DesoL
DesoL www.desoldesy.com

Facebook : Desol Desy || Twitter : @desol_de || IG : @de5ol || Wattpad : Desol Desy || Website : desoldesy.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora highlight headline

Bolang Komunitas Terbaik dan Baju Mama

19 Mei 2017   14:45 Diperbarui: 19 Mei 2017   19:59 248 24 19
Bolang Komunitas Terbaik dan Baju Mama
pic: Babeh Helmi

Dolan tapi ora dolanan itulah motto Bolang yang pada akhirnya berhasil menyabet penghargaan “Best Kompasiana Community” pada acara ICD di Plasa Pasar Ngasem Yogyakarta kemarin. Keputusan saya untuk bergabung dengan komunitas Bolang (Blogger Kompasiana Malang) 1,5 tahun yang lalu ternyata sangat tepat.

pic: Bolang
pic: Bolang

Jelang Kompasianival 2015, saya memutuskan untuk kopdar dengan dedengkot Bolang (pada saat itu ada Pak Yunus dan Mas Selamet) tepatnya di Hotel Ubud Malang saat rekan-rekan Bolang menghadiri sebuah acara. Tujuan saya semula adalah untuk menjalin kerjasama antara Bolang dengan komunitas fiksi yang saat itu saya asuh. Namun pada kenyataannya, keramahan serta dolanan mereka membuat saya nyemplung dan enggan mentas sampai saat ini.

Bolang itu unik. Jika dalam sebulan tidak ada kopdar, pasti rasanya ada yang kurang. Dan sekali kopdar, tentu akan beranak pinak di hari-hari berikutnya. Meskipun kami sering mengadakan kopdar, tidak ada satupun dari kami yang merasa tertekan, justru dengan dolan itulah yang membuat beban-beban kami terlepas.

Dolanan Bolang bukan hanya ke tempat wisata namun juga ke panti asuhan atau ke rumah anak-anak yang kurang mampu. Hampir seluruh dana dari Kompasiana, juga hasil penjualan buku kami pergunakan untuk kegiatan berbagi (sisanya untuk hadiah event Bolang di Kompasiana). Apa yang kami berikan kepada mereka mungkin sangat sederhana, tapi melihat senyum mereka merupakan kebahagiaan yang luar biasa.

Bolang tetap terpelihara karena hati kami yang saling terpaut satu dengan lainnya. Di sinilah dapat saya katakan bahwa bagi saya, Bolang itu adalah keluarga kedua. Seperti itu pulalah yang dirasakan oleh Mbak Eren yang awalnya enggan menghadiri ICD sampai akhirnya pulang pergi berkereta dengan saya. Gak tega lek Mbak Desy dewean (tidak tega kalau Mbak Desy sendirian), ujar Mbak Eren di grup WA Bolang. Begitu juga dengan Mbak Lilik yang rela meninggalkan acara keluarganya demi bisa bersama-sama di ICD.

pic: Mas Nurul
pic: Mas Nurul

Ada hal yang jauh lebih istimewa selain penghargaan yang Bolang raih di ICD 2017, yaitu mengenai baju yang saya kenakan. Baju putih dengan bawahan batik cokelat, dijahit sendiri oleh Mama saya. Dua minggu sebelum saya berangkat ke Yogyakarta, Mama sibuk membongkar tumpukan bajunya. Mama mengeluarkan beberapa potong kebaya beserta roknya. Koyok e iki cocok mbok gawe (Sepertinya ini pantas kamu pakai), kata-kata Mama membuat saya berpikir, masa iya, pakai baju itu? Kan kegedean.

pic: Bolang
pic: Bolang

Mama saya dulu adalah seorang penjahit, tapi di masa tuanya kini, mesin jahit itu hanya menjadi pelengkap perabot di rumah kami. Ketika saya bekerja, rupanya Mama dan Ayah menggeser mesin jahit itu ke ruang depan agar mendapat cahaya yang cukup (karena pengelihatan Mama sudah berkurang). Mama memotong-motong bajunya untuk dijadikan baju baru seperti yang kemarin saya kenakan di ICD.

Bolang manggung di ICD/pic: om Nanang
Bolang manggung di ICD/pic: om Nanang

Apa yang sudah Mama lakukan untuk saya, membuat saya hampir menangis. Bagaimana saya tidak mencintai Mama, sedangkan kasih Mama masih terus melimpah untuk saya?

Mama sebenarnya agak cerewet dan selalu ingin tahu dengan siapa saya berteman. Jika pulang terlalu malam, Mama akan ngomel. Tapi perlakuan Mama ke Bolang sangat berbeda. Mama tahu bahwa Bolang itu tidak sekadar ngumpul. Bolang itu menghasilkan manfaat. Dan Bolang itu terdiri dari teman-teman yang hebat dan baik. Itulah sebabnya mengapa Mama selalu mengizinkan saya pergi jika menyangkut hal-hal yang berhubungan dengan Bolang. Mama dan Ayah sangat mendukung saya untuk berkomunitas dengan Bolang yang kini merupakan komunitas Kompasiana terbaik 2017. Terima kasih Mama.