Kotak Suara

Pesan buat Ahok-Djarot, Jangan Memanfaatkan Nama NU Demi Pilkada

12 April 2017   13:10 Diperbarui: 12 April 2017   13:46 139 1 3

Ormas-ormas keagamaan yang memiliki basis massa banyak pasti akan menjadi rebutan para pasangan calon dalam setiap hajatan demokrasi. Begitu juga halnya dalam Pilkada DKI Jakarta tahun ini. Para pasangan calon berlomba-lomba bersilaturrahmi dengan pengurus dan pimpinan ormas-ormas besar, seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Bahkan, para pasangan calon ini kemudian tiba-tiba mengasosiasikan diri dengan ormas-ormas tersebut.

Cara ini terlihat sekali dalam momentum kampanye putaran kedua di Pilkada DKI Jakarta ini. Ahok-Djarot berulang kali meminjam nama NU dan tokoh-tokohnya, terutama K.H. Abdurrahman Wahid, untuk melegitimasi kedekatan mereka dengan NU. Bahkan, dalam persidangannya, Ahok mencoba memutar pidato Gus Dur untuk menjustifikasi sikap dan tingkah lakunya yang dikaitkan dengan penistaan agama.

Karena itu, Ahok-Djarot sangat senang ketika pada akhirnya mendapatkan dukungan dari partai-partai yang pendukungnya berbasiskan NU, seperti PPP dan PKB. Mereka semakin percaya diri mengasosiasikan diri dengan salah satu ormas terbesar tersebut.

Tidak cukup dengan mengunjungi tokoh-tokoh NU, cara terbaru yang dilakukan Ahok-Djarot adalah menggunakan nama pendiri NU, K.H. Hasyim Asy’ari sebagai nama Masjid Raya Daan Mogot. Cara ini bertujuan untuk mengambil hati dan simapti masyarakat NU di Jakarta.

Para pendukung Ahok-Djarot pasti menolak dugaan tersebut, tapi masyarakat tidaklah bodoh. Sebab, jika Ahok-Djarot memang tulus hendak menggunakan nama K.H. Hasyim Asy’ari, kenapa tidak dilakukan jauh-jauh hari sebelum musim kampanye dimulai.

Karena itu, tidak sedikit yang menilai bahwa Ahok-Djarot tengah mempolitisasi masjid beserta nama K.H. Hasyim Asy’ari untuk memperbaiki citra dan elektabilitas mereka. Cara seperti sungguh tidak sehat bagi hajatan demokrasi di Pilkada DKI Jakarta. Pertama, cara seperti ini pada dasarnya merendahkan NU karena kebesaran NU dimanfaatkan untuk tujuan merebut kekuasaan. Kedua, merendahkan agama karena agama digunakan untuk tujuan memenangkan kontestasi kekuasaan.

Karena itu, pesan pada Ahok-Djarot adalah selayaknya jangan meminjam atau memanfaatkan nama NU dan tokoh-tokohnya untuk meraih simpati dalam Pilkada DKI Jakarta. Sebab, hal ini tidak etis dan tidak layak bagi NU dan masyarakat NU.