Dhanang DhaVe
Dhanang DhaVe dosen

Biologi yang menyita banyak waktu dan menikmati saat terjebak dalam dunia jurnalisme dan fotografi saat bercengkrama dengan alam bebas www.dhave.net

Selanjutnya

Tutup

Jalan Jalan Artikel Utama

Teluk Mayalibit Laguna Raksasa Raja Ampat

1 Juli 2014   20:41 Diperbarui: 18 Juni 2015   07:57 887 10 9
Teluk Mayalibit Laguna Raksasa Raja Ampat
1404196037666721270

[caption id="attachment_345722" align="alignnone" width="640" caption="Papan peringatan dilarang menangkap ikan. Terpasang di dermaga teluk mayalibit (dok.pri)."][/caption]

"ingat sabtu dan minggu kitorang libur lobe supaya lema bebas bertelur dan jadi tambah banyak", sepenggal kalimat yang tertulis di sebuah dermaga di Warsambin. Kata-kata yang menjadi hukum adat yang begitu ditaati oleh penduduk dan siapa saja. Itulah sebuah kearifan lokal yang dipegang teguh oleh penduduk di Warsambin Distrik Teluk Mayalibit, Kabupaten Raja Ampat. Sebuah aturan yang ditunjukan agar ketersediaan ikan kembung masih terjaga, sebab di situlah daya tariknya.

[caption id="attachment_345723" align="alignnone" width="640" caption="Peta perjalanan menuju teluk mayalibit (sumber openstreetmap.org)"]

14041961061894994916
14041961061894994916
[/caption]

Teluk mayalibit bak danau raksasa yang membelah pulau waigeo menjadi 2 bagian. Teluk seluas 53.100Ha ini memiliki potensi keindahan dan kekayaan alam yang melimpah. Di teluk ini juga terdapat suku Maya, yakni suku asli di kepulauan Raja Ampat. Kawasan teluk mayalibit dibagi menjadi 3 distrik, yakni; teluk mayalibit, tiplol mayalibut dan waigeo timur. Bentang alam yang memukau adalah pesona tersendiri bagi pemuja keindahan alam, begitu juga dengan apa yang ada di dalamnya. Warsambin adalah desa yang terletak di distrik teluk mayalibit yang bisa diibaratkan las vegasnya raja ampat.

Perjalanan menuju Warsambin di awali dari kota Waisai. Ada 2 jalur yang bisa ditempuh untuk menuju warsambin. Bisa lewat laut yakni masuk teluk mayalibit dengan menggunakan perahu atau speed boat. Jika lewat darat bisa ditempuh dengan perjalanan sekitar 1 jam dengan jarak tempuh sekitar 35km. Perjalanan darat mungkin jauh memberikan sensasi tersendiri karena variasi jalan yang beragam berikut pemandangan alamnya.

[caption id="attachment_345724" align="alignnone" width="640" caption="Kondisi jalan menuju desa Warsambin. Nampak seekor elang sedang melintas (dok.pri)."]
14041961841753405425
14041961841753405425
[/caption]

Kami menumpang kendaraan dobel gardan yang disesuaikan dengan medan. Jalan berliku, kadang tanjakan, kadang turunan. Jalan sempit dari mulai beraspal, bebatuan, tanah liat, hingga kubangan. Hutan primer di sisi kiri jalan dengan pohon-pohon besar berusia ratusan tahun menjadi pemandangan yang mengagumkan. Di sisi kanan adalah rawa-rawa dengan tumbuhan bakau jenis Bruguiera ditandai dengan batang yang menjulang tinggi. Burung elang acap kali mengagetkan karena tiba-tiba melintas di depan kami lalu terbang menghilang. Biawak (Varanus salvator) lari terbirit-birit saat sedang berjemur begitu mendengar deru suara mesin. Suara burung nuri bersahutan dengan burung-burung enggang yang sangat khas suaranya.

Mobil meliak-liuk menghindari jalanan berlubang, dengan melewati beberapa perkampungan yang hanya di huni beberapa kepala keluarga. Yang menarik saya, di sini ada perkampungan yang seluruh warganya bekerja membuat batu bata. Selintas saya menyaksikan wajah-wajah yang tak asing lagi, ternyata mereka adalah pendatang dari pulau jawa. Mereka mengadu nasib dengan membuat batu bata dan rela tinggal ditengah hutan belantara raja ampat. "pakde, paklik, monggo, amit-amit, nyuwun sewu" kata-kata yang saya ucapkan ketika bertemu dan bertegur sapa dengan mereka. Wajah-wajah dengan senyum merekah pertanda rasa kangen yang terobati bertemu dengan sesama orang jawa.

[caption id="attachment_345725" align="alignnone" width="640" caption="Orang dari suku jawa banyak tinggal di sini sebagai embuat batu bata merah (dok.pri0."]
1404196266872092328
1404196266872092328
[/caption]

Naluri saya tiba-tiba mengatakan "stop" mendadak mobil berhenti lalu saya meloncat dari kabin depan dan segera berlari keluar. Suara gemuruh air terjun manarik hasrat saya untuk berlari menuju derasnya air yang menghujam. Sungguh indah air terjun ini dan di sana saya bertemu dengan ibu yang sedang mencuci dan memandikan anaknya. Pesona alam yang luar biasa, namun tak banyak yang bisa menikmatinya. Mungkin ibu dan anak ini tidak tersadar ini adalah sebagian surga yang jatuh ke bumi itu. Saya hanya ingin berkata, "ditempat saya tidak ada".

[caption id="attachment_345726" align="alignnone" width="640" caption="Air terjun bata merah, demikian nama tempat ini karena dekat dengan pengrajin bata merah (dok.pri)."]
14041963281062420982
14041963281062420982
[/caption]

Kamipun melanjutkan perjalanan. Sopir kami yang asli orang flores ternyata sudah berpengalaman melintasi jalan ini. Dia bisa memilih mana jalan berlubang, mana jalan yang keras sebab kami melewati jalan dengan air yang menggenang. Hanya kendaraan yang mumpuni saja yang berani lewat ini mengingat medannya yang sungguh berat.

[caption id="attachment_345730" align="alignnone" width="640" caption="Pada siang hari perkampungan nampak sepi dan begitu malam hari baru kemeriahan itu menyala, bak las vegasnya raja ampat (dok.pri)."]
14041966401599016063
14041966401599016063
[/caption]

Akhirnya setelah satu jam perjalanan lebih kami sampai disebuah perkampungan tepat di tepi perairan. Di sinilah desa Warsambin distrik Teluk Mayalibit. Desa yang tenang, sepi dan nyaris tidak ada kehidupan. Hanya ibu-bu dan anak-anak yang terlihat sepintas saja. Saya merasa langsung kerasan di tempat ini. Cuaca yang sejuk, air yang dingin ditambah dengan pesona alamnya. Sayang langsung berlari menuju dermaga dan ternyata teman saya sudah mendahului melompat ke airnya yang jernih dan disambut ikan-ikan kecil.

[caption id="attachment_345727" align="alignnone" width="640" caption="Anak-anak desa warsambin nampak riang saat bermain di dermaga (dok.pri)."]
14041963891158107938
14041963891158107938
[/caption]

Teluk mayalibit perairan yang membelah pulau waigeo seolah menjadi 2 bagian. sebuah long boat atau perahu panjang sudah datang. Dialah yang akan membawa saya dan teman-teman menuju beberapa sisi dari teluk Mayalibit. Perahu dengan kekuatan 15Pk sudah melaju menuju sisi utara. Parairan di sini sangat tenang, sehingga perahu bisa melaju dengan kencang denga kecepatan rerata 31km/jam.

Batu-batu gamping (lime stone) menjulang tinggi menjadi benteng di kedua sisi. Air yang jernih dengan warna hijau tosca karena adanya alga yang berkembang biak di sana. Ikan-ikan nampak berlarian kesana-kemari dan terlihat jelas dari atas perahu. Beberapa kali terlihat burung elang menukik tajam ke air lalu melesat lagi ke angkasa. Saya sampai terlupa kalau ditangan sedang memegang kamera. Saya teringat tempat ini tak beda jauh dengan pemandangan di Thailand di laut andaman dengan tempat familiarnya pulau James Bond.

[caption id="attachment_345728" align="alignnone" width="640" caption="Long boat jenis inilah yang akan mengantarkan menuju perairan teluk mayalibit (dok.pri0."]
1404196450917614648
1404196450917614648
[/caption]

Di siang hari aktifitas nelayan sangat sedikit, berbeda dengan malam hari. Pada malam hari biasanya mereka melakukan lobo, yakni mencari ikan dengan cara menggiring ikan menggunakan cahaya lampu petromak. Ikan yang mengikuti lampu akan dibawa di tepian lalu akan dimasukan dalam ruangan mirip benteng yang di susun dari batu. Setelah ikan masuk maka pintu akan ditutup dengan batu-batu dan saatnya nelayan menimba ikan dengan menggunakan jaring. Ikan yang diambil benar-benar terseleksi, hanya ikan dewasa saja yang diammbil dan sisanya dikembalikan di perairan. Sebuah kearifan lokal untuk upaya kelesetarian lingkungan.

[caption id="attachment_345729" align="alignnone" width="640" caption="Batu gamping yang menjulang tinggi menjadi pemandangan yang indah di tengah-tengah teluk (dok.pri)."]
1404196548619750984
1404196548619750984
[/caption]

Akhirnya penjejelajahan harus berakhir untuk sementara waktu. Kami kembali di dermaga yang disambut anak-anak dari warsambin. Kearifan penduduk disana mengajarkan bagaimana bersinergis dengan alam agar alam juga akan terus memberikan kehidupan kepada mahluknya. Dan sekali lagi sebelum didahului "byuuur" saya melompat.

video bisa dilihat

di sini