Mohon tunggu...
charles dm
charles dm Mohon Tunggu... Freelancer - charlesemanueldm@gmail.com

Verba volant, scripta manent!

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Setelah Laga Perdana Luis Milla: Belajarlah dari Masa Lalu Timnas U-19

23 Maret 2017   14:09 Diperbarui: 23 Maret 2017   14:24 803
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Luis Milla saat latihan bersama timnas U-22/Kompas.com

Kita tentu sedikit kecewa hasil baik tak berpihak pada Luis Milla Aspas dan anak asuhnya timnas Indonesia U-22. Dalam laga uji coba internasional perdana sebagai pelatih tim muda merangkap tim senior, Selasa (21/3) lalu, Garuda muda takluk di tangan Myanmar, 1-3. Meski bermain di kandang sekalipun tetap tak bisa menutupi fakta bahwa rombongan “Malaikat Putih” datang dengan persiapan yang lebih. Tengok saja pola permainan dan mental bertanding mereka. Mereka lebih siap, menunjukkan bahwa mereka telah bersiap diri lebih lama.

Ya, tim muda Indonesia baru dibentuk beberapa bulan terakhir, tak lama setelah Milla datang dari Spanyol. Bila kita baru diperkenalkan secara intensif dengan permainan cepat dengan operan-operan pendek, Myanmar selangkah lebih dulu mendalami dan telah mempraktikkannya lebih sering. Tak hanya Myanmar, beberapa negara tetangga kita seperti Thailand pun sudah berkarib dengan apa yang disebut sebagai “tiki taka” itu.

Meski mengakui itu, tidak pernah ada kata terlambat untuk berkembang. Toh itu hanya laga uji coba sebagai evaluasi menuju sasaran sesungguhnya yakni SEA Games di Kuala Lumpur, Malaysia beberapa bulan mendatang serta Asian Games di tanah air setahun kemudian.

Masih ada waktu untuk berkembang sejatinya tidak dipandang sebagai penghiburan semata. Tetapi benar-benar sebagai itikad untuk serius berbenah. Ekspektasi kepada Milla boleh saja melambung tinggi, tetapi perlu dibarengi akal sehat bahwa membangun sebuah tim sepak bola tidak sekadar perkara mengumpulkan para pemain, menempatkan mereka pada setiap posisi untuk menggenapi sebuah keseblasan plus pemain cadangan.

Bagaimana tim itu berjalan dan beraksi di lapangan adalah hal esensial yang sepenuhnya diserahkan kepada para pemain, bukan lagi sepenuhnya urusan pelatih. Sehebat apapun Milla dan sementereng apapun kesuksesan masa lalunya, ia tetap pelatih yang hanya bisa berbicara, memotivasi, dan berbagi keterampilan, tetapi saat pertandingan tiba, ia tak ubahnya seperti penonton umumnya. Berdiri di luar lapangan, mengamati, dan sesekali berkoar-koar, lantas memberi evaluasi saat jeda tiba. Tidak lebih dari itu. Pemain itulah yang bertindak sebagai eksekutor.

Karena itu penting untuk tidak hanya mengarahkan perhatian kepada pelatih, tetapi juga kepada para pemain. Apa yang bisa dilakukan seorang pelatih saat laga tiba, apalagi dalam kondisi tertinggal? Ya, seperti di atas tadi.

Meski demikian antara pelatih dan pemain serta para pihak terkait harus dilihat sebagai satu kesatuan. Saling mempengaruhi dan berdampak terjadi di antara mereka. Ada simbiosis di sana. Karena itu bagaimana perlakuan pelatih terhadap pemain, sebaliknya tanggapan pemain terhadap pelatih, penting. Selain itu bagaimana respon dan dukungan dari PSSI, klub dan lingkungan di sekitar itu juga menentukan berhasil tidaknya kerja sama tersebut.

Pada titik ini saya jadi teringat timnas U-19 yang pernah dibentuk dan ditangani Indra Sjafri beberapa tahun lalu. Di antara kedua tim, beberapa pemain jebolan U-19 saat ini menghuni timnas U-22, memiliki persamaan. Keduanya sama-sama sedang di jalan menuju timnas senior. Para pemain muda itu dipersiapkan menjadi matang dan mapan.

Namun seperti kita ketahui harapan dan ikhtiar itu tidak selalu berkarib dengan kenyataan. Antara harapan dan kenyataan tidak selalu sejalan. Beberapa pemain timnas U-19 yang pernah kita elu-elukan sekarang entah ke mana rimbanya. Bisa dihitung dengan jari pemain yang pernah membanggakan Indonesia dengan trofi Piala AFF U-19 yang menunjukkan perkembangan baik di level klub maupun timnas saat ini. Selebihnya? Entah di mana mereka berada dan apa yang sedang mereka lakukan saat ini.

Bukan hal aneh para pemain yang cemerlang di usia muda lantas layu tak lama berselang. Ibarat kembang, luruh kuncup sebelum berbunga. Selain paling nyata terjadi di tanah air, nasib seperti itu bertebaran pula di beberapa negara. Bila kita sedikit membuka data yang ada di internet akan kita temukan nama-nama seperti Peter Coyne, John Bostock, Nil Odartey Lamptey, dan Freddy Adu. Pemain yang disebutkan terakhir pernah disebut-sebut sebagai titisan legenda sepak bola Brasil, Pele. Tetapi sayang kebesaran Adu hanya berakhir di prediksi dan sanjungan sesaat.

Timnas U-19 saat juara Piala AFF 2013/Kompas.com
Timnas U-19 saat juara Piala AFF 2013/Kompas.com
Kita kadang terlalu cepat termakan euforia dan puja-puji. Timnas U-19 besutan Indra Sjafri menjadi contoh paling nyata. Ada kebanggaan, tetapi kemudian hanya sesaat saja. Saat baru menjadi juara tingkat Asia Tenggara saja kita merasa sudah seperti menjadi juara dunia. Mereka diperlakukan dengan sangat istimewa, bahkan bak selebriti dengan beragam agenda yang tak punya sangkut paut dengan sepak bola.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun