PILIHAN HEADLINE

Rumput Laut, Bumdes, dan Kolaborasi Apik di Tepian Yamdena

20 Maret 2017 07:14:46 Diperbarui: 20 Maret 2017 12:22:41 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Rumput Laut, Bumdes, dan Kolaborasi Apik di Tepian Yamdena
Dirjen Suprayoga Hadi saat panen perdana di Lermatang (foto: Kamaruddin Azis)

Sabtu, 11 Maret 2017. Matahari vertikal di atas Pulau Yamdena. Tujuh perahu bergerak ke laut dipandu pria-pria berkaos biru muda. Mesin perahu berdentum di Pantai Lermatang, khalayak berbagi senyum. Tak lama, Suprayoga Hadi, Dirjen Pengembangan Daerah Tertentu (PDTU), Kementerian Desa PDTT menarik bentangan rumput laut kecokelatan dan mengangkatnya. Senyumnya mengembang. Sekda Maluku Tenggara Barat (MTB) Piterson Rangkoratat turut memegang tali diikuti Syaifuddin dari SKK Migas, Puri Minari dari Inpex Masela Ltd, Komandan Lanal Saumlaki, Wirawan serta Kades Jantje Rangkoly. 

Di perahu lain, Yongky Souissa, Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa dan Kelurahan (BPMDK) serta Camat Tanimbar Selatan tak tinggal diam, mereka ikut mengangkat rumputlaut. Di pantai dan di dermaga, seratusan warga menjadi saksi prosesi panen perdana hasil budidaya anggota Kelompok Wermas dan Rumyaar. Menjadi saksi peresmian Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) bernama Ngurmase.Dirjen PDTT mendapuk Kades Jantje Rangkoly untuk menggunting pita peresmian.Bumdes yang disebut sebagai yang pertama di MTB.

Fasilitasi bersama

“Ada 66 orang anggota akan memperoleh tidak kurang 5 ton rumput laut basah. Hasil panen ini dapat jadi target pengelolaan Bumdes ke depan.” kata Abdi Suhufan dari DFW Indonesia, organisasi fasilitator pendampingan. Menurut Abdi, budidaya ini tergolong istimewa, selain mendatangkan bibit dari Maluku Tenggara, panen kali ini menjadi penting sebab harga rumput laut di MTB mulai membaik, dari harga 5 ribuan naik ke harga 7-8ribu perkilo.

Sambutan ibu-ibu (foto: Kamaruddin Azis)
Sambutan ibu-ibu (foto: Kamaruddin Azis)

“Momentum ini merupakan bukti kekuatan kerjasama para pihak di MTB,  fasilitasi kami tidakakan sukses tanpa dukungan Dinas Kelautan dan Perikanan. Kelompok dikaji oleh Dinas dan diberi pengakuan sebagai kelompok pemula, demikian pula Bumdes Ngurmase yang diasistensi BPMDK MTB,” papar Abdi. Menurutnya, peresmian dan panen tersebut adalah muara fasilitasi atas sokongan sumber daya Inpex Masela Ltd. Tim DFW intens membangun komunikasi Pemkab MTB, di antaranya Dinas Kelautan dan Perikanan, BPMDK, Pemdes, dan unsur Kecamatan hingga Lanal Saumlaki. 

Program Seaweed Cultivation adalah bagian skema Social Investment Inpex Masela Ltd sejak Juni 2016. DFW hadir melanjutkan program sebelumnya, selain mendukung budidaya rumput laut, Inpex juga memberi dukungan untuk bidang pendidikan, pertanian, hingga promosi khazanah kebudayaan MTB.  “Fasilitasi berlangsung sejak Juni 2016. Butuh waktu adaptasi dan persiapan sosial yang intens terutama membaca potensi sumber daya alam dan peta-peta sosial sebelum bicara teknis budidaya dan penyiapan Bumdes,” ungkap Abdi. 

 “Tahun 2016, kami menggandeng DFW, sebagai partner kami di lapangan untuk melaksanakan program pelatihan dan budidaya rumput laut,di Kabupaten MTB khususnya di Desa Lermatang dan Latdalam,” kata Puri Minari dari PT Inpex Masela Ltd saat memberi sambutan. Puri menambahkan, untuk terciptanya sinergi dengan Instansi Pemerintah, kegiatan ini juga dilakukan bersama-sama, bersinergi dengan Pemda MTB, melalui keterlibatan SKPD terkait, Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Kementerian Desa Tertinggal.

Sementara itu, Syaifuddin dari SKK Migas menyatakan bahwa perusahaan minyak terutama yang beroperasi di lepas pantai atau pesisir harus turut membantu melakukan program social investment yang dikerjasamakan dengan DKP. mensinergikan dengan Pemda, sehingga program pilot ini bisa dilaksanakan di seluruh Indonesia. 

“Harapan kami, semoga kegiatan social investment bisa memberikan manfaat bagi masyarakat terutama di MTB dan Lermatang,” harapnya.  Apa yang disampaikan Syaifuddin ini adalah isyarat tentang perlunya memberikan ruang bagi masyarakat Maluku Tenggara Barat untuk menjadi bagian atau penerima manfaat ke depan dalam proses operasi Blok Gas Abadi yang letaknya di antara wilayah MTB dan Australia serta akan dikelola oleh PT. Inpex Masela. 

