Presiden; "It's Me"

02 Desember 2016 15:58:01 Diperbarui: 02 Desember 2016 16:47:29 Dibaca : Komentar : Nilai :
Presiden; "It's Me"
Dok.pribadi


Mengamati Pak Jokowi dalam menghadapi berbagai isu dan fakta terkait aksi damai 411, rushmoney 2511 dan aksi bela jilid III pada 212 memang sangat menarik. Kepemimpinan beliau tampak sangat kuat. Beliau sangat peka dan cepat sekali mendengar. Walau begitu, dalam berkata-kata beliau sedikit lambat dan hati-hati sebab harus pintar menempatkan amarahnya pada sasaan yang tepat. Membaca hal ini, berbagai pihak semakin berhati-hati dengan beliau, walau masih ada saja yang “usil”. 

Dalam “mempercantik” setiap langkah dan aksinya, beliau selalu membubuhkan guyonan dan lelucon yang dibungkus dengan keserhanaan. Haldemikian selalu ia kedepankan dipanggung manapun. Tak ayal, kecerdikan beliau dalam menunjukkan ketajaman pikirannya menghadapi setiap gelombang politik memang sangat kuat.

Tak sedikitpun ia suka ada peran sandiwara walau dipanggung manapun, apalagi ada peran sembunyi-sembunyi. Beliau pun tak pernahmenyibuk diri memperlengkapi berbagai strategi benteng diri untuk menangkal serangan politik yang dialamatkan pada dirinya. Memang keterbatasan undangan makan siang di istana dan kunjugan ke markas-markas parti dan ormas harus selektif. Jangan baper (bawa perasaan) ya, mungkin saja ini hanya masalah skala prioritas.

Dengan “keluguan” beliau menunggang kuda sambilia cermat memantau dari atas kuda;  siapa saja yang masih liar seperti kuda, dan siapa saja sekarang yang suka bertopeng kuda. 

Kita bisa saja tertawa mengikuti tawa beliau diatas kuda bersama dengan Pak Prabowo, tetapi apa semua tahu makna ketawabeliau? Tetapi yang pura-pura tahu bisa ada, apalagi yang tidak mau tahu,siap-siap saja diajak naik kaki kuda.

Beliau selalu saja ramah apabila yang ditawarkan itukuda putih, tak pula ia mamaksa harus naik kuda hitam. Baginya, tak peduli apa kata orang yang tidak paham bahasa simbolik kuda. Yang penting satu langkah kuda lagi, posisi “raja” lawan di papan catur sudah akan terancam. Jangan buru-buru “skak mat” ya Pak.

Lelucon, kelakar dan santai beliau tak lepas dalam acara makan siang di istana dengan para sahabat-sahabat yang sudah paham akan langkah kuda. Padahal yang merasa “sahabat” sudah menyiapkan kuda untuk ditunggang ke istana, hanya saja tetap saja masih menanti diundang. Hellooo.!!

Pak Jokowi memang unik dalam hal kesantunan politik. Tetangga bisa lebih sibuk padahal bukan dia yang punya hajatan. Memang demikianlah jika bertetangga yang baik selama tidak ada pesan-pesan khusus yang terselip diamplop undangan. Bisa-bisa selamanya tak akan diundang, dibiarin sampai ngambek benaran. Nah, loh.!!

Jargon blusukanyang popular dari beliau, terus saja bergulir sampai pada ia mengunjungi berbagai markas TNI hanya untuk silaturahmi dan mengucap terimakasih. Luarbiasa. Dia betul tahu siapa saja yang bekerjasama dengan dia, dengan kerendahan hati ia pun mau menemui satu-persatu tulus dalam kerja-kerja-kerja.

Nasi apa saja sebetulnya akan enak jika makannya bersama Pak Jokowi. Ditengah-tengah institusi Polri, beliau pun nikmat makan nasi bungkus bersama. Lagi-lagi, wajar saja ada yang harap-harap pengen diundang juga makan bersama walau tidak di istana, lantas dimana?

