Detha Arya Tifada
Detha Arya Tifada content writer

Adrenaline junkie, Journalist, Content writer, Copywriter, see more about me at tifada.com

Selanjutnya

Tutup

pilihan headline

Memetik Pelajaran Berharga dari Film "Trinity: The Nekad Traveler"

20 Maret 2017   23:28 Diperbarui: 21 Maret 2017   08:55 557 8 4
Memetik Pelajaran Berharga dari Film "Trinity: The Nekad Traveler"
Trinity: The Nekad Traveller/ naked-traveller[dot]com

Sudah lama rasanya saya bersentuhan dengan karya dari Blogger, Penulis sekaligus Travel Writer kebanggaan tanah air,Trinity. Tepatnya pada tahun 2010, dimana buku pertamanya ‘The Naked Traveler’ menemani saya yang kala itu mulai beranjak meninggalkan bangku sekolahan menuju bangku kuliahan. Pada masa itu istilah ‘traveling’ (melakukan perjalanan) apalagi ‘solo traveling’ (perjalanan sendiri) belum begitu familiar, bahkan suara-suara butuh ‘piknik’ belum begitu akrab diperdengarkan.

Gayanya menulis yang tak melulu serius, ulasan yang menarik akan suatu tempat hingga bumbu-bumbu komedi selama perjalanan, tertuang hampir dalam setiap lembaran bukunya. Sekalipun, belum menghatamkan ke-7 buku dari seri ‘The Naked Traveler,’ suguhan berupa rasa antusias dalam berwisata baik dalam dan luar negeri, sempat menginspirasi saya untuk mengunjungi serta menikmati keindahan yang dihidangkan bumi nusantara dan beragam tempat indah dibelahan bumi lainnya.

Rasa antusias kembali bangkit saat tak sengaja mengunjungi salah satu bioskop yang berada di Jakarta Selatan pada minggu (19/3/2017), yang salah satu studio-nya menyuguhkan film dari adaptasi novel Trinity berjudul ‘Trinity: The Nekad Traveler’ (TTNT) sebagai salah satu film yang bersanding dengan pemuncak box office dunia saat ini, Beauty and the Beast (berdasarkan rangking yang ada di boxofficemojo.com).

Meski tampak antusias, saya sedikit terkaget-kaget saat melihat poster film tersebut dengan menampilkan para bintang utama (Maudy Ayunda, Hamish Daud, Babe Cabita dan lain-lain) yang tak asing dipandang mata. Hal pertama yang terpikirkan, hanya satu hal, mengapa pemeran utama, Trinity digambarkan begitu berbeda dari empunya nama sendiri?

empunya novel, trinity/ eviindrawanto[dot]com
empunya novel, trinity/ eviindrawanto[dot]com

Jujur, rasa sedikit aneh melihat figur Trinity digantikan dengan sesosok wanita yang notabene kulit putih, langsing, dan rambut panjang, seakan mengingatkan pada persepsi kecantikkan ala putri-putri rekaan Disney, yang kriterianya tak jauh beda dengan penggambaran dari tokoh utama dalam film garapan Sutradara veteran Rizal Mantovani. Padahal persepsi kecantikkan ditiap negera tentu beda-beda.

Entah karena rating semua disetting, atau karena pengembangan skenario yang memasukkan bumbu-bumbu cinta sebagai ramuan utama guna suksesnya film ini, saya pun tidak dapat banyak berkomentar akan hal ini. Jadi, silahkan menilai sendiri. Namun terlepas dari problema itu, pengalaman menarik dari perjalanan Trinity, bisa menjadi pelajaran berharga yang dapat dipetik, mulai dari tahap perencanaan, mengunjungi tempat wisata, serta membingkai tulisan-tulisannya lewat website naked-traveler.com.

Travelling, Writing, Get Some Cash, & Do Traveling Again

poster film berisi tokoh utama/ sidomi[dot]com
poster film berisi tokoh utama/ sidomi[dot]com

Dalam awalan Film TTNT, Trinity (Maudy Ayunda) berperan sebagai seorang karyawan yang memiliki rutinitas layaknya masyarakat urban kekinian, duduk tenang didepan monitor hingga menanti jam kerja berakhir. Rasanya tak ada yang spesial akan sosoknya, sampai melirik hobi traveling yang sudah ditekuni sejak kecil. Jika dirata-rata, dari semua karyawan yang ada di kantornya, ia justru yang paling sering meninggalkan pekerjaannya dengan merencanakan & sekaligus melancong ke tempat-tempat baru.

Demi mewujudkan isi bucket list traveling-nya, ia sering dihadapkan dengan sebuah masalah klasik, jatah cuti yang habis duluan sebelum tutup tahun. Masalah tak hanya habis sampai situ, budget yang pas-pas menjadi kendala lainnya. Beruntung, dengan segenap kecerdasan, kuat dugaan Trinity menganut hukum kritis dari Mestakung (Semesta Mendukung) ‘pada setiap kondisi kritis, selalu ada jalan keluar.’

Sebab ia tak pernah kehilangan akal ketika masalah budget datang menjadi pengganggu. Mulai dari mencari tiket murah, melobi bossnya yang pelit memberi jatah cuti, hingga mengajak serta kedua sahabatnya Yasmin (Rachel Amanda) dan Nina (Anggika Bolsterli) serta sepupunya Ezra (Babe Cabita).

Unsur promosi keindahan pariwisata tampak begitu memikat hati setelah menyaksikan film dengan durasi 1 jam lebih, ia menceritakan pengalamannya melancong mulai dari Indonesia (Labuan Bajo, Makasar, & Lampung), Philipina, serta Maladewa alias Maldives. Semua destinasi yang ada di film kalau ditimbang, hanya sebagian kecil dari perjalanan Trinity yang diketahui telah melancong ke banyak negara didunia.  

Sesuatu yang menarik dan menjadi point penting dari Film ini ialah bahwa untuk memenuhi hasrat jalan-jalannya, ia memiliki alur tersendiri. Trinity harus Travelling, kemudian menulis di website pribadi, dari tulisan yang disebar di jagat media, akhirnya ia mendapat dana segar, dan dana tersebut digunakan kembali untuk membiayai perjalanan berikutnya. Sangat khas dengan gaya travelling para Travel Writer kondang yang banyak muncul belakangan ini, bukan?

Saya pun melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan, tetapi dengan alur yang sedikit berbeda (jalan-jalan, menulis, ikut lomba, dan dapat hadiah trip gratis), begitu terus alurnya sampai Spongebob hidup di darat. Hahahhaa..

Melalui sepenggal kisah film TTNT, anggapan jalan-jalan itu mahal dan membutuhkan banyak biaya (realitanya memang begitu), dapat disiasati hanya dengan keyakinan ‘menulis itu ibarat doa dan alam semesta akan mengamininya.’ Jadi, apa pula yang ditunggu, segera buat bucket list, petakan satu demi satu, dan berjuang untuk meraih kesempatan mengunjungi tempat-tempat eksotis yang menjadi impian sedari dulu.

Perkara masalah percintaan ala Trinity dan Paul (Hamish Daud) yang dipertemukan di Taman Nasional Way Kambas, Lampung, kek mana pula? Jawabannya BODO AMAT, hanya sekedar menjadi pemanis belaka, ‘layaknya menikmati secangkir kopi, kita lebih butuh gairah yang dimunculkan oleh kafein-nya, bukan pada rasa manis gula.’ Right?

Guna memuaskan gairah, silahkan cek trailers-nya dibawah ini. Jika kurang, silahkan berkunjung langsung ke bioskop untuk menonton seluruh cerita dari film TTNT.

signature
signature