HIGHLIGHT

Gilang Menggugat: Ini Sebab Mengapa Kami (Anak Muda) Tak Pernah Berkembang

03 Juni 2012 05:16:31 Dibaca :

Banyak kompasioner yang menanyakan kepada saya, bagaimana saya mendapatkan ide yang begitu banyak sehingga menghasilkan pelbagai ragam tulisan yang -menurut mereka- segar.

Pertanyaan ini ditujukan kepada saya, baik melalui inbox maupun komentar. Bahkan ada seorang kompasioner yang merasa kaget dan tak percaya dan kemudian mempertanyakan usia saya. Ia berdalih bahwa, selaku guru SMP, mustahil anak SMP menghasilkan tulisan seperti tulisan saya.

Di artikel ini, saya akan menguraikan beberapa alasan, mengapa kami (kaum muda) seakan berjalan di tempat. Semoga artikel ini menjadi bahan renungan bagi para ortu dan guru. Agar ke depannya, Indonesia -khususnya- dan Islam -umumnya- memiliki penerus bangsa yang, menurut Habibie, berhati Mekkah dan berotak Jerman.

1. Kami Tak pernah diajak diskusi.

Jika mau jujur, baik di Pesantren atau di sekolah, kami jarang diajak dan diajar berdikusi. Saya sendiri merasa sekolah sebagai ajang menjejalkan ilmu dan bukan menuntut ilmu.

Banyak kerugian yang disebabkan oleh minimnya berdiskusi, antara lain tidak timbulnya pemikiran kritis dari anak didik.

Dengan tidak adanya diskusi, kemungkinan kami telah dibiasakan menerima keputusan satu pihak. Sehingga ke depannya, kami cenderung tidak menerima perbedaan dan mengedepankan cara2 pemaksaan dalam menyikapi keberagaman.

2. Kami hampir tak pernah diajak berpikir kritis.

Psikolog Tika Bisono pernah berpendapat bahwa bila seorang anak tidak dibiasakan untuk mempertanyakan segala hal, maka anak tersebut akan mencari jawabannya di luar. Tika menyoroti soal maraknya seks bebas di kalangan remaja. Menurutnya salah satu sebabnya ialah ketiadaan sifat terbuka ortu terhadap anak dalam menerangkan satu masalah, Dengan kata lain, anak tidak diizinkan bertanya dengan kritis tentang pelbagai hal yang dianggap tabu, melawan norma, dan menentang dogma.

Jika anak berpikir kritis, ortu akan selalu menjauhkan anaknya dengan pelbagai cara. Maaf, persis seperti menjauhkan ular dengan menerangkan ular dengan menakut-nakuti si anak. Bila ini terjadi, seumur hidup kami akan menganggap ular sebagai musuh, meski ada manfaatnya juga.

3. Kami kekurangan literatur.

Jujur, di perpus sekolah, saya tidak mendapatkan buku yang memadai. Andaikata ada, maka buku tersebut tak jauh dari yang homogen dan tidak heterogen. Kami kekurangan ragam bacaan. Kekurangan inilah yang menjadi kendala bagi terbukanya wawasan berpikir kami.

Coba, anda selaku ortu bertanya, kapankah terakhir kali anda menghadiahkan buku kepada anak?. Anda lebih senang menjejali anak anda dengan pelbagai hadiah selain buku. Padahal buku, bagi saya, ialah hadiah terbaik. Yang lain boleh saja usang, tapi pengetahuan yang saya dapat dari buku taka akan lapuk oleh jaman.

Anda, selaku ortu, juga harus mengkoreksi diri. Mengapa kami (anak muda) tak pernah mempunyai minat baca. Jawabnya, sebab kami tak pernah dibiasakan membaca dari kecil. Kami tak dibiasakan mencari sendiri jawabannya untuk kemudian ditelaah bersama ortu.

Mudah2-an "gugatan" saya ini menyentuh hati ortu agar merubah sikapnya yang cenderung kaku terhadap kami. Dan anda, bangsa serta agama akan menuai hasilnya. Trims ^-^

Selamat menikmati hidangan.

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
TAG #muda

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?