Sekolah Homogen Ya Sekolah SMA Stella Duce 1 Yogyakarta

15 April 2012 05:30:22 Dibaca :
Sekolah Homogen Ya Sekolah SMA Stella Duce 1 Yogyakarta
-

Masa apa yang paling pengaruh pada perkembangan remaja? Momen apa yang paling diingat sebagai waktu paling ceria? Kalau saya yang ditanya, saya akan jawab: SMA! Saya cerita sedikit kenangan saya semasa sekolah di sana ya. Agak panjang dan mungkin membosankan, karena itu saya mohon: Cobalah Bertahan! Meski sebagian hidup kita habiskan di sekolah, tak ada yang mengalahkan indahnya (atau kadang pahitnya) masa sekolah menengah atas alias Senior High School, alias seragam putih-abu, alias….Gita Cinta Dunia Muda wakakkakakak!HAHAHA! Jujur deh sama saya, apakah waktu SMP kalian sudah merasa dewasa? Dewasa jadi-jadian mungkin yaa, tapi waktu itu lebih milih main daripada berorganisasi, lebih milih jajan daripada pacaran. Masih malu-malu kalau bukan karena dilarang keras Ortu dengan dalih harus belajar. Bentaaarr, apa hubungannya pacar sama belajar ya? Orang tua tuh kadang suka kelewatan ya, mereka mengira kalau anaknya pacaran atau patah hati tidak bakal memikirkan belajar? Mereka salah! Yang benar anak SMP itu sudah dari sananya tidak mikir belajar mau punya pacar apa enggak! Hahahahah pisss om, pisss tante! :D Seorang kenalan saya pernah berkata, “Masa ketika kamu mulai memikirkan impian dan setiap keputusan yang berkaitan dengan masa depan adalah saat SMA.” Yap. Dia benar. Seratus persen. Meskipun bagi saya hal itu saya awali di akhir masa remaja Sekolah Menengah Pertama. Ketika memutuskan akan melanjutkan ke SMA mana…. Saat itu saya sedang galau luar biasa (pakai istilah milenium untuk akhir tahun 90′an enggak papa kan yaa??). Sudah hampir ujian akhir kelulusan tapi saya belum punya pilihan ingin (atau didukung ortu) melanjutkan kemana. Tapi saat itu saya hanya berpikir ingin ke luar kota. Saya tidak ingin berada di kota kelahiran saya lebih lama, tidak sabar rasanya memulai segala hal baru di tempat baru. Impian untuk mencoba mandiri tidak lagi bisa diatasi. Beberapa lamanya saya berpikir untuk ke kota Bandung,maklum saya orangnya udik yang ingin mengetahui perkembangan apa saja yang terjadi di kota besar. Tapi entah kenapa tidak juga pas rasanya. Yang jelas saya menolak ke Surabaya padahal lebih dekat jaraknya dengan kota saya. Saya malas bertemu teman-teman yang borju. Nanti mau jadi apa saya di sekolah swasta elit di sana? Hingga waktu berbincang makan siang, ayah saya sambil mengupas mangga bercerita, “Teman papa punya anak yang sekolah di Jogja. Sekolahnya khusus wanita, ada asramanya juga. Plash! Itu dia! Asrama! Saya, entah mengapa, langsung bersemangat membicarakannya. Bagi saya, asrama adalah konsep asing yang menarik. Ditambah, sekolah khusus perempuan! Wow… Jadilah kami mencari informasi ke sana-sini. Bertanya pada kenalan alumni, bertanya pada kenalan di Jogja dan sebagainya. Hingga, usai ujian kami memutuskan survei ke Jogja langsung untuk bertanya-tanya. Saya berangkat dengan ayah malam hari naik pesawats. Setibanya di Jogja, kami tanya arah jalan kemana-mana. Naik bus kota, becak, jalan kaki, semua dilakoni. Buat saya waktu itu, Jogja adalah kota yang….besaaaarrrrrrr tapi tidak seintimidatif Jakarta. Serasa sudah ada ikatan batin di sana (cieeeehhhh). Hingga saya disambut gedung sekolah bertingkat tiga, bercat cokelat muda dengan arsitektur jaman Belanda plus halaman sekolah tak seberapa luas yang diblok semen semuanya. Beberapa siswi sedang olahraga dengan seragam biru muda-biru tua. Dari balik pagar ayah saya bertanya di mana kantornya, dan segerombolan siswi menoleh lalu menunjukkan pintu sisi timur yang terbuka. Ternyata, dunia memang sempit atau alam semesta punya cara, yang kami temui di staf adalah seorang suster. Dari beliau kami tanya ini-itu dan cara mendafar, kapan pendaftaran dibuka dan detil-detil lainnya. Sejak sepulang dari Jogja saya jadi punya tekad baru: Belajar sekeras-kerasnya agar diterima ujian masuk di Stella Duce 1 Yogyakarta. Setiap malam saya dan ibu masuk ke kamar dan berdoa bersama. Sebetulnya Ibu keberatan dengan keputusan dan keinginan saya. Selain jauh, biaya sekolahnya juga belum tentu bisa diakomodasi keluarga. Ketika mengisi formulir pendaftaran pun kami hanya bisa menaruhkan harapan: apapun yang terjadi, terjadilah. Dengan percaya diri ayah mengisi angka 0 pada jumlah uang sumbangan, katanya, “Kalau dengan ini kamu masih diterima di sini, berarti memang Tuhan mengijinkan.” Soal tes masuk Inggris dan Matematika saya yakin tidak terlalu masalah, hingga tes wawancara tiba. Saya dan ayah berhadapan dengan seorang guru yang sepertinya tak tergoyahkan oleh rasa iba: Ibu N. Dengan tegas beliau berkata bahwa minimal uang sekolah yang harus ayah bayarkan adalah X. Sama sekali tak bisa ditawar. Titik. Final. Aduhhh..lemas saya, jumlah segitu tak sanggup kami terima. Hingga….TTTEEETTTT!!! bel istirahat siang berbunyi dan sebelum keputusan final diiyakan kami mengundurkan diri. Ketika masuk lagi, ternyata yang kami temui kemudian adalah…Suster yang dulu kami jumpa di awal cerita! Darinya saya memperoleh keringanan sekian jumlah rupiah yang tak terlalu memberatkan. Dan demikianlah, saya resmi terdaftar sebagai siswa SMA Stella Duce 1 Yogyakarta, sekolah homogen khusus putri dan memiliki seragam khas kotak-kotak biru tua. Saya kangen dengan sekolah itu,sekolah itu memberikan banyak cerita baik dari gurunya, siswanya kebanykan putri semua,susternya,bahkan ada yg jatuh cinta antar sesama jenis atopun jatuh cinta ama OB (saking gak ada cwoknya)

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?