PILIHAN HEADLINE

Dongeng, Mengapa Si Sulung Selalu Digambarkan Antagonis?

18 Juni 2017 10:10:30 Diperbarui: 18 Juni 2017 15:26:51 Dibaca : 454 Komentar : 5 Nilai : 7 Durasi Baca :
Dongeng, Mengapa Si Sulung Selalu Digambarkan Antagonis?
Ilustrasi. | Dokumentasi dongenganakindonesia.blogspot.com

Sejak anak memasuki usia Taman Kanak-kanak (TK), saya secara rutin mulai mengenalkan dongeng-dongeng Nusantara. Agar cerita yang disampaikan semakin maksimal, secara khusus saya bahkan mulai membiasakan anak memilih dan membeli buku cerita di toku buku (setidaknya satu kali dalam satu bulan).

Mengenalkan beragam dongeng khas Indonesia lumayan seru. Apalagi terkadang ada pertanyaan lanjutan dari anak terkait dongeng tersebut, misalkan di mana letak Gunung Bromo, saat saya menceritakan asal usul gunung yang berada di Jawa Timur tersebut. Atau anak bertanya di mana letak Tangkuban Perahu saat saya menceritakan dongeng Sangkuriang.

Sehingga tanpa sadar, anak mulai belajar geografi saat saya satu persatu menunjuk lokasi --melalui peta-- dari dongeng-dongeng itu. Selain itu juga anak mulai belajar mengenali karakteristik suatu provinsi. Jawa Barat misalkan, memiliki objek wisata Tangkuban Perahu, sementara Sumatera Utara memiliki objek wisata Danau Toba.

Namun setelah membacakan beragam dongeng, ada beberapa dongeng yang sedikit mengganjal. Sebenarnya bukan cerita dongengnya yang kurang baik, tetapi karena akumulasi dari cerita beberapa dongeng Indonesia yang sedikit mengganggu, karena menyudutkan Sang Kakak. Entah apa alasanya, tetapi ada banyak dongeng Nusantara yang menempatkan anak pertama/kedua/ketiga, tetapi berstatus kakak, sebagai tokoh antagonis. Sebaliknya, menempatkan si bungsu sebagai sosok protagonis.

Sebut saja Lutung Kasarung. Dongeng dari Jawa Barat tersebut menempatkan sosok Purbasari si bungsu sebagai tokoh yang sangat baik, sementara Purbararang sang kakak diceritakan sebagai tokoh yang sangat jahat. Ia melakukan beragam kejahatan pada sang adik untuk menguasai tahta warisan dari sang ayah.

Begitu pula dengan Legenda Ular N'Daung, dongeng dari Bengkulu. Sang kakak pertama dan kedua diceritakan sebagai sosok yang kurang terpuji karena enggan mengambil bara api dari gunung untuk kesembuhan ibunda, sementara si adik bungsu diceritakan sebagai sosok yang sangat mengabdi karena bersedia mengorbankan diri mencari obat untuk kesembuhan sang ibu.

Ada juga cerita Ande Ande Lumut yang menceritakan ketiga orang kakanya sebagai sosok yang kurang baik, sementara si bungsu diceritakan sebagai sosok seperti malaikat. Begitupula dengan cerita Keong Mas. Sang kakak Dewi Galuh diceritakan sebagai tokoh jahat, sementara sang adik Candra Kirana digambarkan sebagai sosok yang sangat baik.

Harus Dijelaskan ke Anak dengan Bijak
Sejak kecil saya sebenarnya pecinta dongeng, bahkan bila ada ending dongeng yang kurang sesuai keinginan saya suka mengubah ceritanya. Dulu ada beberapa teman kecil saya yang rutin berkumpul untuk menceritakan dongeng yang sudah kami ubah akhir ceritanya sesuai dengan keinginan masing-masing.

Namun saat itu kami tidak pernah terpikir mengapa banyak dongeng-dongeng Indonesia yang menyudutkan tokoh kakak. Kami memang paham, bawang putih si adik (tiri) itu sosok yang baik, sementara si bawang merah --sang kakak (tiri) itu, sangat jahat. Namun kami tidak pernah terpikir mengapa harus si kakak yang jahat, mengapa tidak si adik saja yang berhati culas?

Saya baru tersadar begitu banyak cerita Indonesia yang menyudutkan tokoh kakak saat membacakan cerita Legenda Ular N'Daung ke anak saya --yang hingga saat ini masih berstatus sebagai anak semata wayang. Saat itu ia bertanya, "Ibu kenapa kakak sulung dan kakak keduanya jahat, kenapa si bungsu sangat baik." Belum sempat saya menjawab, ia kemudian bertanya kembali, "Ibu, kalau Qisti anak sulung apa anak bungsu? Terus kalau Ibu dan Ayah, anak pertama apa anak terakhir?"

Bum! Saya sempat bingung menjelaskan, karena suami dan saya merupakan anak sulung, walaupun saya sendiri tidak punya adik aka anak tunggal, tetapi tetap saja kan saya berstatus sebagai anak pertama. Secara tersirat anak saya sempat bertanya, apakah memang semua anak sulung itu sudah pasti jahat.

Secara perlahan akhirnya saya menjelaskan bahwa tidak semua anak sulung itu jahat, sebaliknya tidak semua anak bungsu juga berhati malaikat. Watak dan kepribadian tergantung dari diri masing-masing, tidak dipengaruhi oleh urutan lahir. Saya bilang dongeng itu hanya cerita, contoh agar kita tidak berbuat seperti itu.

Mungkin banyak dongeng menceritakan si kakak jahat-si adik baik, agar semua kakak tidak berbuat jahat. Penulis ingin semua kakak menyayangi adiknya. Apalagi orang yang lahir lebih dulu --pada usia-usia tertentu-- pasti lebih kuat dan berani dari sang adik. Sang kakak harus menjadi contoh yang baik bagi si adik.

Harus Mulai Perbanyak Dongeng yang Tidak Mencap Urutan Lahir
Mungkin PR juga buat kita semua untuk membuat cerita anak-anak yang tidak mendiskreditkan si sulung ataupun si bungsu. Cerita legenda yang sudah ada biarlah menjadi pembelajaran tersendiri buat anak-anak kita --apalagi itu cerita yang sudah diceritakan sejak dulu kala, sudah turun-temurun. Entah siapa juga yang pertama kali menceritakannya. Yuk, mulai belajar membuat cerita anak edukatif yang tidak memojokan si kakak maupun adik untuk lebih memberi warna cerita-cerita anak Indonesia. Salam Kompasiana! (*)

Cucum Suminar

/cucum-suminar

TERVERIFIKASI

Belajar dari menulis dan membaca. Twitter: @cu2m_suminar
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana