HEADLINE

"Tamparan" Dari Jokowi Untuk Indonesia

20 September 2012 06:58:25 Dibaca :
"Tamparan" Dari Jokowi Untuk Indonesia
Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama./Admin (KOMPAS/WISNU WIDIANTORO)

Hasil pengamatan terhadap beberapa media elektronik yang menyiarkan "quick count" alias hitung cepat perolehan suara pada Pilkada Jakarta putaran kedua, menempatkan Jokowi sebagai pemimpin dalam perolehan suara sementara. Tentu saja terlalu gegabah dan cepat untuk memastikan kemenangan untuk Jokowi pada saat ini. Sebab, suara yang masuk sebagai sampling belum menunjukkan angka yang signifikan, hanya sebesar 20 persen kurang. Banyak hal yang masih mungkin terjadi, yang akan mempengaruhi hasil hitung cepat yang ditayangkan oleh seluruh media elektronik. Namun, jika keunggulan Jokowi ini dapat dipertahankan hingga akhir hitung cepat, dengan catatan selisih suara yang cukup besar, maka dipastikan Jokowi akan keluar sebagai pemenang dalam pertarungan perebutan kursi Gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017. Walau terlalu dini untuk mengatakannya, tapi segala data-data kemenangan Jokowi, nantinya, akan menjadi pelajaran penting dan tolak ukur untuk memprediksi peta politik pada pemilu legislatif dan eksekutif mendatang. Kemenangan Jokowi memberi pelajaran kepada partai-partai politik di Indonesia bahwa kecenderungan masyarakat terhadap figur, untuk saat ini, lebih besar dibandingkan kecenderungan terhadap arahan mesin-mesin partai. Tentunya ini akan menjadi bahan evaluasi partai-partai politik yang berniat untuk mengajukan kadernya atau seorang figur untuk bertarung dalam pemilu eksekutif 2014 mendatang. Partai Golkar, misalnya, harus mempertimbangkan untuk mengajukan seorang Aburizal Bakrie sebagai calon dari Golkar untuk maju pada 2014. Hal ini patut dipertimbangkan oleh Partai Golkar, mengingat elektabilitas figur seorang Ical, dari berbagai survei, masih rendah bila dibandingkan dengan Prabowo atau Megawati. Jika Partai Golkar tetap "keukeuh" mengajukan Ical, maka berkaca pada peta politik Pilkada Jakarta, dipastikan mereka akan lebih menuai kegagalan daripada kemenangan. Kemenangan Jokowi juga memberi pelajaran kepada partai-partai Islam bahwa isu-isu agama dan tausiyah-tausiyah politik tidak begitu laku sebagai salah satu komoditi jualan. Partai-partai yang bersifat ekslusif harus mempertimbangkan kembali isu-isu jualannya pada masa-masa mendatang. Sebab, tak berpengaruhnya isu SARA untuk menggembosi perolehan suara Jokowi, cukup memberi indikasi bahwa agama bukan menjadi suatu pertimbangan yang berarti pada masyarakat saat ini. Jokowi juga memberi pelajaran kepada elite-elite politik tentang peran sentral sosial media sebagai alat strategi kampanye di masa mendatang. Banyaknya dukungan terhadap Jokowi di berbagai sosial media memberi indikasi peran penting sosial media untuk menjaring calon pemilih pemula dan kalangan menengah ke atas. Jadi, partai atau figur yang akan bertarung di masa mendatang harus mempertimbangkan peran dari sosial media ini. Demikian pula beberapa strategi kampanye Jokowi yang cukup persuasif dan dikemas dalam bentuk yang menarik. Coba simak spanduk berjalan, baju kotak-kotak, game "Selamatkan Jakarta" dan video parodi Jokowi-Ahok, menandakan betapa kreatifnya kubu Jokowi dalam mengemas strategi marketing mereka. Di sinilah Jokowi memberi pelajaran kepada partai-partai dan figur yang hendak bertarung tentang bagaimana strategi kampanye itu harus dikemas dengan persuasif dan menarik. Sebab, bisa dikatakan strategi kampanye Jokowi ini adalah sesuatu yang baru dan sangat mencerahkan di tengah-tengah strategi kampanye yang sangat mengandalkan cara-cara konvensional, seperti pengerahan massa, orasi, dan pemasangan "jutaan" baliho dan spanduk di seluruh pelosok dan sudut kota. Jadi, andai Jokowi menang, maka banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari kemenangan seorang Jokowi. Masalahnya, siapkah partai-partai dan figur mengambil pelajaran dari "Wong Solo" itu?. Kita lihat bersama pada saatnya nanti. Salam berang-berang. Selamat menikmati hidangan.

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?