Wanita

Konsepsi Perempuan Indonesia dalam Refleksi Kritis

14 September 2017   12:24 Diperbarui: 14 September 2017   12:39 373 0 0

Gender merupakan salah satu hal yang sensitif di Indonesia khususnya. Fungsi dan peran wanita pada zaman dahulu yang selalu dikaitkan dengan pekerjaan yang bertugas untuk melayani dan berada dibawah suami, tanggung jawab untuk menjadi seorang ibu "saja" pernah membutakan masyarakat Indonesia. Sejarah pun mencatat seorang wanita bernama Kartini ingin menumpaskan segala sudut pandang itu. Unsur sejarah juga menjadi pengaruh mengenai munculnya perdebatan dengan topik ini. 

Seiring perkembangan zaman, wanita menjadi sederajat dengan laki-laki, permasalah gender pun perlahan-lahan memudar. Munculnya berbagai macam teori perlahan-lahan mematakan permasalahn gender yang ada di Indonesia karena gender justru lebih mengarah pada pencirian karakter dan sifat manusia yang didasarkan pada jenis kelaminnya. 

Menurut Butler (1999: 6). Namun masih terdapat pro dan kontra. Budaya yang menjadi ciri khas Indonesia menimbulkan pro dan kontra, seperti apakah pemahaman akan gender justru senantiasa berubah dan berkembang seirama dengan konsep ras, kelas, etnik, seksualitas, dan modalitas regional identitas diskursif di masyarakat. Oleh sebab itu, menjadi tidak mungkin untuk memisahkan konsep gender dari unsur politis dan budaya yang selalu memproduksi dan memelihara konsep gender itu sendiri (Widyaningrum, D & Digus. 2017).

Pro dan kontra juga datang dari unsur modernitas barat yang memasuki Asia yaitu kontes-kontes kecantikan. Pertanyaan-pertanyaan mengenai apakah Indonesia masih bisa mempertahankan keindonesiaannya dengan mengikuti ajang tersebut? Tentu saja jawabannya juga menimbulkan pro dan kontra. Wanita Indonesia secara nasional dan internasional membanggakan daerahnya dan bahkan negaranya, tapi disisi lain wanita Indonesia telah menceburkan diri kebudaya barat. 

Media dengan strateginya mampu memberikan makna tertentu atas diri seseorang,begitu pula makna atas konsep keindonesiaan dalam berbagai produk liputannya. Dari satu sisi, era informasi cenderung menghilangkan hal-hal yang bersifat lokal, akan tetapi di sisi lain memungkinkan hal-hal yang bersifat lokal itu memasuki wilayah nasional dan global.

Tak sedikit perempuan yang setuju dengan keikutsertaan perempuan Indonesia dalam ajang kecantikan. Mereka mengemukakan bahwa dengan ikut serta dalam kegiatan tersebut, dapat mempromosikan Indonesia secara global dan meletakkan cara pandang yang positif terhadap perempuan di Indonesia. Seperti pada hasil penelitian pada jurnal "perempuan di Indonesia", memandang dan menilai perempuan Indonesia sebagai seorang yang pandai, pekerja keras dan memiliki perawakan yang eksotis. 

Namun dari keikutsertaan dari perempuan Indonesia dalam kontes kecantikan para informan dari jurnal tersebut menyetujui bahwa ada pergeseran karakter dari perempuan Indonesia, Mereka lebih berani, pekerja keras, pandai, dan membanggakan. Menurut kajian kritis, timur seringkali digambarkan dengan ciri atribut sosial dan psikologis yang bersebrangan dengan barat.

Hal ini kemudian dikaitkan dengan keterkaitan perempuan Indonesia dengan "ketimuran" Indonesia. Seperti menteri pendidikan Daoed Joesoef (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan periode 1977-1982) yang menolak dengan terbuka keikutsertaan Indonesia pada ajang kecantikan. Alasannya tentu saja berkaitan dengan pergeseran budaya Indonesia menjadi budaya barat pada ajang kecantikan itu. Budaya timur yang kemudian identik dengan kolektifitas dan nilai-nilai kesopanan akan pakaian menjadikan hal ini polemik, dengan adanya pergeseran budaya tentu saja berpengaruh juga pada nilai-nilai perlaku dan budaya busana perempuan Indonesia. 

Citra masyarakat Indonesia kepada masyarakat barat yang menyatakan bahwa perempuan Indonesia sangat beradap karena menjunjung tinggi budaya nya dianggap hampir punah oleh masyarakat Indonesia. Tapi hal itu tidak menunjukkan fakta yang ada, masyarakat luar sampai saat ini masih memaknai image perempuan Indonesia seperti itu.

Kontes kecantikan ini juga menjadi ajang untuk menunjukkan kesetaraan gender yang ada di Indonesia. Kesetaraan gender yang dimaksud adalah bahwa perempuan Indonesia bisa memiliki tempat yang sama dengan pria baik di segi ekonomi, politik, dan budaya. Hal berkalikan dikemukakan dalam beberapa teori. 

Dalam kajian Schiller dalam Durham and Kellner (2006: hal.295) menyebutkan bahwa pada kisaran tahun 1960an, dunia internasional dibagi dalam 3 kelompok utama yaitu apa yang disebut sebagai First Worldyaitu kelompok negara yang paling berpengaruh di dunia dimana negara-negara dalam kelompok ini mempunyai perusahaan-perusahaan swasta dan produksinya dikendalikan oleh perusahaan kapitalis. Sedangkan, kelompok Second Worlddimana produksi dimiliki oleh negara dan mereka menyebutnya sebagai negara-negara socialist. 

Sedangkan kelompok ketiga yang disebut sebagai Third Worldyang merupakan kelompok negara bekas jajahan negara-negara Eropa. Hal ini diartikan wanita Indonesia belum dapat dikatakan setara karena merupakan negara bekas jajahan orang Eropa.

Dalam penelitian ini juga dikataan bahwa kontes kecantikan adalah sebuah permainan kapitalisme. Pemilihan kontestan kecantikan dengan indikator penilaian "brain, beauty, dan behavior" dianggap hanya sebagai selingan dari persoalan kapitalisme. Walaupun perempuan Indonesia memiliki ketiga indikator tersebut, tapi tetap saja yang akan dilipih untuk menjadi kontestan yang memiliki kemampuan finansial. Kritik terhadap contest kecantikan ini adalah persoalan homogenisasi dan universalitas 'barat' terhadap perempuan. Perempuan cantik yang terstandard dan memenuhi kualifikasi yang telah ditentukan.