Kangen Masakan Emak dan Suasana Sahur

09 Agustus 2012 20:54:20 Dibaca :

Kangen Masakan Emak dan Suasana Sahur



Kebiasaan yang telah menahun tersimpan kuat dalam memori otak. Ia akan terbuka lebar dan memberikan nuansa romantis tersendiri saat tersentuh oleh irama kehidupan yang sama, meski berbeda. Sama, biasanya berhubungan dengan nuansa dan momennya. Berbeda berkait dengan waktu dan tepat. Tapi siapa bisa menghilangkan kenangan indah masa lalu? karena saat memori tersentuh suasana dan terbuka lebar, tidak ada yang dapat menghalanginya, semua organ tubuh seakan menyambut dan merasainya, sungguh luar biasa. Itulah fenomena kenangan yang tersimpan.

Saya yakin setiap orang memiliki masa-masa yang begitu menyenangkan saat dikenang, meski (mungkin) saat terjadinya ia tidak menikmati apa-apa, bahkan (mungkin) kesal hati, karena sedang tidur nyenyak-nyenyaknya ia harus bangun pagi buta untuk makan bersama. Mata ngantuk tentu membuat diri malas, beranjakpun susah, tapi emak dengan sabar dan penuh cinta membangunkan dengan tangan halusnya.

Kini kurang lebih tiga puluh tahun yang lalu, saat frekuensi irama ramadhan bertemu dengan suasana hati, memori jadul masa lalupun menguak tanpa bisa ditahan. Keinginan merasakan masakan emak plus tersentuhnya tombol rasa yang mengakibatkan kenangan masa lalu terbuka sehingga membuat lidah ini mencari rasa yang pernah ada. Masakan Emak, kangen dengan suasana sahur bersama keluarga besar.

Sebenarnya menu masakannya sih biasa-biasa saja, tidak ada konsumsi daging, spageti atau masakan mewah ala resto disana, yang ada hanya telor dadar, mentimun rebus, tempe goreng, tempe goreng balado, mie rebus, cumi tahu balado, ikan gabus asin goreng, terkadang mewah sedikit pake ayam goreng plus sambelnya, tumis kangkung, sarden, tumis labu dan sambal tauco, cukup sederhana bukan?.enu makanan tersebut tentunya berganti setiap harinya, meski terkadang dihari yang lain tetap sama.

Sederhananya menu makanan memang terkait dengan kondisi ekonomi keluarga saat itu. Apalagi keluarga besar kami yang berjumlah sebelas orang saat itu sebagian besar belum berkeluaga, walaupun ada yang sudah berkeluarga namun masih berdekatan rumahnya sehingga terkadang masih sering bergabung untuk sahur bersama. Dengan uang gaji PNS orang tua golongan II saat itu, alhamdulillah orang tua kami mampu memenuhi kebutuhan makan dan pendidikan kami, meski mungkin masih pinjam sana-sini.

Ada yang memang sudah tersimpan dalam memori ini berkait rasa yang dipadu suasana. Maka ketika datang suasana dengan frekuensi yang sama, kenangan itu kembali menyeruak, rasapun ikut mendampinginya. Ketika itu pula ada rasa rindu, kangen dengan masakan emak dan suasana keluarga besar saat sahur.

Kata temen ane sih, sederhana tapi ajiiiib.

Aa Gun

/ciledugcity

Lahir di pinggiran Jakarta, Ciledug Kota Tangerang yang semakin padat, sejak menikah tinggal di belahan utara Bekasi, Babelan. Pengajar sekolah swasta awalnya di sebuah SMA di Bekasi, sejak 2005 sampai sekarang menjadi pendidik di sebuah sekolah swasta di Jakarta Selatan. Senang menulis sejak aktif di sebuah organisasi pemuda masjid YISC (Youth Islamic Study Club) Al-Azhar Jakarta. Tw:@ciledugcity69 Fb: aagun.gunawan
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?