Fokus, kerja-kerja. Motivasi semangat selalu beliau tekankan dilapangan. Dipanggung politik pun, beliau tak ragu untuk mengangkat kuda duluan di papan caturnya. Bisa saja dia mengerakan pion duhulu bukan? Kalau beliau mengangkat kuda untuk melangkah memang selalu saja membuat pihak lawan jadi baper (bawa perasaan). Ngak diserangpun merasa diserang. Gitu aja kok repotya?!

Lelucon keserderhanaan beliau seperti mengasah pisau yang sudah tajam saja. Trus mau apalagi? Ya, kali-kali orang belum pernah melihat beliau mengasah pisau bukan? Tapi, tenang, beliau tak pernah mau menusuk dari belakang. Tak mau pula menitip banyak orang untuk “menusuk”panggung politik lawan.

Orang lain masih sibuk menyembunyikan diri ditengah-tengah hiruk pikuk, padahal jelas-jelas saja sudah tampak batang hidungnya. Bahkan baunya pun tak dapat dibohongi. Sialnya, sampai tahun kuda kapanpun, hal ini akan diingat orang. Foto topeng kuda itupun ada saja yang usil menyimpannya dalam foto digital untuk selalu mengingatkan dirinya.

Menjelang 212 Pak Jokowi dengan tegas mengatakan;"Rujuk apa? Siapa yang berantam?...." Dengan santai beliau mungkin mengatakan.Presiden; “Its me” Ikut sholat doa bersama ditengah-tengah para sahabat tak menghalangi dirinya walau hujan datang mengguyur. Eh, yang lain pada kemana?

Pada 411 beliau dituding tak bersedia menemui rakyat di istana. Dalam hal ini, beliau pun tak mau berkelit dengan mengatakan bahwa siapa saja Presiden yang sudah pernah menemui aksi demo langsung di istana. Tetapi, Presiden mana sudah yang hadir ditengah-tengah aksi damai 212yang diperkirakan lebih besar dari aksi 411? Dalam pidato terakhir, ucapan terimakasih tak pernah lupa. Hebat, tertib dan benar-benar super damai.

Apa yang perlu ditakutkan dengan doa bersama, mungkin kira-kira begitu dalam pikiran beliau. 

Yang takut mungkin hanya pihak yang memantau dari jauh dari dalam rumah kaca tebal. Bisa samar lagi mereka melihat yang sebenarnya,ntar lain lagi komentarnya. Capek deh! 

Lantas bagaimana pula dengan pihak yang sibuk bersuara tanpa raga menawarkan "kebaikan" itu? Apa sudah puas dengan balasan; “sudah dicatat” Kog setiap mau adegan selalu tepat jadwal dengan prolognya? Kog tidak ikut doa bersama di monas untuk kebaikan bersama? Kira-kira begitu pertanyaan orang banyak. Hehehe.

Pak Jokowi memang lambat berkata-kata, dan takperlu buru-buru menjawab pertanyaan atas isu makar yang berkembang. Mungkin saja beliau sudah menentukan jadwal jawabannya tanpa harus ada prologmacam-macam itu. Jelas di 212 sudah ada 10 orang dijemput di waktu sejuk dansubuh oleh Polri. Terserah saja, siapa saja yang merasa sejuk atau tidak.

Langkah kuda apa lagi sih yang mau dijalankan Pak Jokowi ini? Dengan lambat beliau mungkin mau memberi kata demikian, "Its me".

Satu-satu urat syaraf politik yang tegang semakin kendor dipijit oleh kaki kuda. Enak toh!. Sakit tau!

Bagi pihak lawan situasi 411-212 adalah "cekam"bagi Pak Jokowi. Tetapi beliau santai saja seperti air mengalir menyambangi petinggi-petinggi partai dan ormas. Seraya terus nyebur di tengah-tengah gelombang masyarakat di monas, senjata perang yang beliau selipkan di pinggangnya hanya keserhanaan, keseriusan, kesabaran, ketegasan dan guyonan penuh makna. Lagi-lagi aksi super damai. 

Kita tunggu sampai episode nanti malam, beliau ada statement apa ya kira-kira? Beliau pake jaket apa ya? Kita berharap beliau menutup doa bersama ini dengan hati yang sejuk bagi kita semua. Tetap semangat Presiden kami!!

Darwin Raja Unggul

/darwinrajaunggul

Menggapai Hari-Hari, Merebut Hati
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana

Featured Article