Sahabatku dan kenangan Gobak Sodor

21 Februari 2013 17:52:33 Dibaca :

“Geng, kamu mau terima telpon dari polisi itu sepagi ini?” tiba-tiba Ibu sudah ada di kamarku, membawa secangkir teh yang menebarkan aroma melati seketika. “Dia bilang, kalau kamu masih tidur, dia akan datang dan menyeretmu ke kali.”

“Aku tahu siapa yang Ibu maksud. Biarkan saja,” jawabku malas-malasan.

“Minum teh panas dulu, biar pusingmu cepat hilang,” ujarnya seraya menyodorkan cangkir kecil berhias kembang-kembang. Aku meneguk hampir separuhnya. Ibu–dengan kulit wajah yang mulai mengeriput–duduk di sisi tempat tidurku. Wajahnya berhias senyum manis yang tulus, senyum yang selalu aku nantikan.

“Tadi malam waktu Dodo datang, Ibu nggak tega membangunkanmu ...”

“Oh, dia sudah ke sini?”

Ibu mengambil alih cangkir dari tanganku, meletakkannya di sebuah meja kecil di sudut kamar. “Iya, benar,” jawabnya kemudian, seraya kembali duduk di sampingku. “Dia bilang calon isterinya itu teman sekolah dulu. Mereka ingin sekali ketemu kamu. Tapi Ibu bilang, kamu harus istirahat, masih pusing karena mabuk kendaraan ...”

“Ibu bilang gitu?! Aku nggak mabuk, Bu. Aku hanya capek,” aku sedikit protes.

“Iya, maksud Ibu begitu, hehe. Tapi kamu sejak dulu memang aneh; naik angkot aja mabuk, apa lagi kapal terbang.” seloroh ibu.

Ibu memintaku untuk telungkup. Sedetik kemudian, tangannya mulai meremas-remas betisku perlahan-lahan. “Kamu kapan mau nyusul mereka? Ibu sudah nggak sabar pengen …”

“Nimang cucu kan? Nggak akan lama lagi ko, percaya deh.”

“Kamu masih berhubungan sama Titin kan? Nggak kamu jadikan isteri saja?”

Aku membalikkan badan, memandang Ibu lekat. “Jadi isteri gimana, Bu? Pacaran aja nggak.”

Ibu terkekeh pelan. “Loh, Ibu kira hubungan kalian dulu sangat akrab, bahkan lebih dari hanya sekedar pacaran? Lalu, cari yang gimana lagi? Titin itu kan gadis yang baik, cantik, pinter …”

“Rajin menabung dan nggak sombong, hehe. Terus apa lagi?”

“Tapi sebenarnya kamu ada hubungan serius nggak sama Titin?

“Hubungan yang kayak apa?” tanyaku pura-pura bodoh.

“Ya pacaran!”

“Hmmm, gimana ya? Dia kan sahabatku, Bu.”

“Emang ada larangan?”

“Ya nggak sih. Cuma kan susah ngomongnya. Nggak enak aja ...”

“Ohh, jadi hanya karena nggak bisa ngomong? Apa harus Ibu yang bilang?”

“Sudahlah, nanti aja kita ngomonginnya ya.” Aku berusaha mengalihkan pembicaraan. Belum siap rasanya jika harus cerita pada Ibu saat ini. Biarlah, saat ini aku sendiri yang tahu tentang rasaku pada Titin. Pada saatnya nanti Ibu akan tahu sendiri jawabannya.

“Oya, Dodo bilang apa waktu datang?”

“Mereka bilang kangen sekali sama kamu. Makanya, nanti kalau badanmu sudah enakan, kamu harus ke rumahnya …”

“Nanti selesai mandi saja. Sejak dulu Ibu tahu kan kalau kami bersahabat dengan cara yang sangat aneh, nggak pernah akur. Sekarang ko tiba-tiba saja mau bertemu dan bilang kangen segala. Jangan-jangan …”

“Sssst!! Itu kan dulu, Geng. Sekarang dia sudah berubah. Dia sudah jadi orang berpangkat dan terpandang di kampung kita. Nggak mungkin dia masih nakal seperti dulu.”

