HIGHLIGHT

Orang Kaya Kok Hemat, Terlalu!

05 Juni 2012 01:50:49 Dibaca :

Rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya. Itu pepatah lama yang kevalidan penerapannya tetap bisa dipercaya sampai saat ini, meskipun tidak selalu seperti itu. Rajin belajar bisa membuat seseroang menjadi pandai, yang suka menghemat bisa menjadikannya kaya. Kalimat yang kedua itu bisa benar dan tidak. Logikanya memang, ketika kita menghemat maka bisa menyisihkan dana untuk ditabung, tabungan yang menumpuk akan membuat seseorang itu kaya. Benar, tapi tentu lain soal ketika apa yang kita hemat itu tidak terlalu linier dengan apa yang dikatakan menabung agar tertimbun . Karena bisa saja, yang kita harus hemat itu memang persediaannya terbatas atau belum mampu “menggali” sumber-sumber barunya. Hemat uang bisa menabung, tapi hemat “energi” ceritanya masih panjang.


Okay. Lupakan sejenak tentang hemat energi. Sekarang enaknya ngomongin tentang orang kaya. Yang saya maksud kaya di sini ya kaya harta. Dalam arti benar-benar penghasilannya “berlebih”, karena bisa dikatakan tak pusing-pusing lagi dalam mengatur pengeluaran. Atau yang ngetren istilahnya baru-baru ini adalah telah mencapai “kebebasan finansial”, yang tanpa pusing berkarya pun, uang mereka bekerja dan semakin bertambah. Lalu, apa yang sebaiknya kita harapkan dari orang-orang yang menurut Kiyosaki ini telah mencapai “kuadran 4” itu?


Yang sering saya baca tentang profil-profil orang kaya itu, bahwa beberapa bahkan banyak di antara mereka yang cara hidupnya “sederhana”, tidak bermewah-mewah, bahkan cenderung hemat. Wah, banyak yang salut, memuji dan acungkan jempol. Anda juga begitu, mungkin. Tapi saya tidak, bahkan dalam hati ngedumel, TER..LA..LU!


Kenapa terlalu? Ya, karena orang-orang kaya ini seharusnya rajin pula berbelanja, mengunjungi tempat-tempat wisata, makan di restoran-restoran mewah, membeli barang-barang mewah dan lain sebagainya. Sebab dengan itu roda ekonomi berputar bagus, mengangkat entitas-entitas lain untuk tetap hidup dan berkembang, menciptakan orang-orang kaya baru. Jadi mereka sebaiknya bukan hanya mengeluarkan uangnya untuk kembali menjadi uang yang lebih besar layaknya investasi dan sejenisnya. Memang, selama ini tempat mewah, barang mewah dan lain-lainnya mampu mendapatkan pangsanya, namun siapakah yang menjamin penggunanya adalah orang-orang yang benar-benar kelas kaya? Sepertinya tidak, lebih banyak kelas menengah yang ingin berbangga di sana. Kelas yang kondisi berlebihnya mudah berubah ketika terjadi pergeseran/pergolakan situasi, dari menengah menjadi bawah. Demikian juga banyak dihias oleh kelas yang memperoleh kekayaannya secara “semu”, pada masa indahnya hidup bermewah-mewah, dan terperangah ketika terjerat kasus korupsi, karena mereka sebenarnya belumlah kaya sejati.


Tapi, bukankah orang-orang kaya ini juga berperan membuka lapangan kerja? Iya, betul. Tapi itupun bisa pula di samakan dengan transaksi jual beli yang tetap saja mereka lebih banyak mengambil porsi. Bagaimana juga dengan orang kaya filantropis? Yup, itu bagus, di luar tujuan jangka panjang secara ekonomi yang mungkin pula menjadi tujuannya, para orang kaya ini seharusnya lebih gencar membelanjakan uangnya.


Ketika orang-orang kaya ini tetap bertahan dengan prinsip hematnya, roda ekonomi kelas-kelas di bawahnya terancam seret dalam berputar, apalagi kalau sampai pelit. Mereka harus berperan lebih besar dalam mengangkat entitas-entitas lainnya. Lebih gencar, jika perlu lebih boros. Ini bukan asal bicara lho. Nggak sepenuhnya salah kan? Dalam ilmu ekonomi, teori ekonomi itu ada. Istilahnya adalah......, aduuh..maaf, saya lupa!


Salam hemat untuk yang belum kaya.


.


.


C.S.


Hematnya mereka mungkin setara borosnya kita.

Chris Suryo (Paknethole)

/chrisnandar

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Rileks, semua tulisanku anggaplah obrolan sembari minum kopi,..srupuut..

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?