Indonesia dan Memang Ancaman Negara Tetangga

31 Januari 2014 15:03:37 Diperbarui: 24 Juni 2015 02:17:31 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Indonesia dan Memang Ancaman Negara Tetangga
13910900351641149311

Bismillah,

foto HUT Kemerdekaan RI (sumber foto : ANTARA)
Belakangan ramai diberitakan tentang tensi ketegangan antara pemerintah RI dengan pemerintah Australia (yang kini dipegang oleh partai liberal yang konservatif), mungkin tak lupa juga ingatan bangsa ini dengan tensi ketegangan dengan Singapura tentang barter perjanjian ekstradisi dengan wilayah latihan militer di sebagian wilayah RI di Utara, juga dengan Malaysia yang sangat sering terjadi hingga belum jelas ujung solusinya apalagi masalah TKI dan wilayah perbatasan. Dengan politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif dan selalu konsisten menolak pendirian pangkalan militer asing negara non-ASEAN di ASEAN serta pakta pertahanan, menjadikan RI salah satu negara yang tidak bisa diintervensi asing termasuk dalam hal pertahanan dan keamanan, berbeda konteks dengan namanya pemberian hibah, latihan gabungan militer internasional, dsb. Melihat dari segi geografisnya, Indonesia diapit oleh dua benua dan dua samudera secara menyilang, menjadikan negara ini salah satu jalur pelayaran yang paling efektif dalam segi jarak tempuh dan paling efisien dalam waktu tempuh dengan 3 ALKI-nya (Alur Laut Kepulauan Indonesia/archipelago sea lanes passage). Begitupun secara geopolitik internasional, dimana Indonesia dikelilingi negara-negara persemakmuran Inggris (commonwealth) yang beberapa diantaranya negara anglo saxon (Australia). Yang juga terdapat aliansi Five Power Defence Arrangements (FPDA) yang mengelilingi Indonesia yaitu Malaysia, Singapura, Selandia Baru, Australia, dan Inggris. Siapa yang Mengancam? Siapa yang Diancam? Sudah sifat manusia memiliki rasa khawatir terhadap ancaman apalagi manusia-manusia membentuk sebuah kelompok (bangsa), bangsa membentuk sebuah negara. Adalah Australia kini yang dipimpin oleh partai liberal berhaluan konservatif yang terlalu berlebih menanggapi manuver politik dan militer Indonesia hingga mengakibatkan meningkatnya ketegangan antara Jakarta-Canberra. Masih belum hilang ingatan kita tentang bagaimana kelakuan Singapura terhadap Indonesia, dimana media yang memberitakan tentang reklamasi daratan Singapura yang lebih ke selatan atau yang sedang hangat kemarin adalah isu penyadapan. Bahwa jelas Singapura merupakan partner sejati AS di Asia Tenggara, satu-satunya bahkan melebihi Australia, cukup aneh. Secara teknis, kabel fiber bawah laut dari dan ke asia tenggara maupun Australia lebih banyak melewati Singapura, menjadikannya lebih mudah disadap oleh otoritas berwenang di Singapura. Entah ada apa, mengapa isu penyadapan hanya booming pada Australia, sedangkan Singapura maupun AS, lesu-lesu saja. Malaysia, negara serumpun yang memiliki berbagai masalah dengan Indonesia. Mulai dari masalah TKI, perbatasan darat dan laut di Kalimantan bahkan tak segan sering masuk teritori laut Indonesia, masalah klaim-mengklaim, dsb. Bila masalahnya "merasa terancam", sudah barang tentu negara yang paling sangat khawatir adalah Australia dan Singapura. Coba liat intensitas penyadapan juga kegiatan intelijennya, siapa yang paling sering? Meski kegiatan intel sangat rapi, tertutup, rahasia. Melihat sejarahnya, Singapura (yang waktu itu juga masuk negara Malaysia) telah disusupi dengan operasi DWIKORA, atau pesawat pembom dan kapal selam yang terakhir melakukan infiltrasi serta kegiatan lainnya yang berhasil menembus teritori Australia tanpa diketahui, dan yang terakhir yang membuat Indonesia bangga adalah aspek latihan gabungan di Pitch Black/2012 dimana semua tercengang karena Sukhoi Indonesia unggul hampir disegala aspek melebihi kemampuan F-18 Hornet Australia (pada latihan sebelumnya, tidak menggunakan pesawat sukhoi, melainkan F-5, dimana hampir disegala aspek Indonesia mampu memumpuni kemampuan dari F-18 Australia sendiri). Singapura dengan alutsistanya (alat utama sistem persenjataan) yang secara kuantitas dan kualitas lebih tinggi di kawasan alias berlebih untuk seukuran negaranya. Australia yang mengubah kebijakan pertahanannya setelah mengetahui kepemilikan sukhoi oleh Indonesia juga kemampuan pengempangan roket oleh LAPAN serta ToT rudal oleh China. Apa yang Membuat Indonesia Spesial? Singapura dan Australia dengan industri pertahanan dalam negerinya mampu membuat logistik bagi urusan pertahanannya sendiri. Begitupun dengan Indonesia, hanya saja Indonesia memulai kreasinya dengan susah payah ketimbang kemudahan yang didapat negara commonwealth, kita harus buka mata. Pembuktian prajurit TNI di medan perang seperti keterlibatan pada pasukan perdamaian PBB di seluruh dunia (begitupun POLRI) beserta persenjataannya yang sebagian besar merupakan buatan dalam negeri. Adalah kemampuan produksi senapan SS Pindad (SS-1, SS-2, SS-3) dan Panser Anoa yang membuktikan performanya di Lebanon (seperti diketahui panser 4X4 tidak cocok untuk medan berat di Lebanon dibanding 6X6). Pembangunan kapal-kapal tipe tempur dan angkut logistik di beberapa galangan kapal nasional dan peningkatan produksi pesawat atau heli pertahun di PTDI serta riset-riset teknologi pertahanan (termasuk senjata, roket, dsb) oleh beberapa instansi terkait, dibarengi peningkatan anggaran pertahanan, menjadikan dunia internasional membuka mata terhadap Indonesia, sama halnya dengan kekuatan baru China dan India. Adanya geopolitik internasional yang mengkhawatirnya politik dua kaki Indonesia yang tidak terlalu memihak negara barat maupun China, menjadikan arahan Indonesia sulit ditebak untuk kedepannya. Indonesia lebih spesial daripada Australia. Anti-Klimaks Dengan Australia? Tak ada yang tahu apa yang terjadi selanjutnya. Tapi menanggapi tudingan-tudingan media dan masyarakat serta unsur pemerintahan dari Australia yang menyatakan tensi ketegangan ini akibat akan diadakannya pemilu sehingga para pejabat Indonesia mencari muka, mungkin itu cukup kurang tepat dan alasan ngeles yang paling tidak masuk akal. Coba kita simak media asing sewaktu Indonesia bertegangan dengan Malaysia, siapa yang selalu diberitakan menerobos wilayah kedaulatan suatu negara? Coba simak siapa yang menampung para pengungsi yang menuju Australia? Lalu apa yang dilakukan Australia terhadap Indonesia? Satu hal yang pasti pernah ditekankan oleh Menteri Luar Negeri RI, Indonesia selalu menghormati negara lain dan tidak pernah melakukan hal-hal yang dilakukan oleh negara tetangga terhadap tetangganya sendiri (hal negatif seperti pelanggaran wilayah). Rasa aman hanya sementara dan hanya bisa bila semua negara bisa tunduk dalam satu 'pandangan', berbeda dengan Indonesia yang netral, bebas aktif, kemerdekaannya tidak diberi melainkan memakai pertumpahan darah. Terkadang seirama terkadang tidak dengan 'mereka'. Meski begitu, tidak ada jaminan bahwa dimasa depan tidak ada perang. Yang jelas negara ini tidak boleh berperang. Mengutip pepatah, menang menjadi abu kalah menjadi arang. Apa manfaat dari perang selain memuaskan nafsu pertumpahan darah demi ego!

Robbie Tom

/diecastomyretired

membuka dunia dengan membaca melatih diri dengan menulis
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana