Merekat Kebhinekaan

19 Mei 2017 22:05:24 Diperbarui: 19 Mei 2017 22:11:32 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :

Dari sabang sampai Merauke

Berjajar pulau-pulau

Sambung menyambung menjadi Satu

Itulah Indonesia

Bait-bait lagu tersebut berasal dari lagu Wajib berjudul Dari Sabang Sampai Merauke karangan R. Suharjo. Lagu tersebut mengajak kita untuk merenung kembali betapa Indonesia merupakan Negara besar yang memiliki wilayah sangat luas dan terdiri dari bermacam-macam perbedaan suku, ras, agama, dan pulau-pulau yang sangat indah. Indonesia merupakan rumah kita bersama, tempat bernaung segala perbedaan berpadu menjadi warna yang sangat indah.

Ir. Soekarno bapak proklamator Indonesia, pernah mengatakan bahwa Negara Republik Indonesia ini bukan milik suatu golongan, bukan milik suatu agama, bukan milik suatu suku, bukan milik suatu golongan adat-istiadat, tetapi milik kita semua dari Sabang sampai Merauke. Bangsa adalah satu jiwa (une nation est un âme). Satu bangsa adalah satu solidaritas yang besar (une nation est un grand solidarité).

Penting untuk diingat, dalam perjalanan “melahirkan” Indonesia sampai bertahan hingga saat ini bukanlah sebuah perjalanan dengan waktu yang singkat, namun memerlukan proses yang begitu panjang untuk bisa memadupadankan sekaligus menyatukan berbagai warna perbedaan menjadi sebuah persatuan. Hal ini pun tidak terlepas dari kedewasaan berpikir serta semangat persatuan, kesatuan, dan kesadaran yang dimiliki oleh para pemuda untuk sama-sama memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia yang sebelumnya tidak pernah muncul selama masa penjajahan.

Jika melihat realitas secara historis-empiris yang terjadi dilapangan, lahirnya organisasi Boedi Outomo pada tahun 1908 menjadi cikal bakal lahirnya gerakan yang bertujuan untuk mencapai kemerdekaan bangsa. Semangat persatuan, kesatuan, dan kesadaran yang dimiliki oleh kaum pemuda saat itu telah mampu untuk sama-sama memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia yang sebelumnya tidak pernah muncul selama masa penjajahan.

Sekat dalam Keberagaman

Belakangan ini kita semakin riuh diberi tontonan berbagai fakta yang bisa menjadi pemicu retaknya tenun kebangsaan. Salah satu penyebabnya adalah berita hoax yang menjadi viral di media sosial merupakan fakta nyata yang bisa mengancam ikatan persaudaraan kita sebagai bangsa besar yang dibangun atas latar belakang perbedaan.

Thomas Lickona seorang profesor pendidikan Karakter dari Cortland University mengungkapkan bahwa “ada sepuluh tanda-tanda jaman yang harus diwaspadai karena jika tanda-tanda ini sudah ada, maka itu berarti bahwa sebuah bangsa sedang menuju jurang kehancuran”. 1). Meningkatnya kekerasan remaja, 2). Penggunaan bahasa dan kata-kata yang buruk, 3). Meningkatnya perilaku merusak diri (narkotika, miras, seks bebas dll), 4). Semakin kaburnya pedoman moral, 5). Menurunnya etos kerja, 6). Rendahnya rasa tanggungjawab individu/bagian dari bangsa, 7). Rendahnya rasa hormat pada orang tua/guru, 8). Membudayanya ketidakjujuran, 9). Pengaruh kesetiaan kelompok remaja yang kuat dalam kekerasan, 10). Meningkatnya rasa curiga dan kebencian terhadap sesama (Ganiem, 2013).

Ciri-ciri kehancuran sebuah bangsa yang disampaikan oleh Thomas Licona ini nampaknya sudah nyata menjangkit sendi-sendi kehidupan bangsa kita Indonesia. Dimana membudayakan ketidakjujuran sudah seperti hal yang biasa terjadi, kekerasan remaja sudah seperti hal biasa di negeri ini. Tidak ketinggalan golongan tua pun, banyak melahirkan kelompok-kelompok radikal yang lebih mementingkan golongannya sendiri. Kelompok-kelompok ini suka menebarkan isu-isu kebencian terhadap golongan lain.

Masyarakat sudah semakin permisif, masing-masing mementingkan diri sendiri dengan tidak memperdulikan lingkungan disekitarnya. Sikap individualis sudah menjadi panutan di negeri ini. Akibatnya, solidaritas gerakan masyarakat semakin mencair ke dalam ke-akuan masing-masing. Agamaku, organisasiku, idiologiku, dan keaku-akuan yang lain sehingga memperlebar pendikotomian dari sebuah golongan. Negeri yang notabene mayoritas muslim ini, telah mengalami penggerusan identitas. Nilai-nilai luhur bangsa dan agama telah dikesampingkan diganti dengan kepentingan-kepentingan jangka pendek yang dapat mengancam persatuan yang telah lama dibangun serta dirawat oleh para Founding Fathers terdahulu.

Kasus-kasus yang mengarah ke separatisme baik atas nama agama, suku, serta pelbagai kepentingan yang saat ini muncul ke permukaan menjadi penanda retaknya persaudaraan kita. Belum lagi serangkaian fanatisme buta keberagamaan yang senantiasa menghantui kehidupan kita. Ketika muncul riak-riak gerakan merusak tenun kebangsaan kita, baik dengan motif agama, suku, daerah ataupun motif yang lainnya, kita seperti menyaksikan tangis bumi pertiwi Indonesia Raya yang dibangun dari peluh dan darah para pahlawan.

Meneguhkan Kembali Semangat Persatuan

 Kita sadar betul, dalam satu dunia kita berbeda bangsa dan negara. Dalam satu bangsa dan negara kita berbeda suku dan bahasa. Dalam satu suka dan bahasa kita berbeda keyakinan dan agama. Dalam satu keyakinan dan agama kita berbeda paham dan aliran. Dalam satu paham dan aliran kita berbeda pemahaman. Dalam satu pemahaman kita berbeda pengamalan. Dalam satu pengamalan kita berbeda penghayatan. Dalam satu penghayatan kita berbeda keikhlasaan. Dalam satu keikhlasan inilah kita seharusnya bersatu dalam pengabdian.

Artinya, hal mendasar yang harus kita bangun dalam diri adalah keikhlasan menerima pelbagai keberagaman yang ada di hadapan kita sebagai bangsa. Keikhlasan ini bakal tumbuh dalam diri kita, apabila kita bisa memahami dengan baik nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi jangkar terwujudnya persaudaraan kita sebagai bangsa yang besar.

Membangun Indonesia memang bukan hal yang mudah, keberagaman yang begitu banyak akan menjadi ancaman bila tak bisa dikelola dengan baik. Sebaliknya, jika kita bisa memaknai keberagaman ini, akan menjadi anugerah yang sangat besar bagi kita sebagai sebuah bangsa terhadap kemajuan.

Founding fathers kita telah membuktikan keberhasilannya merekatkan persaudaraan sebangsa-senegara melalui semboyan Bhinneka Tunggal Ika, falsafah Pancasila, dan konstitusi UUD 1945. Akar kebangsaan kita yang dimulai dari hadirnya Sarekat Islam 1905, Budi Utomo 1908, Sumpah Pemuda 1928, hingga Proklamasi Kemerdekaan 1945 adalah sejarah panjang perjuangan founding fathers  dalam menegakkan kedaulatan kita sebagai bangsa yang besar.

Meneguhkan kembali semangat persatuan dalam momentum kebangkitan nasional ini sangat penting untuk kita semua sebagai warga Negara. Hal ini bisa kita jadikan sebagai ajang refleksi diri untuk kembali meingkatkan wawasan kebangsaan dan kesadaran nasional. Cita-cita persatuan menjadi hal fundamentalyang harus kita pegang ditengah maraknya ideologi transnasional yang anti pancasila yang terus menggerogoti sendi NKRI.

Tanpa perbedaan itu bukan Indonesia. Kita hanya perlu ikhlas untuk mengabdi bahwa kita memang dilahirkan berbeda. Dari perbedaan ini kita bisa menyaksikan hadirnya Indonesia Raya yang warna-warni, sebagai simbol keagungan dan kekayaan Tuhan. Kita saudara yang terlahir dari Rahim yang sama, yaitu Rahim Ibu Pertiwi..

DADAN RIZWAN FAUZI

/dadanrizwan

Mahasiswa PKN UPI PENGALAMAN ORGANISASI 20014– 2015 : Kabiro Olahraga Himpunan Mahasiswa Civics Hukum (HMCH) FPIPS UPI 2014– 2015 : Divisi Kealaman Mahasiswa Pecinta Alam Civics Hukum ( MAPACH) FPIPS UPI 2015-2016 : Ketua Umum BEM Himpunan Mahasiswa Civics Hukum (HMCH) FPIPS UPI 2015-2016 : Senator Senat Mahasiswa Fpips UPI 2016-2017 : Ketua UKM LKKII UPI
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana