Kisah Si Kucing Belang Si Kucing Malam

30 November 2011 23:31:24 Dibaca :

Tidak seperti beberapa bulan yang lalu, saat ini jalan Rojokoyo dusun Kesemek terlihat sepi. Jika beberapa bulan yang lalu masih dijumpai makhluk-makhluk berkaki empat berseliweran di pinggir-pinggir jalan, maka saat ini terlihat begitu berbeda, hampir tidak akan dijumpai makhluk-makhluk itu. Jalan Rojokoyo hanyalah sebuah jalan kecil yang lebarnya cuma cukup untuk dilewati satu mobil, meskipun sempit, jalan itu sudah beraspal, tidak seperti jalan kampung kebanyakan. Jalan Rojokoyo sebelumnya pernah dikenal sebagai jalan kucing dan juga jalan pensiunan, lantaran sebagian besar warga yang tinggal di kanan kiri jalan Rojokoyo telah berusia lanjut dan mereka sangat menghargai kucing. Tampaknya segala macam kucing pernah hidup di sana. ------------------ Kucing di seberang jalan Rojokoyo itu secara fisik terlihat lemah dengan jalan gontai, tampak rambut-rambut kucingnya sudah tidak berbekas lagi, lebih mirip dengan seekor tikus got. Entah berapa umurnya, mungkin sudah tua, tubuhnya kecil kurusĀ  seukuran anak kucing umur lima bulan. Meskipun begitu, si kucing yang berwarna abu-abu berpola belang itu sudah lama malang-melintang di dusun Kesemek, terutama sekitar jalan Rojokoyo. Tidak ada yang tahu asal-muasal kucing belang itu. Bahkan kakek nenek yang tinggal di ujung jalan Rojokoyo pun tidak mengetahui secara pasti asalnya. Pasangan kakek nenek itu pernah bercerita bahwa si kucing belang itu sudah hidup di dusun Kesemek sejak mereka masih belia. Si belang adalah maskot warga dusun yang tinggal di samping kanan kiri jalan Rojokoyo, lantaran beberapa warga dusun menganggapnya mempunyai kelebihan dibanding kucing-kucing lainnya. Pernah suatu hari, tepatnya setahun yang lalu, musibah selalu silih berganti menimpa si belang, diantaranya berulang kali keserempet sepeda motor, mobil, bus, dan hampir terlindas truk pengangkut pasir di jalan raya antar kota yang letaknya tidak jauh dari jalan rojokoyo, kurang lebih berjarak sekitar satu kilometer. Walaupun musibah berulangkali menyapanya, si belang tetap saja masih lincah berlarian seperti biasanya. Ajaib memang, namun itulah kelebihan yang diberikan Pencipta untuk si belang. Kakek nenek yang tinggal di ujung jalan rojokoyo tempat si belang tinggal sering memanggil si belang dengan sebutan "Mbah" lantaran menurut pasangan tua itu, si belang atau Mbah mereka anggap telah berumur sangat tua, bahkan lebih tua dari mereka, selain itu keajaiban si belang-lah yang telaah menjadi alasan lainnya. Sudah sejak puluhan tahun lampau, warga dusun di sekitar jalan Rojokoyo mempunyai toleransi yang sangat tinggi terhadap kucing-kucing jalanan, sehingga setiap hari selalu terlihat kucing baru yang menghuni jalan Rojokoyo. Entah dari mana asal-muasal kucing-kucing yang selalu berdatangan itu, misteri itu belum terungkap sampai saat ini. Namun, beredar beragam kabar dari penghuni sekitar jalan Rojokoyo. Salah satu cerita berasal dari nenek pemilik warung nasi di dekat pertigaan jalan Rojokoyo, beliau berujar bahwa si belang-lah yang selalu membawa kucing-kucing baru datang ke jalan Rojokoyo. Cerita ini pun belum tentu benar. Kisah lain berasal dari kakek yang menghuni rumah tua gaya Eropa yang letaknya tidak jauh dari gapura jalan Rojokoyo, menurut beliau, jalan Rojokoyo di masa lampau adalah sebuah kerajaan para kucing. Meskipun kebenaran cerita masih menjadi tanda tanya, warga dusun tidak pernah meributkannya. Mereka tetap menerima kehadiran kucing-kucing itu, dan mereka pun menganggap bahwa semakin banyak kucing akan menambah pundi-pundi rejeki mereka. Toleransi tampaknya telah menjadi cerita lama, saat ini, banyak warga tua telah meninggal dunia, terutama dalam bulan ini, sehingga menjadi bulan berkabung warga dusun Kesemek. Sekarang ini hanya tersisa tiga orang warga tua. Seiring berkurangnya warga tua, berkurang pula kesahajaan di dusun Kesemek. Keadaan ini diperparah dengan kehadiran warga baru yang notabene tidak mempunyai ikatan apapun dengan dusun Kesemek. Tepatnya dua minggu ini, banyak warga baru yang datang dan tinggal di sekitar jalan Rojokoyo. Menurut desas-desus yang beredar, mereka memilih tinggal di sana akibat harga rumah yang sangat murah. Mereka menempati rumah-rumah tua yang sudah ditinggalkan penghuninya. ---------------------- Si belang, kucing yang dulunya pernah menjadi maskot kampung jalan Rojokoyo, sekarang telah menjadi sampah dusun Kesemek. Hampir semua warga baru di jalan Rojokoyo memperlakukan si belang dengan tidak wajar, tidak ada yang berani mencegahnya, tiga orang warga tua sekalipun. Dua hari yang lalu, penghuni rumah samping perempatan menendang si belang dari lantai dua lantaran mereka menganggap si belang mencuri daging ayam yang baru dimasaknya. Tidak hanya itu, kemarin, penghuni rumah dekat warung nasi nenek yang tinggalnya dekat pertigaan jalan Rojokoyo, seenaknya menendang si belang sampai jatuh di tengah jalan Rojokoyo, dan malangnya sebuah sepeda motor melaju kencang dan akhirnya menyerempet si belang, bulu yang bertebaran memenuhi aspal jalan tidak menyebabkan nyawanya melayang. Tak hanya itu, si pemilik rumah tersebut pagi tadi terlihat sempat menyiramkan air panas ke tubuh si belang. Dan seorang pemilik rumah lain bahkan sempat memukul punggung si belang dengan tongkat kasti, tidak hanya sekali tetapi berulang kali, terlihat si belang hanya meringkukkan tubuhnya tanpa mengerang, entah sakit atau tidak, tidak ada yang tahu. Bagi si belang, peristiwa itu mungkin dianggapnya sebagai konsekuensi atas perubahan jaman yang harus ikhlas dijalani. Seiring kejadian yang menimpa si belang, kucing-kucing lainnya yang pernah merasakan kedamaian di jalan Rojokoyo serta-merta menghilang dengan sendirinya. Keadaan ini telah membuat nenek yang mempunyai warung nasi jatuh sakit lantaran selalu memendam kepedihan dan kesedihan atas peristiwa yang tengah terjadi di dusunnya itu, sehingga sejak kemarin si nenek dibawa ke panti jompo yang letaknya agak jauh dari rumahnya. Seperti yang pernah dikatakan oleh warga tua, si belang nampaknya benar-benar memiliki kelebihan. Walaupun penganiayaan demi penganiayaan menjadi makanan sehari-hari si belang, dia terlihat masih bertahan hidup, hanya terlihat bagaikan seekor tikus got. Tampaknya seiring hilangnya warga asli, kedigdayaan si kucing belang juga mulai meredup. ditulis juga di wirakid.blogspot.com

Dicky Wibowo

/dicky_wibowo

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Pegiat Gerakan Peduli Biodiversitas Indonesia. Aktif menulis dan memotret di www.wirakid.com dan www.fotokabar.com dan www.peduli-biodiversitas.com
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?