PILIHAN HEADLINE

Wae Rebo, Negeri di Awan nan Menakjubkan

15 Maret 2017 17:32:46 Diperbarui: 16 Maret 2017 18:12:02 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Wae Rebo, Negeri di Awan nan Menakjubkan
dokumentasi pribadi

Datanglah saat bulan purnama, maka kekagumanmu akan tempat ini akan berlipat.

Ketika saya melihat lebih banyak orang memilih menikmati Flores dengan mengunjungi pulau-pulaunya dan pantainya yang berpasir putih, tujuan utama saya saat di Flores justru jauh dari pantai, jauh dari keramaian, sebuah kampung yang terletak di tengah hutan dan kelilingi lembah. Yep, sebuah kampung yang sudah mendunia, namanya Wae Rebo.

Bermalam di Labuan Bajo, saya menyewa sebuah mobil untuk mengantarkan saya ke Wae Rebo. Bila di awal saya mendengar biaya sewa mobil terkesan mahal, setelah melakukan perjalanannya, saya pun merasa itu angka yang wajar. Tarif sewa mobil dari Wae Rebo antara 700 ribu – 1 juta rupiah per hari. Jadi, jika tujuannya hanya Wae Rebo, butuh dua hari, berarti dikali dua.

Dijemput sopir dan seorang teman di hostel, kami memulai perjalanan Pukul 5 pagi dari Labuan Bajo. Saya bersyukur start-nya sepagi itu karena saya bisa menikmati pemandangan matahari terbit di sepanjang jalan. Ah, keindahan alam Flores sungguh luar biasa. Perjalanan panjang dan berkelok tak jadi membosankan karena mata dimanjakan dengan pemandangan sawah dan bukit yang indah.  

Sepanjang jalan menuju Wae Rebo, pemandangannya sungguh indah. Jadi sering brenti dan foto foto.
Sepanjang jalan menuju Wae Rebo, pemandangannya sungguh indah. Jadi sering brenti dan foto foto.

Setelah 7 jam di mobil (beberapa kali naik-turun sih untuk sekadar meluruskan kaki atau menikmati pemandangan) tibalah kami di Desa Denge, desa terakhir di kaki bukit di mana mobil mobil pengunjung biasa parkir. Disambut gerombolan anak pencari kayu bakar, agak serem karena mereka semua bawa parang. Hahaha….

Ini nih, anak anak yang menyambut saya di kaki bukit. Serem ya, mereka baw parang semua.
Ini nih, anak anak yang menyambut saya di kaki bukit. Serem ya, mereka baw parang semua.

Gerimis menyambut di awal pendakian. Ah, senangnya. Saat melakukan perjalanan di hutan, hujan dan becek adalah situasi yang selalu saya nantikan. Entahlah, itu membuat saya semakin menikmati petualangannya. Perjalanan menuju Desa Wae Rebo terbilang mudah bagi orang-orang yang sudah terbiasa mendaki gunung. Jalannya nanjak santai. Tentu jalurnya tanpa halangan karena jalur ini adalah satu-satunya jalur yang dilalui oleh warga setiap harinya. 

Trek ringan yang sangat menyenangkan
Trek ringan yang sangat menyenangkan

Sekitar 3 jam perjalanan, tibalah kami di sebuah rumah kayu atau pos terakhir sebelum memasuki Desa Wae Rebo. Di pos ini terdapat sebuah keuntungan yang sengaja disediakan bagi pengunjung. Para pengunjung harus memukul kentungan ini sebagai penanda bagi warga desa bahwa mereka kedatangan tamu. Dari pos terakhir ini, butuh waktu sekitar 10 menit lagi untuk tiba di desa.

Ini dia pos terakhir yang ada kentungannya. Jangan lupa di bunyikan ya kentungannya supaya mereka tahu kita datang.
Ini dia pos terakhir yang ada kentungannya. Jangan lupa di bunyikan ya kentungannya supaya mereka tahu kita datang.

Suasana damai seketika menyeruak di antara desiran angin lembut dan kabut tipis menyambut kedatangan saya di Wae Rebo. "Ya Tuhan, terima kasih atas kesempatan yang Engkau berikan bagi saya untuk bisa melihat tempat indah ini," gumam saya seketika.

Tampak 7 bangunan berbentuk kerucut yang disebut Mbaru Niang yang dibangun mengelilingi sebuah halaman luas. Yang terbesar dan di ujung atapnya terdapat sepasang tanduk, diperuntukan sebagai bangunan utama tempat para tetua desa atau kepala adat menerima setiap pengunjung yang wajib melapor sebelum melakukan aktivitas apa pun di desa ini sekaligus upacara penyambutan. Ini ritual wajib sebagai bentuk permohonan izin kepada roh para leluhur mereka bahwa kita akan bermalam di tempat mereka.

Selamat datang di Wae Rebo
Selamat datang di Wae Rebo

Setelah melapor, saya pun diantar menuju ‘kamar hotel’. Tampak sebuah ruangan luas yang di sekelilingnya telah terpasang tikar dilengkapi bantal dan selimut. Tiba di sana saya dapati sudah ada beberapa pengunjung lain yang tiba lebih dulu. Disambut hangat warga desa dengan suguhan kopi, teh, dan obrolan santai. Mereka menunjukkan fasilitas MCK yang tersedia di sebelah bangunan yang mereka jadikan tempat menginap para pengunjung. Berada di desa yang dikelilingi lembah, saya pun tertarik bertanya jika mereka punya pemandian alam seperti sungai atau aliran air pegunungan. Ternyata ada dan saya lebih memilih untuk mandi di sebuah pancuran di tengah hutan tanpa dinding penghalang. Ayolah, ketika kita berada di alam, kembalilah sebisa mungkin ke alam. Hehehee…

Ini dia nih tempat mandinya. Keren kan. Harus mandi di sini biar paketnya lengkap berada di alam.
Ini dia nih tempat mandinya. Keren kan. Harus mandi di sini biar paketnya lengkap berada di alam.

Di sini, jangan berharap ada sinyal handphone, apalagi koneksi internet. Listrik pun sangat terbatas. Ada listrik beberapa jam untuk keperluan menambah daya handphone atau kamera serta penerangan saat makan malam para pengunjung. Jadi, meskipun tidak ada sinyal atau koneksi internet, mereka masih tetap paham kalau kita butuh baterai gadget tetap terisi untuk foto-foto :D

Suasana menjelang makan malam di dalam Mbaru Niang khusus pengunjung.
Suasana menjelang makan malam di dalam Mbaru Niang khusus pengunjung.

Menjelang malam, ternyata semakin banyak pengunjung yang datang. Terhitung ada 18 orang pengunjung pada saat itu. Saat tiba di Desa ini, saya sudah mengkhayal mulai tertidur saat hari mulai gelap, tertidur nyenyak dan lama hingga bangun segar keesokan pagi. Tapi ternyata tidak kesampaian. Pengunjung lain pada saat itu kebetulan rombongan ABG, mereka ngobrol cekikian hingga larut.

Bangun pagi hari saat matahari terbit adalah sebuah keharusan bagi penikmat pemandangan. Sungguh sempurna suasana pagi itu. Pagi yang damai yang sangat ingin saya nikmati setiap hari untuk beberapa lama. Namun sayang, isi kantong tidak sanggup untuk memenuhi keinginan saya lebih dari semalam di sini.

Pagi hari di Desa Wae Rebo. Gambar di ambil dari taman baca, sebuah bangunan yang posisinya paling tinggi, biasanya dipakai pengunjung untuk menikmati sunrise.
Pagi hari di Desa Wae Rebo. Gambar di ambil dari taman baca, sebuah bangunan yang posisinya paling tinggi, biasanya dipakai pengunjung untuk menikmati sunrise.

Menginap di sini di kenakan biaya Rp 325.000,00 per orang, sudah termasuk makan malam dan makan pagi keesokan harinya.

Satu bangunan Mabru Niang dihuni lebih dari 2 keluarga. Ruangan di dalam Mbaru Niang sangatlah luas, dipisahkan oleh sekat-sekat untuk beberapa ruang menyerupai kamar dan 1 kamar dihuni 1 keluarga. Sisa ruangnya sebagai ruangan umum yang biasa digunakan sebagai dapur dan ruang makan. Dari 7 bangunan, hanya ada 1 bangunan yang diperuntukan bagi pengunjung.

Ah, Wae Rebo, seandainya tarifmu bisa lebih bersahabat dengan kantong saya, saya ingin sekali tinggal lebih lama. Seminggu atau dua minggu. naik-turun bukit, makan dari hasil hutan. 

Sekitar pukul 9 pagi keesokan harinya, saya pun meninggalkan desa ini untuk kembali ke Labuan Bajo setelah sebelumnya menghabiskan beberapa saat mengobrol bersama warga dan bermain bersama anak anak.

Inilah semua anak anak di Wae Rebo. Kecuali yang paling belakang :D
Inilah semua anak anak di Wae Rebo. Kecuali yang paling belakang :D

Mereka sedang sibuk mengangkat kulit kayu manis
Mereka sedang sibuk mengangkat kulit kayu manis

Tips:

  • Datanglah pada bulan-bulan sebelum atau sesudah April – Juli, saat Flores masih agak sepi dari wisatawan mancanegara. Bisa jadi pada saat itu malah wisatawan lokal yang ramai, tapi setidaknya lebih sepi ketimbangan penuh sama lokal dan mancanegara.
  • Jika tidak ingin perjalanan darat terlalu lama, cari penginapan di Ruteng. Dari Ruteng tinggal dua jam lagi ke Desa Denge. Desa Denge adalah desa terakhir sebelum memasuki kawasan perbukitan menuju Wae Rebo.
  • Bawa bekal snack, buah untuk mengganjal perut. Karena menunggu saat makan bersama tiba setelah perjalanan jauh, bikin ga sabar :D.
  • Anak-anak di Wae Rebo akan senang sekali jika pengunjung berbaik hati bawakan mereka oleh-oleh buku mewarnai (pensil warnanya jangan lupa) serta permen atau snack.
  • Saat listrik menyala, siap-siap ambil posisi di tempat nge-charge gadget. Space terbatas saat ramai dan hanya ada listrik beberapa jam.
  • Berada di Wae Rebo saat bulan purnama, pemandangan di sore hari hingga malam jauh lebih indah.

Wisna Wedhana

/casualtraveler

Give me fruits and take me to the woods. I am easy to please.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana