HEADLINE HIGHLIGHT

Berburu untuk Melukis Matahari

21 Juli 2012 01:59:02 Dibaca :
Berburu untuk Melukis Matahari
Menebak-neban lensanya apa, karya mba Aryani

1342835201792544628 "matahari tak menunggumu", itulah salah satu ucapan atasan saya yang masih berdengung di telinga hingga saat ini. Ceritanya, 5 tahun yang lalu sedang segar-segarnya lulus dari bangku S1 langsung kerja disebuah perusahaan pengolahan ikan milik PMA Jepang. Orang Jepang sudah tidak asing lagi memiliki etos kerja dan kedisiplinan yang tinggi. Jangan harap bisa membengkak-bengkokan semangat kerja dan waktu, jika 1 tim dengan mereka. Dasar budaya kita yang penuh toleransi, pemaaf dan suka menunggu dan ditunggu, alhasil saya terlambat 15menit. Seperempat jam adalah waktu yang masih bisa ditoleransi, namun kali ini adalah makian jika diterjemahkan tidak ada huruf yang mewakilinya. Sambil membawa jam tangan, dan alat pengukur derajat "klinometer", atasan saya yang aseli Jepang menunjuk matahari, jam dan klinometer dan berteriak tepat dimuka saya "matahari tak menunggumu, kalau kerja dengan dia pastikan kamu menunggunya". Memang pekerjaan saya berkaitan dengan matahari, yakni menjemur ikan. Ilmunya dari sana, ikan harus sudah dijemur sesaat setelah matahari terbit dan sebelum terbenam untuk semaksimal mungkin memanfaatkan cahayanya yang dihitung dengan matang dan rumit. Sejak itulah saya menjadi seorang "pemburu matahari". Tiap hari kerjanya dengan matahari, dan mencari lokasi mana yang matahrinya bersinar terik tanpa tertutup awan hanya untuk menjemur ikan. Sepanjang pesisir jawa hingga bali dijelajahi demi menjemur ikan dengan matahari. Itulah cerita singkat mengapa saya suka matahari, sehingga selalu hadir dalam setiap frame dalam jepretan saya lewat kamera. 13428352621426078894 Kali ini saya mencoba berbagi pengalaman bagaimana memotret matahari sekaligus mengapresiasi rekan-rekan Kampretos yang berburu matahari juga. Angkat lensa buat mba Dwi Purwanti, dengan karyanya yang luar biasa menurut saya walau masih ada lobang disana-sini. Motret matahari bukanlah perkara mudah, tetapi butuh keberanian, kejelian dan ada harga yang harus dibayar mahal. Mata kita secara langsung akan kontak dengan matahari dan sangat besar resikonya karena paparan cahaya yang sangat kuat. Begitu juga dengan kulit karena radiasi gelombang tak seperti sinar ultra ungu bisa berpotensi memicu kanker kulit. Tips paling gampang, gunakan kaca mata gelap yang baik "ada polarize dan anti UV" dan tabir surya dengan kandungan SPF. mBa Dwi P, sudah bagus meletakan eleman-eleman gambar berupa komposisi, point of interest, pattern, namun banyak yang harus dikoreksi. Prinsipnya apa yang kita lihat itu yang kita dapat, memang mustahil dengan kamera, tetapi setidaknya bisa diupayakan. Dengan memainkan kecerahan, gelap terang pada kamera bisa dihasilkan gambar yang mendekati "what you see is what you get". Tidak lupa, pastikan ISO, dan white balance sudah benar, sehingga tidak sia-sia usaha kita. mBa Aryani Leksonowati "Mengintip mentari pagi dari belakang rumah", sangat sederhana judulnya namun bagi saya ini adalah gambar yang luar biasa. Dilangit ada landak laut yang bersinar, artinya ada kontribusi dari sebuah lensa untuk menciptakan mode flare seperti ini. Resiko terburuk bagi kamera saat memotret matahari adalah kerusakan pada sensor. Saat motret matahari, artinya kita membakar sensor kamera dengan cahaya yang kuat yang akhirnya diterjemahkan dalam warna putih yang menurut kamera sebagai obyek "over exposure" atau kelewat terang. Namun dengan setingan kamera semua tetap bisa diakali dengan trik-trik sederhana. Bagi beberapa orang, flare bulu babi seperti ini tak asing lagi, buka dengan kamera apa tetapi dengan lensa apa?. Sebab jika saya memakai kamera C bisa saja mendapat bulu babi, padahal yang keluar biasanya mirip rambutan yang dikuncir. Lensa memegang kunci utama untuk mendapatkan flare. Gambar mBa Aryani bisa langsung disimpulkan ini memakai lensa apa? kareka karakteristuk pola pecahahan cahaya matahari. Besarnya diafragma yang disimbolkan dengan [F/xx] juga aka mempengaruhi pola-pola flare. Diafragma dengan bukaan lebar [F/kecil] biasanya akan mendapatkan duri-duri yang banyak, sedangkan diafragma sempit [F/besar] akan mendapatkan duri-duri yang lebih sedikit namun panjang. Dari pola ini mungkin kita bisa menyimpulkan jepretan mba Dwi dan mba Aryani.

