Dedy Padang
Dedy Padang pelajar/mahasiswa

Menulis merupakan sarana yang sangat baik untuk menenangkan diri. Saat menulis, mengalir suatu emosi dalam diri yang tergerak dalam gerakan pena dan kata atau pun bahasa yang kita pakaikan,,,

Selanjutnya

Tutup

Surat buat Tuhan

12 Agustus 2017   16:23 Diperbarui: 12 Agustus 2017   17:45 20 2 0

Tuhan, kata banyak orang setiap orang yang menjadi imam atau biarawan/i telah Kamu panggil sejak mereka kecil. Aku mau bertanya pada-Mu, pernahkah Kamu berpikir tentang keinginan mereka sehingga mereka sekalipun terpilih menjadi imam atau biarawan/i tidak merasa terbebani atau menyesal melainkan bahagia? Saya ragu bahwa beberapa di antara mereka ada yang menyesal atau merasa telah terlanjur sehingga tidak punya pilihan lain selain mengikuti panggilan-Mu. Jika keraguanku ini benar, bukankah Kamu itu tampak sangat kejam bagi mereka? Sehebat apakah panggilan-Mu itu sehingga kamu ingin agar banyak atau bahkan semua orang mengikutinya? Dan hukuman apakah yang bakal Kamu berikan kepada mereka yang tidak mengikuti panggilan-Mu atau menolak-Nya dalam perjalanan waktu? Jika benar hukuman itu ada, di manakah keadilan-Mu? Atau masih pantaskah Kamu kami sebuat sebagai Tuhan yang adil? Apa bedanya Kamu dengan bos-bos atau penguasa-penguasa dunia ini yang jika kehendaknya tidak kami penuhi maka kami dikuhum? Atau Kamu memang sama seperti mereka karena merasa bahwa kehendak merekalah yang paling benar dan mesti kami ikuti?

Apakah dayaku orang yang lemah ini. Saya tidak lebih dari benda ciptaan-Mu, hanya saja Kamu membentuknya menurut citra-Mu, tetapi tetap saja bahwa saya hanyalah ciptaan-Mu belaka. Saya sadar, dengan statusku yang adalah ciptaan maka aku tak pantas protes melainkan mengikuti semua perintah-Mu dengan tekun sepanjang hayat hidupku di dunia ini. Lalu apa fungsi kebebasanku yang Kamu anugerahkan jika saya tidak bisa menjadi tuan atas diriku?

Maafkan aku Tuhan karena telah lancang kepada-Mu. Tetapi saya yakin Kamu itu lebih dari seorang teman dekatku yang kepadanya aku mencurahkan isi hatiku. Itu  yang membuat aku berani blak-blakan kepada-Mu. Saya yakin Kamu pasti mendengarkanku dengan penuh cinta.

Panggilan-Mu ini membuat saya merasa tidak memiliki masa depan. Cita-citaku yang pernah kuucapkan waktu kecil kini tinggal kenangan. Tidak ada yang bisa kulakukan lagi untuk mewujudkannya karena aku telah berada di sini untuk mengikuti panggilan-Mu dan berharap Kamu mau memilihku.

Sebenarnya bukan Kamu satu-satunya yang kumarahi. Aku pun marah pada mamaku yang rasanya beliau begitu mengikat dan memaksa diriku untuk mengikuti panggilan-Mu. Kalau bukan karena mama, mungkin atau bisa saya pastikan bahwa saya tidak akan berada di sini, tetapi telah menikmati cita-citaku. 

Aku perlu seseorang yang mampu memberiku inspirasi yang meneguhkan semangat hidupku. Semoga keinginan ini tidak bertentangan dengan kehendak-Mu. Hanya ini yang saat ini kuperlukan untuk membangun kembali semangat hidupku dan meyakinkan diriku untuk memilih jalan hidup yang lebih baik.

dari anak-Mu