Deri Prabudianto
Deri Prabudianto karyawan swasta

Hanya orang biasa

Selanjutnya

Tutup

Novel

Cinta Aisa 70: Baby Cool itu Cewe Apa

21 April 2017   06:39 Diperbarui: 21 April 2017   07:04 280 1 0
Cinta Aisa 70: Baby Cool itu Cewe Apa
Dokumentasi Pribadi

“ Hati hati ya, nak. Jangan lasak,  kata dokter lukamu belum sembuh.” Pesan Pak Sulaiman.

“ Baik, pak. Pran, cepat pulang, nanti kamu terlambat ulangan.” Aisa, melambai dengan ceria.

Prana membalas lambaiannya. Mobil bergerak kembali ke Bukti Jin. Begitu mobil Caltex itu pergi, teman-teman merubungi Aisa. Semua ingin melihat bekas luka di punggung Aisa. Puput menyebarkan berita itu kemana mana, bahwa punggung Aisa hancur. Tak ada yang percaya karena melihat Aisa turun dari mobil sambil melompat. Wali kelas memanggilnya ke ruang guru. Di sana Aisa diminta memperlihatkan lukanya di ruang tertutup yang khusus hanya ada wali kelas. Begitu melihat luka di punggung Aisa, wali kelas meringis kayak termakan kulit jeruk.

“ Ini… tidak perih terkena baju ? “ tanya Bu Rindu. Wali kelas Aisa.

“ Kemarin-kemarin sih perih, pagi ini sudah tidak lagi.” Kata Aisa.

“ Obat apa yang kamu makan? “ tanya Bu Rindu heran.

“ Obat rumah sakit, bu, ditambah tidak makan telor.” Kata Aisa. Bu Rindu terbengong, heran, takjud, terkesima, sekali lagi menyingkap baju Aisa, bergidik melihat bekas luka selebar dan seluas itu, tapi Aisa tidak merasa kesakitan. Heran ia setengah mati. Ia mengizinkan Aisa ulangan hari ini, dan Senin depan mengikuti ulangan susulan. Aisa bersorak gembira, membuat Bu Rindu semakin terheran-heran. Berita itu menyebar seperti flu ke seluruh sekolah.

Puput datang jam 7 kurang 10 menit, terbengong melihat Aisa dikerubuti teman-teman. “ Hei, kamu kabur dari rumah sakit, ya ?” teriak Puput seceria burung merpati.

“ Pengen banget kabur sejak kemarin, tapi baru diizinkan hari ini.” balas Aisa.

“ Syukurlah kita bisa berkumpul kembali. Baju baru nih yee, hadiah dari calon mertua nih yeee ?” ledek Puput.

“ Gimana kamu tahu ?” tanya Aisa heran.

“ Tahu donk. Aku yang ngasi tahu mereka ukuran bajumu. Ayo, berterima kasih donk sama aku.” tuntut Puput dengan gaya bossy.

“ Iya, iya. Aku berterima kasih padamu. Tapi jangan bilang aku calon menantu donk. Merinding aku mendengarnya. Mikir aja belum. Sekolah baru kelas 1, menjahit belum bisa lurus, menjadi menantu nanti aku dimarahi mertua karena tidak becus bekerja.” Gerutu Aisa.

“ Hahaha.. aku juga tak ingin kamu cepat jadi menantu orang, rugi aku tak bisa berteman denganmu lagi, pasti kamu disekap di Bukit Jin hingga tak bisa keluar. “ tawa Puput meledak. Lonceng berbunyi membuat mereka segera berlari ke kelas masing-masing. Aisa tidak membawa alat tulis. Bu Rindu tahu Aisa baru keluar dari rumah sakit tadi pagi. Ia meminjamkan alat tulis buat Aisa.

Pulang sekolah Puput mengantar Aisa pulang dengan motormya. Puput masih heran melihat luka selebar itu tidak menimbulkan rasa perih atau sakit bagi Aisa. Tadi saat istirahat Aisa bisa bermain layaknya tidak sakit. Padahal kemarin-kemarin ia mendengar Aisa merintih setiap bergerak. Ketika tiba di atas jembatan Tegalega, ingin sekali Aisa menyuruh Puput berhenti, tapi Puput pasti tak mau berhubung ada yang mancing di pinggir sungai. Benarkah terjun dari jembatan Tegalega akan masuk ke kerajaan Siluman Buaya Putih? Rabaan Ratu Noor Laksmi apakah mengandung mantera penyembuh rasa sakit? Kenapa Ratu tidak sekalian menyembuhkan luka-lukanya ? Apa ada yang percaya kalau ia bercerita bahwa selama dirawat di Bukit Jin, setiap malam ia bermimpi bertualang ke kerajaan Siluman Buaya Putih, dibawa Raja Jin berkeliling Dumai, dan Bunda memberinya elusan penghilang rasa sakit? Adakah yang percaya? Pasti tidak ada yang percaya. Pasti semua mengatakan ia berfantasi terlalu tinggi.

Motor berbelok ke Tunas Muda, berbelok lagi ke Tunas Lama. Kambing mengembik tiada henti, pasti tidak diberi makan selama 3 hari. Aisa segera masuk ke rumah, mengganti seragam dengan baju biasa. Puput terbengong ketika Aisa membuka bajunya. Walau hanya melihat, ia ngeri melihat bilur-bilur itu,  andai ia yang mengalaminya, ia pasti pingsan 3 hari 3 malam.

