AA Navis Menyentil Kita: Ritual Shaleh Dan Ritual Sosial.

29 Mei 2012 04:28:48 Dibaca :

Membaca novel religi "robohnya surau kami" bak membaca perilaku sebagian umat Islam tanah air. Bagaimana dengan cerdasnya AA Navis menciptakan tokoh H. Saleh sebagai gambaran dari realita kebanyakan umat Islam saat ini.

Digambarkan tokoh H. Saleh ialah tokoh yang religious dalam ritual (baca: Ibadah kepada Tuhan), tetapi kurang religious dalam sosial. Hari2-nya disibukkan dengan shalat, puasa sunnah, wirid dan baca Alquran. Sementara kemiskinan terhampar jelas di sekitarnya. Dan H. Saleh tak peduli dengan semua itu.

Kita banyak menemukan sosok individu seperti H. Saleh. Bukan tak mungkin H. Saleh adalah anda sendiri. Anda yang tekun dalam melaksanakan ritual saleh, tetapi melupakan ritual sosial.

Anda sibuk dengan ibadah kepada Tuhan, tetapi anda melupakan Ibadah kepada makhluk Tuhan. Anda boleh saja tertalar Alquran, tetapi anda tak mengamalkan nilai2 yang dikandung oleh Alquran.

Ketika agama menyuruh kita bersujud, sesungguhnya Tuhan ingin agar sujud tercermin dalam perilaku kita sehari-hari, yaitu merasa diri rendah. Takkala agama menyuruh kita berpuasa, sebenarnya agama menyuruh kita agar memiliki rasa keprihatinan terhadap sesama yang kurang mampu.

Seorang Rumi pernah mengatakan, bahwa Tuhan tak akan kalian temui di dalam masjid. Ucapan Rumi ini selaras dengan perkataan Bunda Teresa yang menyatakan "Tuhan hanya bisa ia temui saat mengusap orang2 yang kelaparan".

Perkataan Rumi ini bukan menggampangkan syariat. Tapi Rumi menekankan agar ada keselarasan antara ritual saleh dengan ritual sosial. Seseorang, apapun agamanya, jangan pernah berharap surga Tuhan, bila ia tak memiliki keseimbangan perilaku, antara saleh dan sosial. Dan AA Navis dengan cerdasnya menangkap pesan Rumi ini, untuk Ia tuangkan ke dalam sebuah novel Religi "Robohnya Surau Kami".

Bukankah Ali Syariati pada buku Haji-nya pernah berkata, "jika kita mengamati seluruh isi Alquran, niscaya kita akan menemukan bahwa yang terbanyak ialah penekanan pada kemanusian". Dengan kata yang lain, Syariati menegaskan: Alquran 80 persen-nya berisi ritual sosial.

Rasulullah Muhammad SAW pun menegaskan, "Khoirun Nas Angfauhum Lin Nas". Manusia yang terbaik ialah yang paling memberi manfaat kepada manusia lainnya. Demikian pula dengan Yesus yang menegaskan bahwa ajaran ke dua yang paling utama yaitu menebar kasih kepada seluruh umat manusia.

Jadi, sudahkah kita memberi manfaat kepada sesama makhluk Tuhan? Apapun manfaatnya, baik lidah, tangan maupun tindakan. Sehingga Nabi SAW dalam satu hadistnya pernah menegaskan: "Tidak akan masuk surga orang yang tidur nyenyak sementara tetangganya kelaparan di tengah malam". Sudahkan anda memberi manfaat?

Selamat menikmati hidangan.

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?