HIGHLIGHT

Sejuta Lilin Lambang Spirit Gus Dur

04 Januari 2010 19:40:00 Dibaca :

Dengan berjalan perlahan dari halaman Katedral Semarang, ratusan anak muda lintas agama berjalan perlahan menuju ke Tugu Muda. Pada barisan depan dua gadis membawa photo KH Abdurrahman Wahid (Gud Dur) dan Frans Seda. Disamping kiri kanan keduanya adalah Pendeta Rony Chandra Kristanto dan Pandita D. Henry Basuki. Romo Aloys Budi Purnomo memainkan baby saxophone melantunkan lagu Gugur Bunga yang diikuti dengan suara sendu dari semua peserta.Juga mengantar anak muda ini Teddy Kholliludin yang merupakan salah seorang pimpinan terkemuka Nadhlatul Ulama.

Lilin menyala dibawa masing-masing peserta, sebagian besar generasi muda penerus bangsa dari Lintas Agama: Islam, Katolik, Kristen Protestan, Hindu dan Buddha. Anak-anak muda ini dihantar oleh pemuka agama masing-masing.

Memasuki halaman Tugu Muda, Lukas Awi Tristanto yang mengarahkan barisan duka memberitahu kepada semua yang hadir di dalam bundaran Tugu Muda. Awi mengajak pengunjung ikut dalam kebersamaan memperingati 3 hari wafatnya Gus Dur., Terbentuk komunitas yang yang menyalakan sebanyak mungkin lilin sebagai lambang menyalanya semangat pluralisme, lambang hidupnya spirit perjuangan Gus Dur.

Acara teaterIkal dari Teater Mudika Gereja Bongsari mengawali acara. Seorang wanita berjubah menyampaikan orasi, dihiasi gerak-gerak para pemuda yang bertelanjang dada bergelimpangan di “lantai” Tugu Muda yang berbatu.

Orasi disampaikan juga oleh Romo Aloys Budi Purnomo, Tedi Kholliludin, Pendeta Rony C. Kristanto dan Pandita D. Henry Basuki kemudian pembacaan puisi kenangan dari seorang remaja putri Masjid Baiturrahman dilanjutkan penampilan Gambang Syafaat.Mahasiswa IAIN Walisongo Semarang juga melantunkan irama pujian. Seluruh karya budaya anak muda ini ditutup dengan doa, dimulai Romo Alyos Budi Purnomo (Katolik), Pandita D. Henry Basuki (Buddha), Arya (Hindu), Pendeta Rony C. Kristanto (Kristen) dan Teddy Khoilluddin (Islam).

Romo Aloys Budi Purnomo Pr menjelaskan bahwa sosok Gus Dur menjadi cahaya bagi keagamaan dan keberagaman masyarakat Indonesia. Dengan demikian tidak cukup hanya mengenang Gur Dur, namun kita kendaknya mempunyai komitment untuk mewujudkannya.

Dalam acara ini juga dikenang ekonom tiga jaman Frans Seda sebagai sosok pemuka masyarakat yang mempunyai komitment serupa.

Puluhan wartawan media elektronik dan cetak meliput acara ini serta meminta pendapat dari para “pemuka” yang mengampu acara “Sejuta Lilin Duka Untuk Gus Dur” yang diselenggarakan oleh generasi muda lintas agama di bundaran Tugu Muda pada Sabtu, 2 Januari 2010 malam ditengah ramainya aktivitas masyarakat yang bermalam minggu di sekitar tugu peringatan pertempuran lima hari Kota Semarang.

D. Henry Basuki

/dhenry.basuki

Kerinduan akan bersatunya seluruh lapisan masyarakat dalam suasana damai menjadikan tekun dalam Interfaith Comitte Kota Semarang (IFC), Hati Nurani Interfaith Forum (Hanif), Paguyuban Manusia Ranah Semesta (PAMARTA), Forum Keadilan dan Hak Azasi Umat Beragama (Forkhagama) serta Bhinneka Swa Budaya Nusantara (BSBN) Kiprah sebagai Pandita Agama Buddha dalam MAGABUDHI (Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia) bukan melulu melaksanakan pembinaan agama Buddha di pedesaan Jawa Tengah, namun berusaha mengembangkan serta memelihara budaya lokal maupun budaya nasional Indonesia yang pluralis.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?