu jauh dari pasar Tanah Abang. Bang Ucu termasuk orang yang disegani di lingskungan daerah rumah saya, dan orang yang menceritakan kepada saya siapa itu Bang Ucu juga mengenal sosoknya. Menurutnya Bang Ucu tidak terlalu menonjol dalam hal fisik. Tubuhnya tidak atletis. Cuma memang dia "jago" saat "beladiri". Menurut sumber itu juga, saat ini Bang Ucu sudah tidak tinggal di daerah Kebon Pala, dan sekarang menetap di daerah pinggiran jakarta kalau tidak salah. Sama seperti Haji Lulung, Bang Ucu juga dikenal memiliki banyak istri. Bahkan kabarnya 6 istrinya tersebut rumahnya "dijejerin" di daerah Kebon Pala.

Beberapa tahun yang lalu rupaya Bang Ucu pernah datang ke daerah rumah saya, berhubung saat itu ada rekannya Bang Ucu yang menikahkan anaknya. Tapi sayang, saat itu nama Bang Ucu belum sepopuler sekarang. Jadi saya tidak sempat melihatnya.

Sebenarnya dalam kasus ini, Ahok juga ada benarnya, memang jalanan di Tanah Abang harus dibenahi, karena mcet parah. Apalagi saat-saat tertentu seperti lebaran. Namun hendaknya pemerintah khususnya pemprov ataupun pihak terkait juga harus peka dengan keaadan tempat pasca relokasi, sebut saja keadaan blok G yang dikeluhkan para PKL yang sering banjir. Mungkin alangkah lebih baiknya jika blok G dibuat layak huni, kalau misalnya banjir kan juga para PKL yang harus menanggung kerugian. Dan saya juga berpesan sebagai masyarakat biasa, agar mereka atau oknum yang berdiri dibalik PKL untuk jangan mempersulit relokasi. Walau biar bagaimanapun para PKL sudah menjadi "ladang" rejeki bagi mereka, tetapi kalau jalan yang macet kan tidak sedikit masyarakat yang dirugikan baik secara waktu ataupun materi. Lagipula kalaupun jalan lancar kan kita juga yang menikmatinya.

* Kalau kalian bertanya-tanya kenapa saya cukup mengenal nama Haji Lulung dan Bang Ucu, tentu saja karna saya tinggal tidak jauh dari kediaman istri Haji Lulung, kediaman Bang Ucu, dan pasar tanah abang. Saya sendiri adalah asli keturunan betawi. Dan keluarga saya sudah lebih dari 60 tahun tinggal di daerah tanah abang.

* Dan semua yang saya jelaskan tentang kedua sosok yang sedang menjadi "trending topic" ini adalah hasil dari cerita orang dekat saya dan juga disadur dari media online.

twitter: @dinaaoktaviana