Kotak Suara

Ketika Anies Baswedan Menegur Warga yang Mengucapkan Kalimat Berbau SARA

16 Maret 2017   12:51 Diperbarui: 16 Maret 2017   13:10 159 0 1
Ketika Anies Baswedan Menegur Warga yang Mengucapkan Kalimat Berbau SARA
Sumber: detik.com

Isu SARA memang tengah ramai dimanfaatkan di Pilkada DKI Jakarta. Isu ini digunakan entah untuk menjelekkan pasangan calon tertentu atau untuk mencitrakan diri sebagai korban kekerasan isu SARA. Tentu saja, yang paling sering difitnah memanfaatkan isu SARA dalam Pilkada DKI Jakarta adalah pasangan Anies-Sandi. Para Anti Anies-Sandi menilai Anies-Sandi memanfaatkan isu SARA untuk mendulang suara karena kebetulan mendapatkan banyak dukungan dari umat Muslim dan ormas Islam.

Meski demikian, karena tuduhan dan fitnah itu tidak berdasar, maka semuanya mental dan tak mempengaruhi persepsi publik kepada Anies-Sandi. Seperti kejadian ketika Anies Baswedan melakukan kunjungan kampanye ke Taman Sari, Jakarta Barat. Ada yang unik dari pristiwa kampanye tersebut. Di saat Anies tengah menyinggung soal penggusuran, sekonyong-konyong warga nyeletuk dan berkata, “Orang Cina suka gusur”.

Pernyataan yang spontan keluar dari mulut warga tersebut tidak dibiarkan oleh Anies Baswedan. Anies justru menegur langsung warga yang mencoba mengumbar isu SARA dalam Pilkada DKI walaupun hal tersebut menguntungkan dirinya. Anies menjelaskan kepada warga bahwa Anies-Sandi dan para pendukungnya tidak ada urusan dengan persoalan SARA. Begitu juga yang seharusnya dilakukan oleh masyarakat. Anies Baswedan bahkan menegaskan bahwa kita bisa tidak setuju dengan kebijakan pemimpin (dalam hal ini Ahok yang memang beretnis Cina), dan kita perlu mengertik kebijakan tersebut, tapi tidak boleh atas dasar sentiment identitas SARA.

Mendengarkan perkataan Anies Baswedan, masyarakat langsung membenarkan bahwa tidak boleh membawa isu SARA hanya untuk mendulang suara dalam hajatan politik ini. Sebenarnya, sikap seperti inilah yang seharusnya diperlihatkan oleh pasangan calon, partai-partai pendukung, relawan, dan semua tokoh masyarakat, yakni tidak melakukan politisasi SARA dalam momen-momen pemilihan politik. Sebab, resikonya sangat buruk bagi kesatuan dan persatuan bangsa.

Jangan pula ada pasangan calon, partai-partai politik, dan relawan yang menggunakan isu dan pristiwa berbau SARA, baik untuk menjelekkan pasangan calon lain maupun untuk mendulang simpati dengan membangun citra sebagai korban isu SARA.  Sebab, hal seperti ini juga tidak akan mengeluarkan kita dari lingkaran setan politik SARA.