HIGHLIGHT

Filosofi Kepemimpinan di Minangkabau

07 September 2010 03:45:00 Dibaca :

Filosofi kepemimpinan di Minangkabau terdiri dari kalimat: Ditinggikan se ranting, di dahulukan selangkah. Ditinggikan se ranting mengandung makna yaitu: Sang pemimpin begitu dekat dengan rakyat yang dia pimpin. Bila dia berbicara akan jelas terdengar oleh rakyat yang dia pimpin, tanpa harus punya perantara atau juru bicara yang memungkinkan terjadinya salah penyampaian maupun salah penafsiran. Karena kedekatan antara pemimpin dan yang dipimpin, rakyatpun tak harus berteriak untuk menyampaikan setiap permasalahan yang timbul di tengah rakyat. Dengan dekatnya pemimpin dengan rakyatnya, sang pemimpinpun akan merasa malu bila melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma dan kepatutan, karena rakyat selalu mamantau kinerja sang pemimpin. Didahulukan se langkah mengandung makna: Bila sang pemimpin salah dalam melangkah, rakyat akan segera memberi tahu, agar sang pemimpin membetulkan langkahnya sehingga ayunan langkahnya dengan rakyat tidak timpang sehingga menjadi serentak dan seirama. Dengan pengertian, apapun kebijakan dan keputusan yang diambilnya, semua demi kepentingan rakyat dan tidak bertentangan dengan kebutuhan rakyat yang dipimpinnya, dan rakyatpun akan mengikutinya dan mematuhinya, karena telah menjadi komitmen bersama. Dengan didahulukannya sang pemimpin hanya selangkah, jika dia tersesat kearah yang bukan menjadi tujuan bersama yang telah disepakati sebelumnya, rakyat akan segera mengetahui dan mengingatkannya agar kembali kejalan yang telah di sepakati itu. Hingga rakyatpun tak kehilangan arah, karena pemimpin mereka masih berjalan di depan mereka kearah tujuan yang benar. Lalu bagaimana rakyat menyikapi sang pemimpin? Jawabannya: Rajo alim rajo di sambah, rajo zalim rajo disanggah Postingan sebelumnya: http://didikan-subuh-di-mana-kau-kini/ Postingan teman yang sayang untuk dilewatkan: @ Della Anna            http://belanda-lari-gondol-nasi-goreng-ketika-kolonialisme-usai/ @ Iden Wildensyah   http://saat-gubernur-narsis/ @ Ouda Saija           http://fiksi-kilat-bagaimana-kalau-dibukukan-oleh-kompasiana-ya/ @ Ragile                   http://mengapa-atheis-jadi-warga-negara-kelas-dua/ @ Siveria Verawati  http://suara-beduk-dan-nastar-keju-mbak-rin-sore-ini/

Dian Kelana

/diankelana

TERVERIFIKASI (BIRU)

Ilmu tidak didapatkan disekolah, tapi pada kemauan belajar. dan Tuhan tidak akan mengubah nasib kamu, bila kamu sendiri tidak berusaha mengubahnya. Itulah pegangan saya dalam mencari ilmu secara otodidak. Kini berprofesi sebagai fotografer untuk setiap acara dan peristiwa. http://diankelana.web.id
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?