“Bagaimana Ibu tahu dia sudah berubah?!”

“Hati kecilmu sendiri sudah tahu jawabannya.” Ibu tersenyum memandangku dengan tatapan jenaka. “Kalau nggak, mana mungkin kamu bela-belain pulang kampung, padahal kamu bilang kalau kerjaanmu banyak, cuti juga dibatasi. Coba bayangkan, empat tahun bekerja di Jakarta, kamu hanya sempat pulang dua kali. Itupun karena Ibu yang maksa. Terus kenapa sekarang …”

“Nggak tahulah, Bu.”

“Ya sudah, Ibu mau menyiapkan sarapan buat Ayahmu. Dia harus ke sawah pagi-pagi. Mending kamu mandi dulu sementara Ibu menyiapkan sarapan biar kita bisa sarapan bareng ya?” tanpa menunggu persetujuan, Ibu kembali ke dapur, meninggalkanku.

Ahh, masih malas rasanya untuk bangun sepagi ini. Musim bunga kopi di kampungku seolah sengaja mengantarkan hawa dingin ke setiap sudut di ruangan ini. Sinar matahari pagi belum mampu mengantarkan hangatnya.

***

Pulang kampung. Itu yang harus aku lakukan. SMS berisi undangan dan selebihnya permohonan, dua hari yang lalu kuterima dari Dodo, sahabat lama yang ternyata sekarang sudah jadi seorang perwira polisi. Dia akan segera mengakhiri masa lajangnya, menyunting gadis Jawa yang telah mampu menaklukan hatinya.

Kalau dihitung-hitung hampir tiga belas tahun aku dan Dodo tak bertemu. Tak pernah ada kontak sejak kami lulus Sekolah Dasar. Sejak dia ikut ayahnya yang dipindahtugaskan ke Medan. Sepeninggalnya ketika itu, aku meneruskan SMP dan SMA di kampungku bersama Titin, sahabat karibku. Enam tahun kemudian aku melanjutkan kuliah di salah satu universitas terkenal di Yogyakarta melalui jalur beasiswa. Sedangkan Titin ikut keluarganya pindah ke Palembang, kuliah di jurusan Akuntansi.

Kabar terakhir yang aku baca dari akun facebook-nya yang tanpa sengaja aku temukan setahun yang lalu, sekarang dia tengah melanjutkan S2 sambil menggeluti dunia modeling. Dia layak menggeluti dunia itu. Sejak kecil, Titin memang cantik dan menggemaskan. Tak heran jika ia selalu menjadi pusat perhatian. Tak jarang juga, teman-teman lelaki di sekolah mengakuinya sebagai pacar. Tetapi justeru Titin kecil menghindari mereka dan menjadikanku sebagai benteng untuk menahan kejahilan teman-teman lelakinya.

Mungkin karena kami sama-sama lumayan sibuk dan aku tak begitu aktif di dunia maya, kami hanya sempat empat kali berhubungan, itu pun hanya melalui inbox yang selalu kubaca setelah beberapa hari berselang.

Tak banyak informasi yang aku dapatkan, selain cerita tentang kesibukannya membagi waktu dan obsesinya untuk mencari dan mengumpulkan teman-teman lama melalui jejaring sosial. Di inbox terakhir yang aku terima, dia sempat menawariku untuk bertemu di Jakarta, di sela-sela pemotretan untuk sebuah malalah terkenal di ibu kota. Ini kesempatan luar biasa. Aku menyambut antusias rencana itu, sebab aku ingin Titin tahu bahwa aku menyimpan rasa kepadanya. Tetapi pertemuan yang diam-diam kurancang menjadi momen istimewa itu terpaksa harus gagal. Pada hari kedatanganya, justeru aku ditugaskan ke Balikpapan. Hingga saat ini, aku belum sempat menyampaikan rasaku.

