Mohon tunggu...
Memei Landak
Memei Landak Mohon Tunggu... -

Selanjutnya

Tutup

Lyfe

Happy New Year 2017, Keep Jatuh Cinta and 'Kepo'

10 Januari 2017   17:09 Diperbarui: 10 Januari 2017   17:11 171
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Dari zaman AADC 1 sampai Dian Sastro beranak dua, dari zaman surat-suratan sampai mensyen-mensyenan, yang asyiik dari jatuh cinta selain tentu saja sensasi deg-deg ser, drama mak tratap dan tampang malu-malu pikachu waktu bertemu adalah tentu saja kembali menggeloranya naluri adiluhung seorang manusia, naluri apakah itu ? Ya, sohih, naluri kepo.

Lho kalian jangan buru-buru nyinyir, mendiskreditkan seseorang yang kebetulan diberkahi Gusti dengan kegemaran unik ini. Sungguh kalian tidak berhak menertawakan keagungan dan keluhuran naluri ini kecuali kalian memang termasuk golongan orang-orang yang suka berdua-duaan dalam gelap-gelapan. Bagi makhluk dalam golongan ini tentu cahaya terang merupakan musuh keduanya. Iya, karena musuh utamanya adalah kejombloan. Lagian kalau sendirian itu namanya uji nyali, Mz.

Apa hubungan cahaya terang dengan kepo? Kalian pikir Bapak Thomas Alva Edison berhasil menemukan lampu pijar karena apa? Ya, salah, yang betul karena jatuh cinta. Kalian boleh protes, ngeyel, tidak percaya tapi begitulah adanya pemirsa. Harus berlapang dada.

Jika kalian belum mampu berlapang dada menerima kenyataan ini, saya anjurkan untuk menenggak bodrex atau paramex kemudian siapkan mental untuk menyimak penggalan kisah Thomas Alva Edison berikut ini.

Konon dulu ceritanya Mas Thomas kala itu punya bibrikan, sepikan, gadis beruntung itu bernama Margarette Konstantine Ahanna, panggil saja Markonah (udah ndak usah tanya-tanya mbah gugel, percaya saja sama saya, simbah lagi khusyuk ngudud ndak bisa diganggu).

Sebagaimana lazimnya pemuda yang sedang dilanda asmara, Mas Thomas mulai bergerilya (bukan, bukan meniru gaya strategi kampanye salah satu calon gubernur DKI yang ganteng-ganteng swag itu lho ya, ini lebih pada kesadaran bahwa sejatinya cinta adalah perjuangan, ehem, merdeka!) kepo sana-sini, sampai membuat daftar “hal-hal apa saja yang disukai dan tidak disukai” Markonah. Konon menurut desas-desus yang beredar dikalangan internal burung, belio sering kehabisan kuota hanya gara-gara keseringan ngepoin Mb Markonah. Luar biasaah.

Nah ditengah aksi sekrolingnya itulah, Mas Thomas menemukan sebuah fakta menegangkan bahwa Mb Markonah dicuitannya mengatakan ia phobia gelap-gelapan. Bukan-bukan, ini bukan kode. Ini tidak seperti kode-kode genit status facebook ukhti-ukhti gemes minta segera dihalalkan (meski tidak punya kecengan). Ini jauh dari remeh-temeh itu, ini tentang hubungan kausalitas antara kepo, asmara, dan penemuan bola lampu oleh Mas Thomas. Monggo, bagi yang berminat mengajukan ini sebagai judul skripsi. Hitung-hitung latihan uji nyali.

Sebagaimana lumrahnya kegigihan seorang pemuda demi bibrikannya, Mas Thomas tulus dan ikhlas melakukan penelitian sebanyak 9.955 kali, ini beneran memang sebanyak itu, hingga akhirnya berhasil menemukan bola lampu yang menyala. Coba bayangkan apa yang terjadi andai Mas Thomas mendengar nyinyiran-nyinyiran kalian dan urung menekuni hobi keponya? Gelap hubungan, eh, hidup kita, Mz.

Jadi, bagaimana, masih berani meremehkan the power of kepo? Kecuali kalian memang termasuk golongan makhluk yang suka dua-duaan dalam gelap-gelapan. Semacam genderuwo dan kuntilanak, gitu ya. Konon karena hubungan gelap keduanyalah tuyul, jenglot, anabel, dan valak lahir meramaikan khazanah persetanan dan industri perfilman. Ya, terserah situ sih kalau kekeuh mau jadi setan. Mau main filem apa, Mz? Jomblo dalam kubur ?

Eh, ngomong-ngomong selamat tahun baru 2017, semuanya. Maaf telat ya, ngucapinnya, soalnya di dunia kegelapan, tahun barunya diundur seminggu lagi. Bisa gitu ya? Ho oh.

Tahun boleh baru tapi nilai-nilai kekepoan harus tetap dilestarikan, ya. Andai UNESCO lebih peka, mereka sudah pasti mengakui, tidak bisa tidak, bahwa nyinyir, eh, maksud saya kepo adalah salah satu warisan budaya bangsa. He’em.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun