Darma BC
Darma BC

Penulis "Satu Buku Sebelum Mati"

Selanjutnya

Tutup

Kotak Suara highlight

Karangan Bunga untuk Ahok, Wujud Adat Ketimuran Bangsa

30 April 2017   20:31 Diperbarui: 30 April 2017   21:20 690 7 4
Karangan Bunga untuk Ahok, Wujud Adat Ketimuran Bangsa
Sejumlah karangan bunga yang dikirimkan buat Ahok sebagai ucapan terima kasih (rmol.co)

Banyaknya karangan buanga untuk Basuki Tjahaya Purnama atau yang dikenal Ahok sampai memenuhi semua halaman balai kota sudah sewajarnya mendapat apresiasi positif dari seluruh masyarakat, terkhusus masyarakat DKI Jakarta. Pemandangan yang tidak biasa ini membuat Ahok merasa terkejut, sekaligus terhibur atas kekalahannya bertarung untuk merebut kembali posisi Gubernur DKI Jakarta.

Berbagai kata-kata yang memihak tertulis disederetan papan bunga yang susah untuk menghitung jumlahnya. Ucapan bertuliskan terima kasih seakan menyiratkan Ahok pernah berarti bagi mereka. Ucapan-ucapan ini pula menyiratkan bahwa Ahok tidaklah sendiri dan terbiarkan setelah kekalahannya jelas tergambar.

Ahok sebagai penerus Jokowi, dengan segala kekurangannya sebagai Gubernur yang memimpin DKI Jakarta, telah banyak menanam nilai nilai kebaikan. Kerja keras, kesungguhan, tidak pandang bulu, berani, dan bersemangat adalah sebagian nilai-nilai yang dibangkitkan Ahok pada masyarakat Jakarta. Kota Jakarta yang selama ini belum bergetar permbangungunannya serasa bangkit lagi di era Ahok.

Pandangan Ahok yang baku, taat aturan, seakan kaku dan tanpa kompromi telah menyajikan kepemimpinan yang keras. Keras dalam mengambil kebijakan, berkata-kata, dan berbuat seakan di luar kebiasaan membuat disegani kawan dan ditakuti lawan. Perbuatan yang dipandang kontroversial pun terlaksana dibalik cercaan yang ada. Kesemua ini yang akhirnya membuat wajah baru kota Jakarta.

Perbuatan masyarakat yang memberikan karangan bunga pada Ahok merupakan apresisi keberpihakan terhadap sikap dan kebijakannya yang positif selama ini. Hal ini merupakan sebuah kewajaran selaku berbangsa yang berbudi. Perbuatan tahu akan berterima kasih yang dilakukan oleh masyarakat Jakarta merupakan wujut “Adat Ketimuran Bangsa”. 

Bangsa Indonesia yang terkenal akan adap dan sopan santunnya sebagai wujud Adat Ketimuran. Sikap tahu akan berterima kasih ini sesungguhnya perwujudan adap dan sopan santun itu. Dari dahulu kala orang tua kita mengajarkan secara turun menurun untuk tidak lupa mengucapkan terima kasih pada orang yang telah berbuat baik, walau sekecil apa kebaikannya itu ajaran yang tidak boleh kita lupakan. Dan hal inilah yang ditunjukkan sebagian masyarakat Jakarta  yang merasakan kebaikannya, dan hal ini patut pula kita apresiasi.

Di balik perbuatan masyarakat itu juga, banyak pandangan lain dari sekelompok masyarakat. Mereka menyampaikan bahwa para pendukung Ahok,  belum bisa move ondari kekalahan. Ada lagi yang menyebut perbuatan ini merupakan sebuah setingan untuk menaikkan reputasi Ahok, seiring issue calon menteri yang beredar. Bahkan, ada pula yang menganggap sebagai bentuk perlawanan terhadap kekalahan Ahok. 

Untuk hal ini pun baik yang mendukung maupun yang berlawanan banyak pula melakukan perang status di media sosial . Seakan perang belum usai. Bahkan seakan kedua kubu masih terus terpisahkan, padahal Ahok maupun Anies sudah cukup bersahabat.

Sebenarnya  jika semua masyarakat Jakarta memandang dari kaca mata positif apa yang dipertontonkan pendukung Ahok, maka hal negatif itupun takkan terjadi. Terpulang dari niat pemberian karang bunga itu,  sesungguhnya masyarakat Jakarta telah menunjukkan sikap pelaksanaan “Adat Ketimuran”.  Tahu akan berterima kasih pada yang telah berbuat kebaikan walaupun hanya sebiji Zahra dapat berbentuk pemberian karangan bunga, atau lainnya. Dan hal ini sudah sepatutnya mendapat appresiasi dari seluruh masyarakat Indonesia, sebagai bangsa yang yang beradab dan beradat ketimuran.