HEADLINE HIGHLIGHT

Wajah Sepak Bola Nasional: Dari Kerusuhan, Darah, Hingga Gol Ajaib

23 Oktober 2012 05:40:51 Dibaca :
Wajah Sepak Bola Nasional: Dari Kerusuhan, Darah, Hingga Gol Ajaib
Ilustrasi. Tim nasional sepak bola U-23 yang sedianya tampil dalam turnamen Java Cup tetap berlatih di Lapangan PSSI, Senayan, Jakarta, Rabu (25/7/2012)./Admin (KOMPAS/YUNIADHI AGUNG)

April 2010. Musim kompetisi tinggal sebulan lagi. Arema masih kokoh bertengger di pucuk klasemen. Ditempel ketat Persipura Jayapura. Klub Papua ini siap menyalip jika Arema kalah dalam pertandingan berikutnya. (Majalah Tempo, edisi 30 Januari 2011). Apenya, laga Arema selanjutnya tak main-main. Mereka harus menghadapi Persiwa Wamena. Majalah Tempo menulis, selama musim kompetisi Liga Super berlangsung, tak ada satu pun tim sepak bola yang bisa mengalahkan Persiwa di kandangnya. Pelatih Arema Malang kala itu, Robert Rene Alberts, menganggap tim Persiwa sebagai tim yang aneh. Ia beralasan bahwa tim ini kerap mendapat penalti di menit-menit akhir pertandingan. Rena menyebutnya sebagai "gol ajaib", dan Arema seperti menjalani misi yang mustahil. Dari "gol ajaib" hingga darah suporter Apa yang ditulis oleh Majalah Tempo tahun 2011, adalah kenyataan wajah sepak bola nasional selama rentang waktu 10 tahun terakhir. Berbagai peristiwa dan isu menambah kelam catatan perjalanan sepak bola nasional. Dari isu suap, mafia judi dan wasit, perdagangan gol, hingga bentrokan antar suporter. Sebagai contoh dari buruknya kompetisi sepak bola nasional adalah apa yang menimpa klub Persebaya Surabaya pada 2010. Mereka bak dikerjai habis-habisan oleh "invisible hands" alias tangan kekuasaan yang tak terlihat. Saleh Mukadar mengenang peristiwa itu. "Bajul Ijo", julukan khas Persebaya, seharusnya lolos dari degradasi, karena lawannya Persik Kediri tidak bisa menjadi tuan rumah, baik di Kediri, karena alasan pemilu, atau di Yogyakarta. Namun, alih-alih Persebaya menang W0 dengan skor 3-0, klub dengan pendukung fanatik bernama Bonek itu justru harus melakukan pertandingan tunda hingga Agustus, dari semestinya April 2010. Lokasinya pun dipindahkan hingga ke pulau Sumatera, tepatnya di Palembang. "Kami memang sengaja disingkirkan untuk menyelamatkan tim lain," kata Saleh. Tim lain yang dimaksud ialah Pelita Jaya -klub milik Grup Bakrie. (Majalah Tempo, edisi 30 Januari 2011). Peristiwa di atas bukanlah yang terakhir dan pertama. Kerusuhan suporter merupakan salah satu peristiwa yang menambah "kacau-balau" wajah sepak bola nasional. Rivalitas lapangan hijau yang seharusnya mengedepankan prinsip "fair play" justru berujung duka. Maut harus menyambangi satu-persatu suporter, yang nota bene anak bangsa, atas nama fanatisme sempit terhadap klub kebanggaan. Puncaknya adalah pada tanggal 27 Mei 2012. Gelora Bung Karno (GBK) menjadi saksi bisu rivalitas Persija-Persib yang memakan tiga korban tewas. Lazuardi, Dani Maulana, dan Rangga Cipta Nugraha adalah nama yang ke-sekian dari sederetan nama lainnya, yang harus menjadi "martir" atau "tumbal" fanatisme sempit terhadap klub pujaan. (Kompas.com, 1/06/2012). Mereka meregang nyawa. Seluruh pihak seakan cuci tangan. "Kambing hitam" merupakan komoditas terlaris saat itu. Mirisnya, peritiwa ini terjadi di tengah konflik yang mendera tubuh PSSI akibat ulah segerombolan orang yang menamakan dirinya sebagai "penyelamat" (KPSI). Dualisme timnas Kini, wajah sepak bola nasional bertambah suram. Bukan karena bentrok suporter, melainkan akibat bentrok ego dan kepentingan segelintir pihak. Seperti diketahui, Senin kemarin (22/10/2012), pihak PSSI-KPSI gagal menemukan titik temu terkait penyelesaian dualisme timnas. Kedua belah pihak tetap berkutat pada argumennya masing-masing. Itu pun jika kita tak memilih istilah ego dan kepentingan politis. PSSI dengan Nil Maizar-nya dan KPSI dengan Alfred Riedlnya. Entah apa yang ada di benak mereka, yang pasti perseteruan mereka telah menelan korban tewas bernama Tim Nasional. Publik sepak bola pun ikut larut dalam konflik. Mereka seakan telah dibutakan oleh fanatisme sempit terhadap klub-nya yang berujung terbelah sikap antara mendukung PSSI atau KPSI. Semua tergantung di mana klub pujaan berlaga, apakah di ISL atau IPL. Mereka tak sadar bahwa telah diperalat demi memuaskan syahwat politik sebagain pihak. Satu yang pasti, menjelang Sumpah Pemuda, pada tanggal 28 Oktober nanti, kita tak akan menemukan lagi anak bangsa yang satu Nusa, Satu Bangsa dan satu Bahasa. Yang tersisa hanyalah bahasa kepentingan, ego dan politik dan bukan bahasa persatuan serta kesatuan. Salam berang-berang. Selamat menikmati hidangan. Ditulis untuk menyambut Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2012.

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?