Aku belum tahu apakah dia juga sudah menemukan Dodo dan berhubungan di dunia maya. Dia tak pernah menyinggung masalah itu. Ada keinginan untuk menanyakannya di awal obrolan dulu, tetapi urung kulakukan meski aku yakin dia tak pernah menyimpan rasa benci dan dendam. Kenakalan Dodo ketika itu, tetap menjadi kenangan dan kisah lucu yang sulit dilupakan.

Dulu, meskipun aku dan Dodo tinggal di kampung dan duduk dalam kelas yang sama, kami bukanlah sahabat yang baik. Kami lebih sering saling mengganggap musuh. Aku dan dia adalah ketua dari kumpulan beberapa anak sebaya di sekolah kami, sebuah kelompok genk yang memang menjadi trend kala itu.

Kami jarang bicara, walau sering bertemu muka di banyak kesempatan. Hal itu makin terasa ketika kami duduk di kelas lima. Dalam pemilihan ketua kelas, kami memiliki suara sama kuat untuk memimpin kelas kami. Keputusan wali kelas-lah yang kemudian menuntut aku untuk mengalah dan rela menjadi wakil ketua kelas, mendampingi Dodo yang keras dan terkadang terkesan terlalu sombong.

Aku bukan membencinya, hanya kadang kesal akan ulahnya. Aku yakin, sebanarnya dia juga tidak pernah punya rasa itu terhadapku. Terbukti, beberapa kali dia membantuku ketika aku terjatuh dari sepeda di jalan berkerikil. Pernah juga dia menuntunku menyebrangi sungai berarus deras ketika kami berkemah.

Yang paling sulit aku hapuskan dari ingatanku, ketika dalam malam yang gelap, hujan dan penuh halilintar, dia datang ke rumahku dan rela tidur di lantai hanya untuk menjagaku yang sudah lebih dari tiga hari demam tinggi dan tak kunjung reda. Semua itu dia lakukan tanpa kata. Tanpa bicara. Apa lagi beramah-tamah dalam bahasa yang baik dan santun.

Selebihnya, sering kali kami berselisih, dari mulai pengambilan keputusan sampai masalah pribadi. Dan hal itu tidak saja terjadi di dalam kelas, tetapi terbawa hingga ke rumah. Terbawa dalam pertemanan yang lebih banyak kami habiskan bersama-sama dan dalam setiap permainan Gobak Sodor yang kerap kami mainkan.

Dalam setiap permainan, Dodo yang memiliki tubuh paling besar di antara kami, selalu saja membuat ulah dan seolah paling berkuasa. Kalau saja aku tidak banyak mengalah, tidak akan terhitung lagi berapa kali pertengkaran dan perkelahian yang kami lakukan.

Berapa kali ayah kami dipanggil oleh Pak RT hanya untuk dinasehati dan diminta untuk lebih memperhatikan kami. Tapi janji untuk berubah yang kami ucapkan di depan Pak RT dan ayah kami, hanyalah janji kosong belaka. Selebihnya lebih sering lupa atau sengaja dilupakan.

***

Waktu itu malam purnama. Malam terakhir aku dan Dodo bermain dalam permainan yang sama, dua hari sebelum dia dan keluarganya meninggalkan kampung entah untuk berapa lama. Kami berkumpul di sebuah lapangan bola untuk bermain Gobak Sodor. Masing-masin regu terdiri dari lima orang.

Untuk pemilihan tempat saja, Dodo dan regunya lebih memilih bermain di dalam ruangan, di sebuah gedung serba guna yang selama ini banyak digunakan untuk main badminton oleh orang-orang dewasa. Aku tahu, Gobak Sodor bisa dimainkan di dalam dan di luar ruangan. Tapi aku merasa di luar ruangan lebih mengasyikan, apa lagi saat bulan purnama datang. Ada nuansa dan nikmat tersendiri ketika bersama teman-teman bisa menghabiskan malam itu di alam terbuka.

Setelah melalui diskusi yang cukup alot, akhirnya kami membuat arena bermain di lapangan bola dengan membuat garis batas kami buat dari tepung terigu. Tapi malam yang seharusnya indah itu berubah jadi bencana bagiku. Selain bermain curang, Dodo lebih banyak berusaha mempermalukan aku di depan teman-teman. Terlebih di depan Titin, satu-satunya teman perempuan yang menjadi sahabatku.

Titin terlalu manis, terlalu lugu dan terlalu baik. Aku tak pernah rela jika harus menjadi korban kejahilan Dodo. Sepertinya Dodo tidak suka melihat kami bersahabat dan terlalu akrab. Sungguh, dia tidak pernah mau mengerti persahabatan kami. Persahabatan yang kunilai sangat agung, bahkan melebihi ikatan sebagai adik dan kakak. Aku rela melakukan apapun demi Titin, menjaganya dari semua hal yang mencoba untuk mengusik dan menyakiti hatinya.

Aku kecewa sudah dijadikan bulan-bulanan di depan banyak orang. Terlebih, beberapa teman dari reguku juga menyalahkanku. Mengganggap aku terlalu lemah.

Ketika giliran kelompok kami menjadi penjaga, aku ditunjuk menjadi penjaga blandar, garis vertikal di tengah arena bermain itu. Aku memiliki akses keseluruh garis batas vertikal dari depan ke belakang dan ke samping kanan-kiri sebatas jangkauan tangan. Gerakku harusnya lincah dan tangguh. Tapi nyatanya, lebih dari dua kali Dodo mengecohku, membuat tubuhku yang kurus limbung dan ambruk ke tanah.

Rasa kecewa dan benci itu belum juga hilang hingga besoknya. Ketika kulihat wajah Dodo, rasanya ingin kubenturkan kepalanya ke tiang bambu di kantin sekolah. Betapa tidak, dalam dua kali pertandingan tadi malam, dia menampar punggungku, dengan diperhatikan banyak mata. Rasa sakit itu tidak seberapa jika dibandingkan rasa malu yang sengaja kutahan. Apalagi, tak jauh di sudut lapangan, berdiri Titin, seolah tajam menelanjangiku.

Dodo bukan tidak paham bermain Gobak Sodor. Dia tahu bahwa permainan itu terdiri dari dua regu yang minimal diwakili oleh dua orang setiap regunya. Satu regu bermain sebagai Penjaga dan regu lawan bermain sebagai Pemain secara bergantian. Setiap anggota regu Pemain akan berusaha mencapai garis belakang arena dan kembali ke garis awal. Anggota regu Penjaga akan mencegah Pemain di garis blandar dan empat garis horizontal. Jika satu Pemain tersentuh Penjaga, maka dia sudah tidak berhak lagi bermain. Jika keseluruhan pemain tersentuh, maka posisi regunya akan berganti sebagai Penjaga. Begitu seterusnya.

Tapi, aturan itu tidak berlaku bagi Dodo, menurutnya satu pemain tersentuh itu sudah cukup mewakili regunya untuk digantikan dengan regu lain. Padahal dia tahu peraturan yang kami pakai selama inilah yang menjadi peraturan baku di tempat kami. Kami paham bahwa permainan ini bisa berbeda peraturan dan bentuknya di daerah lain.

Adu mulut antara Dodo, aku dan kedua regupun terjadi. Walau akhirnya Dodo dan regunya yang membuat peraturan tidak baku itu bisa menerima keputusan banyak pihak, tapi ternyata dia memendam niat jahat terhadapku.

Seharusnya dia tidak perlu memukulkan telapak tangannya sekuat tenaga di punggungku. Dengan hanya menyenyuh saja, semua akan mengerti kalau aku sudah ‘mati’ dan harus keluar dari permainan. Tiga kali dia melakukan itu, dan tiga kali aku jatuh terhempas dengan punggung yang memanas.

Niat untuk membalas dendam pagi itu masih ada, ketika dia datang menghampiriku. Dengan gerakan cepat, tangan kanannya memasukkan lipatan kertas warna biru ke saku bajuku. Secepat dia mendatangiku, secepat itu pula dia pergi dari hadapanku. Aku baru sadar, ternyata saat itulah terakhir kalinya aku melihat wajah dia.

Dalam suratnya dia menulis; “Geng, maafkan salahku, ya. Kita tetap berteman dan akan bertemu lagi. Tapi aku nggak suka kamu dekat sama Titin.

Malamnya, ketika kubaca lagi tulisan tangan Dodo, dadaku sesak. Tenggorokanku terasa tercekat. Aku tak kuasa untuk berkata-kata. Tak terasa air mataku mengalir deras. Aku merasa benar-benar kehilangan dia.

“Jangan sedih ya, kita masih akan bertemu Dodo lagi ko,” bujuk Titin penuh perhatian, “lagian, masih ada aku di sini …”

***

“Heyy, orang kota nih ...” satu sentuhan di pundakku membuat aku kaget dan spontan membalikkan badan. Di hadapanku berdiri seorang lelaki muda yang lumayan ganteng. Bentuk tubuhnya atletis dengan rambut cepak dan rapi.

“Aku Dodo, Geng. Masa kamu lupa sih?” sepertinya dia mengerti apa yang ada di kepalaku saat ini. Tatapannya lekat menguliti wajahku. “Duuhh, sekarang Ugeng udah kayak artis, ganteng banget …”

Tanpa kata, spontan aku bangkit. Berdiri. Menyambut uluran tangannya dan sesaat kami berpelukan. Aku rasakan ada butiran hangat membasahi bahu kananku seketika. Dia menangis tertahan. Dodo yang kukenal keras, angkuh dan pantang menunjukan sisi lemahnya, kini luruh dalam sejuta perasaan yang mungkin sama seperti yang aku rasakan saat ini. Rasa rindu dan haru berbaur menjadi satu.

“Aku kangen kamu, Geng.”

“Iya, aku jugu …” Mataku terasa panas dan berat. Ada ribuan ton beban di sana yang tak ingin aku tunjukan. “Kita duduk di ruang depan ya?”

“Geng, aku mau nikah …”

“Iya, masa aku lupa?”

Dodo berusaha menahan langkahku ke ruang tamu. Dia menatapku, seolah ingin meyakinkanku bahwa niatnya sungguh-sungguh. “Aku ingin kamu merestui pernikahan kami, Geng. Maaf sebelumnya, bukannya kami merahasiahkan semua ini …”

“Tentu saja aku merestui. Aku turut bahagia dengan pernikahan kalian,” ujarku seraya keluar dari ruangan itu.

Di ruang depan. Berdiri seorang gadis semampai berambut sebahu. Wajahnya halus dan manis. Senyumnya mengembang ranum dari bibirnya yang indah dan sempurna. Genangan bening mengambang di bola matanya yang bulat. Belum sempat aku menghampirinya ketika tiba-tiba ia menyambutku dengan serengkuh peluk hangat dan bersahabat.

“Titin …” aku hanya mampu berbisik pelan.

***

Redy Kuswanto

/ddredy

Redy Kuswanto lahir di sebuah desa kecil di Kabupaten Brebes. Menghabiskan masa anak-anak dan remaja di Kuala, Aceh Barat. Lulusan S1 Akuntansi di sebuah STIE di Yogyakarta yang memiliki hobi menulis dan photography ini bekerja di art gallery dan relawan di Yayasan Dunia Damai sebagai coordinator workshop untuk anak-anak. Bersama teman-teman relawan lain mengelola sebuah perpustakaan anak dan mengadakan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan dunia kepenulisan dan pengembangan skill dan kreatifitas anak. Sedang berusaha mewujudkan mimpinya membuat perpustakaan gratis untuk anak-anak dari keluarga tidak mampu. Bukunya yang sudah diterbitkan self-publishing ‘Si Ugeng, Lutung Kampung Pake Sarung’ (kumpulan cerpen, Leutika, 2012), dan kumpulan cerita anak bersama teman-teman relawan Museum Anak Kolong Tangga ‘Selalu Saja Begitu …’ (Buku Pintal, 2013) dan translator sebuah novel anak ‘Harapan Peebee’ karya Rudi Corens (Erlangga, 2008). Penulis bisa dihubungi melalui Email: ddredy@gmail.com atau bisa dikunjungi lewat facebook Redy ‘Ugeng’ Kuswanto, tweeter @ddredy dan no telepon 0817261472.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?