Tentang Bahagia

02 Desember 2016 18:31:41 Diperbarui: 02 Desember 2016 18:33:07 Dibaca : Komentar : Nilai :

Bahagia itu kita yang ciptain, bukan mereka – Radit dan Jani

Itulah kalimat yang paling saya suka dari film Indonesia, Radit dan Jani. Saat saya mendengar kalimat itu, seketika itu juga saya berpikir, bahagia itu ada, bahagia itu terasa ya karena diri kita masing-masing. Dan menurut saya, bahagia itu pilihan. Kita bisa mendapatkan bahagia dari banyak cara, tinggal kita yang memutuskan. Bahagia bisa didapat dari ‘apa’, ‘siapa’, ‘bagaimana’. 

Bahagia bisa didapat dari barang-barang yang sudah lama kita incar dan akhirnya kita dapatkan. Bahagia bisa didapat dari orang-orang yang memberikan kita perhatian lebih. Orang tua yang menanyakan keadaan kita, teman-teman yang menciptakan tawa lepas setelah seharian berkutat dengan tugas, seorang pacar yang memberikan pelukan sebagai tempat kita ‘pulang’, atau dari siapapun itu. Atau bahagia bisa didapat hanya dengan bersyukur.

Bersyukur setiap paginya saat kita bagun tidur. Cara saya adalah lipat tangan, tutup mata, “trimakasih Tuhan untuk satu hari baru yang telah kau berikan”. Entah, dengan cara itu, hari yang saya syukuri itu dapat lebih mudah saya mulai. Bersyukur untuk segalanya. Sebuah keburukan yang terjadi di satu hari, menurut saya juga harus disyukuri. Dari sebuh keburukan itulah kita lebih mengerti hidup. Dari sebuah kepahitan itulah kita tau bahwa Tuhan mengawasi kita. Dari sebuah tangisan lah kita mengerti tertawa lebih indah. 

Dari sebuh keterpurukan lah kita mengerti rasanya bangga untuk bisa bangkit kembali. Tuhanlah yang tau batas-batas keburukan dan batas-batas umatnya. Lagi-lagi harus kita syukuri. Tapi saya tahu, bersyukur untuk sebuah keburukan sangatlah susah. Sesusah itu. Saya dan kamu, belum cukup paham bagaimana bisa bersyukur diatas sebuah keburukan. Yang ada kita malah mengeluh, bertanya-tanya, dan mengucapkan kata ‘mengapa’ beribu-ribu kali.

Bahagia itu susah-susah gampang. Pasti ada yang menangis saat kita tersenyum, dan ada yang tersenyum saat kita menangis. Tapi kembali kepada diri sendiri. Kalau saya, apalah arti ucapan orang, yang penting saya bisa menciptakan bahagia saya sendiri,  bisa melukis senyum diwajah saya sendiri. Tentu saja dengan cara yang positif bukan dengan merugikan orang. 

Bahagia tak perlu dicari, bahagia tak perlu dikejar, bahagia bisa kita ciptakan sendiri. Bahagia saya tak sama dengan bahagiamu, bahagia  dia tak sama dengan bahagia lainnya. Bahagialah dengan cara yang memang kau suka

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana

Featured Article