Senada dengan itu, dalam sambutannya, Dirjen PDTU menyebut bahwa khusus untuk daerah-daerah perbatasan, peranan Kemendesa sangat penting untuk mendorong potensi pembangunan di daerah-daerah kecil, pesisir dan terluar, termasuk Maluku Tenggara Barat.

“Kita selama ini memang berorientasi ke pedalaman, melupakan pesisir dan pantai. Kehadiran kami (di Lermatang) mewakili Kementerian untuk menunjukkan atensi ke Pulau Pulau Kecil Terluar juga sangat tinggi,” kata Suprayoga yang mengaku terkesan sebab disambut tiga lapis prosesi adat khas Tanimbar, ada penerimaan dan sumpah adat oleh tetua desa, tarian serta nyanyian kelompok perempuan.

“Masyarakat di sini benar-benar mensyukuri apa yang sudah dilakukan oleh Inpex, yang selama ini memberikan pendanaan secara khusus meski produksi belum dilakukan,” puji Suprayoga. 

Sambutan tetua ada di Lermatang (foto: Kamaruddin Azis)
Sambutan tetua ada di Lermatang (foto: Kamaruddin Azis)

“Kalau lihat penyambutan tadi, selama 26 tahun jadi PNS, baru sekali ini disambut hingga tiga tahapan, ini sangat mewah,” tambahnya. Suprayoga mengapresiasi dukungan Pemda MTB. “Bagaimana pun Pemda akan menjadi semacam pengawas, pengendali atau pengawal, agar program tidak selesai sampai di situ, yang penting adalah keberlanjutan. Ini yang harus kita sepakati,” katanya.

“Saya rasa ini merupakan satu hal yang akan menjadi milestones, momentum dan perlu dicatat di sejarah, jika memang ini yang pertama di MTB. Bumdes ini menjadi kunci kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan masyarakat desa, ada penguatan kelembagaan, bagaimana aparatur diperkuat, pemberdayaan melalui pelatihan, nelayan yang diberikan bibit, pelatihan,produksi,” terangnya. 

Dia berpesan bahwa kalau memang Bumdes Lermatang yang pertama di MTB, maka nanti seluruh desa akan belajar ke sini, Bumdes Lermatang akan jadi contoh.  “Jadi siapa pun yang akan mengelola Bumdes, harus benar-benar profesional dan mempunyai kewirausahaan, bagaimana mengembangkanbisnis. Bumdes bukan semacam toko, semacam pasar kecil, tetapi Bumdes harusmengembangkan usaha potensial di Lermatang ini. Salah satunya rumput laut,”katanya.  Dia juga mengaku sangat antusias sebab apa yang dilakukan di Lermatang sangat relevan dengan program unggulan Kementeriannya yaitu, aquaculture estate. “MTB menjadi salah satu dari tiga kabupaten, ada 67 kabupaten yang punya pulau kecil terluar dan kita pilih MTB,” katanya disambut tepuk tangan.

Menurut Dirjen, investasi Pemerintah di MTB telah mencapai ratusan miliar sejak tahun 2011 namun demikian dia berharap agar ke depan dapat dikelola secara berkelanjutan. “Seluruh aset yang dikelola oleh masyarakat desa, itu harus benar-benar dikelola dengan baik, peran Bumdes menjadi lembaga pengelola aset yang sudah diberikan oleh masyarakat desa, seperti PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya), air bersih yang selama ini terlantar dan rusak,” katanya. 

Tentang Bumdes, dia mengapresiasi Pemdes Lermatang. “Bukan saya yang harus meresmikan tetapi Kepala Desa Lermatang, Kami hanya tamu, Bumdes adalah milik desa,” kata Suprayoga. Sekda MTB Piterson Rangkoratat juga mengapresiasi Inpex dan DFW serta pemerintah Desa Lermatang yang telah berupaya upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa melalui pendampingan budidaya rumput laut dan fasilitasi pembentukan Bumdes. 

Di pikiran Piterson, apa yang dilakukan tersebut sejalan dengan kebijakan pembangunan daerah sebagaimana diketahui MTB memiliki luas wilayah perairan hingga 42.892,28 km2 atau 80,94% dari luar wilayah administrasinya. Disebutkan bahwa salah satu potensi tersebut adalah rumput laut yang pada tahun 2015 mencapai produksi sebesa r85.717,95 ton atau produksi kering, 10.714,75 ton. Produksi dan nilai penjualan sejak dua tahun terakhir terusik karena serang penyakit ice-ice, harga jatuh dari 11 ribu ke 5.5ribu.

Sekaitan dengan implementasi UU Desa No. 6/2014, Sekda menyampaikan kabar bahwa untuk tahun 2017, Pemkab MTB telah memenuhi kewajiban mengalokasikan dana transfer ke desa dari dana alokasi umum (DAU) dan bagi hasil sebanyak 10% atau setara 58 miliar. Dana transfer alokasi dana desa sebesar 124 miliar dan setelah dibagi berdasarkan formula setiap desa memperoleh anggaran sebesar 1,3 hingga 2 miliar perdesa, termasuk Lermatang.

Kades Jantje Rangkoly menggunting pita peresmian Bumdes (foto: Kamaruddin Azis)
Kades Jantje Rangkoly menggunting pita peresmian Bumdes (foto: Kamaruddin Azis)

Tantangan ke depan

“Potensi kawasan budidaya rumput laut yang amat besar serta kebutuhan pasar internasional yang tinggi merupakan alasan mengapa DFW berminat jadi bagian dari programpengembangan budidaya rumput laut di Kepulauan Tanimbar atau sekitar Pulau Yamdena, MTB ini,” tambah Abdi kala ditemui di Kampung Lermatang Lama, sehari sebelum kedatangan sang Dirjen. 

DFW adalah organisasi yang giat memfasilitasi masyarakat pesisir dan pulau-pulau selama lebih sepuluh tahun seperti di Kepulauan Anambas dengan produsen minyak Conoco Phillips, dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk program pendampingan di Pulau-Pulau Kecil Terluar sejak tahun 2014 hingga donor seperti Japan International Cooperation Agency (JICA) di Kepulauan Tanakeke Sulawesi Selatan. Berbekal pengalaman itu pulalah mereka masuk ke Maluku Tenggara Barat. 

“Sebelumnya, kami juga memperkuat dan mengkordinasi fasilitator untuk pulau-pulau di MTB seperti Larat dan Selaru, Dua wilayah ini sangat strategis dan punya potensi di rumput laut yang sangat besar,” tambah Abdi. 

“Pendampingan di Lermatang, termasuk Desa Latdalam masih sebagian kecil dari beberapa agenda seperti yang disebutkan Pak Dirjen (Suprayoga), sebagai misal, Bumdes ini masih perlu diperkuat kapasitasnya dalam dimensi yang luas,” ucapnya. Abdi menambahkan, harapan DFW, sebagaimana harapan Dirjen, Bumdes Ngurmase dapat menjadi model kolaboratif. Baik dalam fasilitasi maupun dalam pengembangan ke depan. 

Bagi Abdi, tantangan ke depan adalah terus menerus menggairahkan semangat pendampingan pada kelompok pembudidaya rumput laut seperti Rumyaar dan Wermas di Lermatang,termasuk Latdalam di barat, meningkatkan kapasitas manajerial pengelola Bumdes serta mencari alternatif-alternatif kerjasama lintas sektor agar kebutuhan sarana prasarana usaha budidaya seperti alat transportasi, sarana prasarana pengolah rumput laut hingga layanan pemasaran.

Anggota kelompok dan rumput lautnya (foto: Kamaruddin Azis)
Anggota kelompok dan rumput lautnya (foto: Kamaruddin Azis)

***

Siang itu. kegembiraan masyarakat seperti tak berhenti, pada acara berikutnya. Dirjen Suprayoga Hadi dan undangan terutama dari Jakarta berdecak kagum pada jamuan kuliner khas Tanimbar, kasbi (atau ubi jalar) berbalut daun kelapa serta ikan karang yang telah matang melalui tradisi bakar batu.

Jelang petang, rinai hujan perlahan jatuh ke tepian Lermatang, satu persatu warga kembali ke rumah, sebagian anggota kelompok meletakkan rumput laut hasil panen ke atas para-para, sebagian lainnya menikmati musik di bawah tenda pertemuan.Di dermaga Lermatang Lama, kami duduk sejejer di atas tanggul dermaga. ada fasilitator pendampingan Desa Lermatang La Ode Hardiani, Kades Lermatang J.Rangkoly, Muhammad Abdi dari DFW, Donny Rijaluddin dan Inpex Masela serta penulis. Kami mendiskusikan betapa pentingnya penguatan kapasitas masyarakat dan kerjasama multi pihak ke depannya.

“Pak Diani jangan pulang dulu, Bumdes Ngurmase masih perlu pendampingan. Masih perlu pengembangan,” pinta J. Rangkoly sembari melirik ke Muhammad Abdi disaksikan Donny Rijaluddin, serta penulis. 

Kami berbagi senyum. Hari semakin tua, diiringi rinai, kami kembali ke Kota Saumlaki dengan sukacita, bukan semata peresmian Bumdes dan panen berjalan sukses tetapi kesediaan kami menerima 4 botol sopi dari tokoh nelayan Lermatang Lama, Adolf Batlayeri, sopi, minuman khas Yamdenatanda persahabatan.

Makassar,19 Maret 2017

Kamaruddin Azis

/daengnuntung

TERVERIFIKASI

Lahirdi pesisir Galesong, Kab. Takalar, Sulsel. Blogger. Menyukai perjalanan ke wilayah pesisir dan pulau-pulau. Pernah kerja di Selayar, Luwu, Aceh, Nias. Mengisi blog pribadinya http://www.denun.net Dapat dihubungi di email, daeng.nuntung@gmail.com.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
LABEL regional

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana