Deri Prabudianto
Deri Prabudianto karyawan swasta

Hanya orang biasa

Selanjutnya

Tutup

Cinta Aisa 49: Kepergok

21 Maret 2017   06:28 Diperbarui: 21 Maret 2017   08:07 283 1 0
Cinta Aisa 49: Kepergok
Dok.pribadi

“ Hai, Pran. Bawa cewe nih? “ Sapa karyawan Sanggar. Karyawan Sanggar bukan karyawan Caltex, melainkan karyawan PT atau CV yang memenangkan tender pengelolaan Sanggar.

“ Teman sekolahku, Jack. Kenalkan, namanya Aisa.” Kata Prana. Aisa agak risih, di Dumai bawa cewe identik dengan bawa pacar.  Diulurkan tangannya.

“ Jack Tampubolon, “ kata Jack ramah.

“ Aisa Chaniati, “ ucap Aisa pelan.

“ Bisa minta pondok yang bebas gangguan, Jack ? “ tanya Prana.

“ Oke, untuk Prana selalu ada. Mari ikut aku.” Ajak Jack.

Tempat bebas gangguan? Aisa baru tahu di Sanggar ada pondok bebas gangguan. Dulu ia ikut papanya, mereka memilih tempat duduk yang tidak ada tamu. Seperti apa pondok bebas gangguan ? Jack membawa mereka agak memutar, melewati sebaris mobil yang parkir di samping kiri bangunan. Langsung ke paling pojok. Ada 12 pondok di Sanggar, itu bagian outdoor, di dalam gedung ada ruang pertemuan, juga ada ruang untuk makan.

Pondok paling pojok paling dihindari pelayan, karena paling jauh jika mengantar pesanan. Kesanalah Jack membawa Aisa dan Prana. Prana langsung mencatat pesanan agar Jack tak perlu bolak-balik. Aisa duduk bersama Prana, berhadapan.

“ Kalau ketahuan ibuku, matilah aku.” Keluh Aisa agak gelisah, entah kenapa hatinya berdebar-debar seakan  sesuatu akan terjadi.

“ Ibumu anti Caltex, tidak bakal kesini. “ hibur Prana.

Hati Aisa menjadi lebih tenang. Betul, ibunya anti Caltex sejak papanya di phk. Tak mungkin kemari. Apa itu juga yang menyebabkan dulu papa bertemu tante Mimi disini? Tidak. Waktu itu papannya belum di phk.

“ Anto mengatakan kebun singkongmu habis masa sewanya, berarti kita tidak bisa bertemu lagi di kebun singkong?  “ tanya Prana, membuyar bayangan Aisa tentang Tante Mimi.

Kalau aku mengatakan Lutong sering lewat di kebun singkong, Prana sudah tahu. Apa aku harus mengatakan bahwa Lutong sering minum bir bersama Jon? Tidak, jangan, sebentar lagi dia ulangan, aku tak boleh mengganggu pikirannya.

“ Sewa berakhir tanggal 31 Desember. Aku punya tabungan hasil menjual kripik, tidak banyak sih, hanya sekitar 150 ribu. Aku ingin meminjam uang pemberianmu untuk membayar sewa, apa kamu mengizinkan ? “ tanya Aisa.

“ Uang itu bukan uangku, Ais. Uang itu hasil sumbangan teman-teman papamu, boleh kamu gunakan sesukamu. “jawab Prana.

“ Setidaknya kamu yang menyerahkan padaku. Selain untuk biaya sekolah, keperluan lain  aku harus meminta izinmu.”

“ Papamu yang mengajarkan demikian?” tanya Prana.

“ Bukan. Papaku jarang bicara jika  di rumah. Anto yang mengajariku.”

“ Anto ?” Prana menunjukkan mimik heran.

“ Aisa berbelanja di kedainya, setiap berbelanja jika sedang sepi aku pasti diceramahi macam macam. Kamu,---- sering ditelpon dia ?”

Prana menggeleng, “ Dia sibuk belajar, mana ada waktu menelponku. Kecuali kondisi darurat.”

Darurat? Aku hanya bilang ke dia bahwa aku tidak ketemu kamu 4 bulan, dia langsung menelponmu, aku sama sekali tidak merasa itu darurat, protes Aisa dalam hati. “ Gimana kamu bisa kenal Anto ?”

“ Dia teman baik papaku.”

“ Kok bisa ? Dia muda, papamu tua, gimana berteman baik ?”

“ Bisa donk. Dia mahasiswa UT, papaku juga. Papaku kordinator UT untuk mahasiswa yang berasal dari karyawan Caltex, Karyawan Pertamina juga ada kordinatornya. Anto masuk kordinator mahasiswa UT Dumai kota, itu mencakup Adpel, pengusaha, dan mahasiswa muda. Semua ada kordinatornya supaya jika ada rapat atau kuliah terbuka, bisa saling menghubungi.”

Aisa kini mengerti, kenapa Anto begitu gampang meminjam telpon Pasmanen. Menjadi mahasiwa UT ternyata  membuat Anto terkenal ke seluruh Dumai.

“ Dia menelponmu. Ini, maksudku papamu tahu kamu datang mencariku ?” tanya Aisa gugup.

“ Tahu. Pernah kukatakan padamu, papaku termasuk penyumbang uang yang keberikan padamu.” jawab Prana enteng.

“ Apa yang kamu katakan padanya ketika tadi ingin keluar?” tanya Aisa dengan hati berdebar-debar.

“ Aku bilang, Pa. Prana mau keluar mencari pacar yang hebat, yang sanggup mencangkul, mengurus adik-adik, yang mandiri ketika ibunya tak peduli terhadap keluarga dan adik-adiknya. “ kata Prana sambil tersenyum.

Wajah Aisa bersemu merah, jantungnya tadi berdebar debar, kini berdebar semakin tak karuan.

“ Papamu pasti melarang, kamu nekad keluar.” Aisa menundukkan kepala.

Prana menggeleng. “ Papaku bilang: sesekali ajak Aisa ke rumah, papa ingin bertemu calonmu yang hebat itu.”

Aisa menutupi wajahnya dengan tangan. Kekawatirannya menghilang, dan ia meneteskan airmata bahagia. Ia tak sanggup mengatakan sepatah kata pun. Kepalanya terasa berat untuk diangkat, semakin lama semakin tertunduk ke bawah.

“ Kapan mau ikut aku ke Bukit Jin ?” tanya Prana.

Mau tak mau Aisa mengangkat kepalanya. Tampaklah wajahnya berair. Prana mengambil tempat tisue, tempat tisue kosong. “ Aku ambil tisue sebentar.” Kata Prana. Aisa tak mampu berkata-kata. Ia mengangguk. Prana pergi. Aisa menelungkupkan wajahnya. Kegembiraannya meluap. Namun, selagi ibunya anti Caltex, mana mungkin ia ke Bukit Jin kecuali perginya diam diam tanpa sepengetahuan Jon, Juliet, dan ibunya?

Prana perginya lama, Aisa mulai gelisah. Apakah aku mulai tidak kerasan ditinggal lama? Aisa menatap ke belakang Sanggar. Prana masih juga belum muncul. Aisa menatap ke pondok-pondok di belakang Sanggar. Berhubung bukan hari libur, hanya 1-2 pondok yang terisi. Itupun lebih banyak yang memilih di samping kanan bangunan.

Setiap pondok dibatasi tanaman yang dibentuk mirip pagar setinggi 1 meter, setiap pondok bisa dibuka dan ditutup tirainya. Aisa menghitung, sudah sekitar 10 menit Prana pergi. Kenapa belum kembali? Apa Prana ngobrol bersama Jack  dan melupakannya? Tadi pikiran Aisa melambung oleh kebahagiaan, sekarang hatinya dilanda kekawatiran. Apa Prana bertemu seseorang. Juliet dulu ketika SD punya teman di Bukit Jin, jangan-jangan Juliet datang ke Sanggar bersama temannya yang dulu se-SD dengannya. Celaka ! Kalau Prana sedang mengambil tisue, kepergok Juliet, Prana pasti kelabakan. Prana tak mungkin mengatakan bahwa ia kesini bersama Aisa, karena Prana tak mungkin membiarkan Juliet melapor ke ibunya bahwa Juliet bertemu Aisa di Sanggar. Prana takkan mencelakakannya. Jantung Aisa berdebar semakin kencang. Kalau Prana bertemu Juliet, apa yang akan terjadi? Prana pasti bersembunyi. Kalau Prana harus bersembunyi, bagaimana ia pulang? Dari Sanggar ke Tunas Muda harus melintasi separo Kota Dumai. Apa ia harus berjalan kaki pulang?

Tiba-tiba Aisa mendengar suara langkah kaki berjalan pelan-pelan, suara rumput yang terinjak menyiratkan ada sesuatu yang mendekati pondok. Apa Lutong ingin menyergapnya ? Hanya maling yang harus berjalan sambil mengendap-endap. Apa di Sanggar ada maling? Aisa tak punya senjata. Makanan yang dipesan Prana nasi goreng, Aisa tak memesan makanan berhubung masih kenyang. Gelas bisa dijadikan senjata. Aisa buru-buru menghabiskan jus jagungnya, ia menggenggam gelas seerat mungkin.

Bersantai....