HIGHLIGHT

Om Robert, Preman, Teman Kami

26 Januari 2010 04:09:00 Dibaca :

“Terima kasih ya.. kalian mau berteman dengan preman yang selama ini dijauhi banyak orang..” Demikian ucap Om Robert , dengan mata yang berkaca-kaca sesaat sebelum kami meninggalkan Sukaraja Kadupandak. Ya, Om Robert adalah preman di kota kecamatan Kadupandak, tempat kami KKP (lebih dikenal dengan KKN) selama dua bulan. Awalnya kami hanya mengenalnya sebagai teman polisi yang sering main ke basecamp kami. Tak ada kesan preman yang kami tangkap darinya. Memang sih, badannya gempal, kekar, penampilan selalu kucel dan awut-awutan. Matanya juga selalu merah sebagai hasil kebiasaan mabuk. Namun dengan kami dia selalu bercanda, pendengar yang baik, menampilkan kesan tulus seorang teman.

Dia datang bersama beberapa polisi yang kami kenal melalui perkenalan dengan HT seminggu setelah kami mulai bermukim di desa Sukaraja. Di tahun 2006 tersebut, sinyal hp belum menjangkau wilayah Kadupandak. Komunikasi dilakukan secara langsung atau dengan media HT. Kebetulan pak lurah Sukaraja memiliki HT. Dan alat ini pun menjadi senjata kami untuk berkomunikasi dengan tim di desa lain maupun dengan warga desa.

Selain karena letaknya yang terisolir, jauh dari pusat kota, dengan jalan yang begitu parahnya, wilayah ini juga lumayan terisolir dari informasi dunia luar. Siaran teve bisa diperoleh setelah memasang antena parabola atau menyalur dari yang memiliki parabola. Siaran radio yang tertangkap pun hanya siaran radio lokal, yang sepanjang hari memutar lagu, terutama lagu dangdut. Tak heran, saat kembali ke Bogor, kami pun jadi hafal lirik sebuah lagu dangdut “basah..basah..basah.. diri ini basah.. saat mendengarkan lagu India..” hahaha, lagu yang semula kami cela-cela, ujung-ujungnya malah jadi soundtrack KKP kami. Pertama datang kami pun heran, masih ada wilayah yang terisolir seperti itu di Pulau Jawa yang hanya berjarak beberapa ratus kilometer dari ibukota Jakarta.

Meskipun hanya berjarak kurang lebih 5 kilometer dari kecamatan, namun jarang ada alat transportasi. Jangankan angkot atau elf, ojek saja jarang. Harus melewati beberapa bukit batu yang hampir semuanya gersang. Semula, karena tak ada pilihan lain, kadang kami pun terpaksa jalan kaki di tengah teriknya matahari. Awalnya, semua memakai segala macam proteksi terhadap sinar matahari, tapi ujung-ujungnya mah males. Biarin aja deh, hitam-hitam dikit, biar eksotis. Hahaha. Tapi sejak mengenal para polisi dan Om Robert, mobilitas kami pun lebih tinggi. Jika berangkat di-pas-in aja ma jam patroli para polisi. Jika pulang, nyamper aja ke kantor polisi, ngobrol-ngobrol dikit dan mobil patroli pun siap sedia mengantar. Hahaha, untung kami nge-basecamp di rumah pak lurah yang ada di pinggir jalan ya.. Jika tidak, tetap saja harus jalan hingga ke tengah kampung yang masih jarang lampu jalannya ketika malam.

Sungguh, ga ada kecurigaan pun pada Om Robert bahwa ia adalah preman. Memang sih, terkadang matanya merah (habis mabuk), tapi saat itu ya kami anggap saja memang bawaan dari orok matanya merah. Hahaha, kami memang sangat polos !!

Om Robert datang hampir setiap malam ke basecamp kami, mengobrolkan banyak hal. Kami pun menyambutnya dengan terbuka. Tiap malam ia selalu menanyakan jadwal kami keesokan paginya. Dan siangnya dah standby di depan rumah untuk jadi tukang ojek gratis kami. Jika pun tak bisa mengantarkan, kadang motornya yang butut itu ditinggalkan di rumah, buat kami gunakan. Pokoknya semua fine-fine aja, hingga suatu ketika, kami melakukan demo pembuatan pupuk organik di lingkungan yang tergolong nyantri. Tanpa koordinasi, tiba-tiba dia nongol dengan mata yang sangat merah. Mungkin maksudnya adalah menjemput kami. Seorang pemuka, tiba-tiba menarik tangan seorang teman dan mengajaknya berbincang. Intinya adalah dia meminta kami menjauhi Om Robert karena dia adalah preman. Takutnya hal ini akan memberikan citra negatif pada tim kami di masyarakat.

Pada malam hari, teman pun segera mengajak kami berdiskusi mengenai apa yang sebaiknya kami lakukan. Beberapa teman menyatakan sebaiknya kita memang menarik dari pertemanan itu, mengingat ini adalah aspirasi dari masyarakat tempat kami bertugas, sementara Om Robert adalah warga tetangga desa. Aku dan satu temanku tidak sepakat dengan hal ini, sangat tidak etis rasanya, memutuskan pertemanan tiba-tiba, apalagi sebenarnya kami juga diuntungkan oleh kehadirannya. Kami berdua kalah suara. Maka sejak hari itu, kami pun menarik diri dari Om Robert. Jika dia datang main, kami berpura-pura menyibukkan diri. Begitu pula saat ia datang menjemput. Ada saja alasan yang kami ungkapkan.

Tiga hari berlalu, sepertinya Om Robert tahu dengan penolakan ini. Maka, seminggu kemudian dia pun tak pernah lagi datang ke basecamp kami. Kami pun kembali berjalan kaki ke mana-mana, hingga akhirnya pak lurah pun merelakan motor dinasnya buat kami pakai “dinas” (Hahaha, sebenarnya mah jadi modal buat teman-teman cowok “ngeceng” nyamperin gadis-gadis desa yang memang geulis-geulis eta).

Aku dan seorang temanku masih sering mendiskusikan hal ini, sampai kemudian kami berkesimpulan bahwa sebaiknya kami bicara terus terang saja menjelaskan situasi ini. Setidaknya ada penjelasan dari kami, tidak begitu saja kami memutuskan silaturahmi ini. Suatu sore, kami pun main ke kecamatan, sengaja menemuinya. Dia kami ajak ngobrol sambil makan bareng. Temanku bertindak sebagai juru bicara (hahaha, untuk urusan lisan, aku memang banyak kelemahan J ). Di akhir obrolan, Om Robert menyatakan pengertiannya, bahwa dia bisa memahami posisi kami. Sejak pertemuan itu, Om Robert memang tidak pernah main ke basecamp kami lagi, selain bersama para polisi yang memang kemudian rutin mengunjungi kami di akhir pekan. Namun di luar desa, di kecamatan, hubungan kami berjalan biasa, masih bisa bercanda dan ngakak seperti biasa. Kalau kami bosan dengan rutinitas, tiba-tiba dia pun mengajak kami ke tempat-tempat yang cukup menyenangkan. Lumayan menghiburlah.. Ini berlangsung hingga akhir masa tugas kami di desa tersebut.

Dua bulan tidak terasa memang. Awalnya kami rasakan berat, karena kami yang biasanya hidup penuh fasilitas, tiba-tiba harus hidup bersahaja seperti penduduk lokal. Namun, dengan menjalin hubungan baik dengan masyarakat setempat dan pemukanya, banyak pula fasilitas yang kami dapatkan hingga tugas kami berjalan lebih lancar (jika dibandingkan dengan tim di desa lain). Misalnya HT yang tadinya dipakai pak lurah pun bisa kami gunakan untuk komunikasi dengan masyarakat, atau desktop milik pak lurah yang telah lama rusak bisa kami koprek dan kami fungsikan untuk membuat hand out dan laporan. Handycamp pribadi pak camat pun bisa kami fungsikan untuk memberikan tayangan mengenai demo pupuk organik dst. Bahkan Om Robert, preman yang ditakuti masyarakat pun, bisa menjadi teman dan tukang ojek yang baik.

Dua bulan memang waktu yang terasa singkat, karena belum banyak yang bisa kami berikan pada masyarakat Kadupandak yang terisolir itu. Tidak sebanding dengan banyaknya pelajaran mengenai kehidupan yang kami dapatkan dari mereka. Berat kami meninggalkan desa itu. Berat secara fisik, karena truk yang menjemput kami tiba-tiba dipenuhi berbagai hasil bumi oleh warga sebagai oleh-oleh kami kembali ke Bogor. Pisang, ketela pohon, ubi jalar, bahkan sayur-sayuran yang menemani makan kami selama di sana pun ikut disertakan. Selain itu, berat secara hati karena meninggalkan guru-guru hidup kami, termasuk Om Robert. Sebelum kami berangkat, dia mengkhususkan diri datang dengan motor bututnya. Namun, hari itu dia datang dengan pakaian yang rapi. Mengajak kami bersalaman dan mengucapkan, “Terima kasih kalian sudah mau berteman dengan seorang preman yang selama ini selalu dijauhi banyak orang..” Sungguh sedih kami mendengarnya. Melihatnya matanya yang berkaca-kaca membuat air mata kami pun menitik. Di balik sosoknya yang menyeramkan dia tetaplah manusia yang lembut. Om Robert adalah preman dan Om Robert adalah teman kami !!

Dewi Lestari

/deeadewie

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Sudah di Bogor, sementara akan jadi pembaca setia kompasiana.. :)
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?