Mencintai Tuhan

01 Juni 2012 22:51:11 Dibaca :

Perasaan marah, kecewa, terzalimi membebani perasaan saya. Ujian hidup ini terasa sangat berat. Pikiran dan perasaan saya terfokus padanya. Hampir setiap saat, perasaan ngilu karena kecewa berkepanjangan mengganggu sebagian besar aktivitas hidup saya. Rasanya hanya ingin diam, tenggelam dalam perasaan luka ini.

Bagaimana dia tega melakukan ini pada saya? Apakah dia tidak pernah berpikir tentang perasaan saya? Apa sesungguhnya kesalahan saya kepadanya? Semua pertanyaan dan pernyataan yang muncul, entah dengan kata tanya apa, mengapa, bagaimana:  selalu tentang 'saya' dan 'dia'.

Merasa sebagai mahlukNya yang beriman, saya 'pulang' pada Tuhan untuk memohonkan pertolongan.  Saya minta Tuhan sebagai 'penolong' saya dan dia. Menguntai doa dan dzikir panjang, saya selalu meminta Tuhan menyadarkan dia, mengembalikan hatinya ke tempat seharusnya, meminta Tuhan membuat dia seperti yang saya mau..Meminta Tuhan untuk menjadikan saya sebaik yang dia mau. Bahkan dalam doa-pun, intinya hanya tentang 'saya' dan 'dia'...

Sepanjang untaian doa saya...sepanjang itu pulalah kesedihan masih mendera. Setiap kata 'dia' disebut..terbayanglah untaian peristiwa panjang yang menyakitkan, mengecewakan, mengharu biru perasaan. Doa dan dzikir saya selalu diwarnai tetesan air mata kesedihan karena 'dia'...Berharap Tuhan menolong mengubah dia, atau membuat saya lebih menerima dia apa adanya..

Di tengah perjuangan panjang itu, suatu siang, seorang sahabat baik mengirimkan pesan dengan isi kurang lebih seperti ini:

Apa yang engkau bangun selama bertahun-tahun mungkin saja dihancurkan orang lain hanya dalam semalam; tapi bagaimanapun, bangkitlah.

Kebaikan yang engkau lakukan hari ini, mungkin saja besok sudah dilupakan orang; tapi bagaimanapun, berbuat baiklah.



Bagaimanapun, berikan yang "TERBAIK" dari dirimu..



Pada akhirnya, engkau akan tahu bahwa ini adalah urusan antara engkau dan "Tuhanmu".
Ini bukan urusan antara engkau dan mereka."

Subhanallah...
Sepotong kecil untaian kalimat hikmah yang mungkin dikirim tanpa sengaja itu, seperti hentakan yang membangunkan saya dari tidur panjang saya yang dipenuhi amarah dan kesedihan atas ujianNya...

Sudahkah saya menempatkan Tuhan sebagaimana mestinya? Saya datang kepadaNya seperti anak kecil yang merajuk minta dibelikan mainan. Setelah mainan saya dapat, saya sibuk bermain. Saat saya bosan, atau mainan itu rusak, saya datang lagi pada Tuhan untuk minta dibelikan mainan baru, atau agar mainan yang lama tetap menarik.. Astaghfirullah...

Tiba-tiba, saya sadar bahwa tidak ada satu peristiwapun di dunia ini yang terjadi tanpa izinNya. Semua dirancang oleh Tuhan, atas perkenanNya sebagai peringatan untuk mahlukNya. Termasuk ujian hidup yang saya alami..

Peringatan apakah gerangan?
Tuhan ingin saya kembali mencintaiNya...melebihi apapun yang ada di dunia ini. Tuhan ingin saya 'dekat' padaNya.. Tuhan ingin saya ingat, ini adalah urusan antara Tuhan dan saya. Tuhan dan 'dia'. Bukan saya dan dia...

Dalam kehidupan, terlalu sering kita menempatkan Tuhan Penguasa Semesta Alam, sebagai penolong..tapi cinta tertinggi dan terbesar masih kita berikan untuk yang lainnya...pada pasangan hidup; anak-anak; harta; pekerjaan...Pada saat 'harta dunia' yang kita cintai ini mengecewakan kita, kita sedih dan terpuruk..Padahal, urusan kita di dunia ini, sesungguhnya adalah urusan kita dengan Tuhan. Saat ada yang menyakiti kita, sesungguhnya kita sedang diuji kesabaran oleh Tuhan. Saat kita disempitkan rezeki, sesungguhnya kita sedang diuji perasaan cukup oleh Tuhan.  Semua di dunia ini: saya, dia, kamu, mereka hanyalah mahluk Tuhan yang digerakkan dengan izinNya untuk menguji kita; untuk membawa kita kepada cintaNya...

Kesadaran ini perlahan-lahan menjernihkan sanubari saya...rasa amarah, kecewa, sedih seperti menguap saat saya menikmati rasa cinta saya padaNya. Hati saya terasa lebih ringan, karena pada saat rasa tidak nyaman itu hadir, saya sadar bahwa itulah saatnya saya harus mendekati Tuhan dengan lebih banyak  cinta daripada yang saya berikan pada siapapun..

Ujian ini mungkin belum pula sampai ke ujungnya. Namun, rasa cinta pada Tuhan ini mampu membuat saya yakin...badai pasti berlalu...Apa yang tidak mungkin bagi Tuhan? Dan apa yang tidak mungkin Dia kabulkan untuk mahlukNya yang sungguh-sungguh mencintaiNya?..

Sahabat, pagi ini dengan ringan saya bisa tersenyum dan belajar untuk berbuat baik, seburuk apapun dia - atau siapapun - memperlakukan saya. Dan setelah doa dan dzikir panjang, saya masih tetap menangis...tapi kali ini bukan tangisan kesedihan..namun tangisan kebahagiaan luar biasa, karena bersyukur dia - atau siapapun yang lewat mereka ujian itu datang -  sudah dihadirkan  Tuhan, untuk membuat saya mencintai Tuhan melebihi apapun di dunia ini...

Dessy Wardhani

/dessywardhani

Happy mother of 4 wonderful kids
- Life-learner
- Dreaming to travel around the world

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?