13428354181358175274
Bermain denga penjaga gawang di AEL, karya Om Nanang
Satu lagi, karya Om Nanang yang menurut saya sangat mengiris hati karena pas moment ini tidak mengajak memotret. Angkat tripod buat Om Nanang dengan matahari didekat kaki langit. Hangat, adem, gelap, terang, cerah, berawan semua campur aduk jadi satu. Inilah enaknya motret cahaya alam, yang menurut saya adalah paling indah dimananpun. Menjadi pertanyaan sekarang, bagaimana mendapatkan gambar seperti ini?. Saya ingin membagikan apa yang biasa saya lakukan untuk mendapatkan lukisan alam yang dasyat ini. Kuncinya adalah "metering", jika kita perhatikan di dalam view finder "lobang intip" ada penanda yang mirip penjaga gawang saat adu penalti yang terus bergerak kekanan dan kekiri. Itu adalah sensor terhadap kekuatan cahaya yang biasa tukang poto bilang "exposure value". Nah paling gampang kita mengakali kiper tersebut agar tidak bergerak kekanan dan kekiri, agar mendapat titik tengah yang pas menurut kita. Dikamera DSLR ada "auto exposure lock", manfaatkan fitur itu biar kiper dalam gawang view finder tidak bergerak. Untuk mendapat metering atau ukuran yang pas, perhatikan sekitar obyek yang akan difoto. Cari titik mana yang tidak terlalu gelap dan tidak terlalu terang. Perhatikan foto om Nanang, yang gelap pasti bagian bawah dan yang terang bagian matahari, tetapi bagaimana degan langit? tak gelap dan tak terang, artinya pas. Nah peranan metering itu, bagaiman kemampuan kita mengukur kekuatan cahaya yang ditunjukan dalam warna. Jika kamera kita arahkan pada yang gelap, pasti kiper akan bergerak ke kiri, jika terang akan bergerak kepojok kanan gawang. Cara mengakali biar tidak banyak gerakan sangat sederhana, seting pada metering yang pas "awan pada foto om Nanang", lalu jepretkan saja pada obyek, pasti hasilnya tanggung "tidak gelap tidak terang". Bagi yang belum paham, belajar dengan mode [AV], tentukan kita mau buat bulu babi seberapa banyak dan besar, jika sudah arahkan pada obyek dengan metering yang pas lalu pencert tombol [AEL]. Secara otomatis kamera akan mengunci dan membuat metering versi kita. Jika belum dapat, coba terus sampai dapat dan jangan lama-lama, ntar keburu matahari ngilang.
1342835497547306813
Makanan itu soal rasa, begitu juga dengan karya mBa Annisa
Gambar mba Annisa Fitri Rangkuti, adalah favorit saya saat langit menangis dan dari jauh disorot matahari. Artinya saya tidak jemur ikan, dan bisa motret sepuasnya serta gaji utuh tidak dimaki-maki oleh atasan, karena ini anugerah alam. Foto yang tak terkonsep, karena sepenuhnya tergantung kebaikan alam. Mba Anisa yang begitu jeli berhasil menangka sang bianglala yang bercengkrama untuk memberi kesempatan bidadari-bidadari turun dari kayangan untuk mandi diujung warna. Moment yang langka kita peroleh, walau banyak yang melihat hanya sedikit yang bisa membagikan lewat lukisan cahaya. Angkat tas kamera buat mba Annisayang sudah menangkap warna-warni indah yang menjadi penanda Jaka Tarub untuk mencuri selendang. Dibalik mengagumi cahaya indah ini, masih sempat memotret yang walau dengan ala kadarnya namun sangat indah dalam penyajiannya. Biarkan orang mengolok dengan "death center" namun bagi saya inilah letak kekuatannya, karena ingin menunjukan ini adalah poin of interest-nya. Makanan enak itu kadang bukan bukan dari penyajiannya, tetapi rasa adalah yang paling penting dan itu ada digambar ini.
13428355521229710704
sabar menunggu Lolipop datang bersama mba Inge
Satu lagi, walau melenceng dari topik pemburu matahari, saya angkat jempol saja buat mba Inge, karena kamera, lensa, tripod sampai tas kamera sudah diangkat. Foto ini sepertinya dejavu bagi saya. Ingin sekali mendapatkan lansekap seperti ini, namun sekarang sangat susah ditemui dan dengan artistik mBa Inge telah menyajikannya. Pola perspektif dengan garis lenkung yang makin mengecil adalah sebuah irama untuk menggiring mata dan menjebak dalam kubangan POI. Pepohonan menjadi penari latar yang mengisi tiap sudut, dan langit biru menjadi atap yang kontras. Mungkin jika saya nangkring disini pasti akan menunggu matahari datang atau anak SD yang pulangs sekolah sambil menggenggam permen lolipop, agar bisa lebih berbicara. Fotografi, melukis cahaya bukan apa yang kita gambar dan bagaimana caranya, tetapi apa yang kita bisa berikan. 5 foto karya mba Dwi, Aryani, Om Wawan, mba Annisa dan mba Inge tak akan menggambarkan bagaimana dia memotret, namun apa yang ingin dia ceritakan. Saya yang awam dan cuma bisa berkicau dengan suara parau hanya bisa terkagum membaca pesan dari tiap warna dalam untaian pola-pola yang indah. Pelajaran berharga, "matahari tak menunggumu". Sisi lain ada disini WPC

Dhanang DhaVe

/dhave

TERVERIFIKASI (BIRU)

Biologi yang menyita banyak waktu dan menikmati saat terjebak dalam dunia jurnalisme dan fotografi saat bercengkrama dengan alam bebas www.dhave.net
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?