“ Aku nyari makanan kambing ya, Put. Kasihan kambingku tidak diberi makan.” Kata Aisa.

“ Kamu belum sembuh, Ais. Jangan bekerja dulu.” tahan Puput dengan memalangkan tangan ke pintu kamar.

“ Hanya memotong satu dahan saja, supaya mereka tidak berteriak kelaparan.”

“ Janji ya, hanya satu dahan !” tuntut Puput.

Aisa mengangguk. Puput menarik tangannya. Ia ikut ke pohon nangka. Pohon nangka itu nyaris botak akibat terlalu sering dipotong. Puput tak kehilangan akal. ia memotong batang pisang yang telah ditebang. Diseretnya batang pisang yang dipotong dua ke kandang kambing. Puput tak tega. Ia membantu menyeret. Setibanya di kandang kambing, potongan batang pisang itu ditarik masuk ke kandang. Kambing-kambing berebutan makan.  “ Haus ya, yuk minum di rumahku.” Ajak Aisa.

Keduanya bergandengan tangan masuk ke rumah, langsung ke dapur. Aisa terbengong. Di atas meja terdapat rantang berisi 3 jenis lauk. Nasi di periuk masih hangat.

“ Wow, pengaturan Prana memang prima ! “ seru Puput. “ Terstruktur dan teratur.”

“ Makan disini, Put ? “ tanya Aisa dengan wajah gembira. Kembali ke rumah membuat hatinya girang tak terkira, serasa terbebas dari kungkungan.

“ Kalau aku makan disini, pulangnya ibuku memaksaku makan lagi, perutku pasti meledak. Oke deh, berhubung kamu sudah terbukti tidak merintih walau sudah menebang pohon kelapa, aku percaya lukamu tidak perih lagi. Aku pulang,” kata Puput senang.

 Aisa tertawa mendengar celoteh temannya, “ Menebang pohon kelapa aku mana berani, ketimpa nanti aku mati konyol.”  Kata Aisa.

“ Jangan ketimpa pohonnya donk, cukup tersabet daunnya agar kamu hanya pingsan, nanti kutelpon Prana agar membawamu untuk dirawat lagi agar setiap hari kalian bisa bertemu sambil main mata.” Ledek Puput, menjulurkan lidahnya.

Aisa gemas diledeki Puput, ia mencubit Puput pelan. Puput pura-pura kesakitan, berlari ke motornya dan pulang, lupa sudah ditawari minum tapi belum terlaksana. Aisa mengantar kepulangan sobatnya dengan lambaian tangan.

Motor Puput keluar dari pekarangan hampir tabrakan dengan motor Juliet yang nyelonong seenaknya. Puput ingin marah, tapi Aisa segera menggeleng. Ia tak ingin mencari masalah baru, nanti Juliet melapor ke mama dan persoalan dirawat di rumah sakit Caltex dijadikan alasan pelampiasan emosi ibunya.

“ Hei, kak Ais sudah pulang? Sudah masak, kak Ais ? Juliet lapar nih ! Barusan habis bertempur dengan 100 soal ulangan. Lapar nih! Cepat siapkan makan siang, kak ! ” Juliet menyandarkan motor, berlari ke pintu kayak sudah 3 hari tidak makan.

“ Aku belum masak, tapi di dapur ada makanan. Makanlah. “ Kata Aisa. Juliet langsung nyelonong ke dapur.

“ Wah ! Ini… ini .. tumis baby cool kesukaanku! Kakap merah saos kesukaanku! Gulai ayam kesukaanku! Kak Ais, darimana datangnya masakan ini? “ tanya Juliet kesenangan melihat semua lauk enak, mirip dikirim dari restoran. Sangking senang bebi kubis diucapkan baby cool. Dasar Juliet, maki Aisa dalam hati. Tapi ia tercekat. Apa aku harus berbohong? Kalau aku jujur, Juliet pasti melapor ke mama bahwa itu masakan kiriman saudaranya Prana yang bekerja di Caltex.

“ Itu… kiriman ibunya Puput. Makanlah, jangan banyak bertanya. Hari ini aku belum bisa memasak, lukaku belum sembuh. Besok pagi saja aku memasak untuk kalian.”

“ Mana lukamu, coba kulihat !” tanpa segan Juliet menyingkap kaos yang dipakai Aisa, dan ia terpekik.

“ Aih !!! Separah ini ?!!!” serunya kaget, dan ia menutup mulutnya, hampir muntah melihat bekas luka yang mengering mirip orang terkena lepra.

Aisa mengangguk lemah. Malas mengatakan ia tak merasa sakit sedikit pun.

“ Duduk, kak. Ih… kasihan….” Seru Juliet, masih menutupi mulut dengan tangan.

Bagus, kalau kamu masih punya rasa kasihan, jangan ungkit soal aku dirawat di Bukit Jin saat ketemu mama. Aku berharap mama tidak bertanya. Mudah mudahan mama lupa pernah memukulku, lupa aku pernah dirawat di rumah sakit Bukit Jin. Semoga, harap Aisa dalam hati. “ Makanlah. Aku gapapa kok.” Kata Aisa.

Liburrr panjang lagi... padahal cuman libur lebih satu hari....so... isi liburan dengan membaca versi cetak Cinta Aisa, gak perlu cemas  inet lemot, gak cemas kuota habis... gak takut hape jatuh ke got gara gara keasikan baca sampai nabrak tiang listrik ... gak cemas layar tergores gara gara scrool terlalu baper...WA aja 0856 1273 502...selamat menikmati libur panjang...bersambung